Selain menerpa petinggi negara di dunia, virus corona (Covid-19) juga menyerang Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi. Selain itu, ada sejumlah pejabat daerah seperti Bupati dan Wali Kota terkena virus mematikan ini. Namun, mereka berterus terang dengan pandemi yang ia derita. Misal, Bupati Karawang Cellica Nurrachdiana, Wali Kota Bogor, Bima Aria dan Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana. Saatnya Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah bicara terbuka kepada rakyat, agar jangan ada “dusta” di antara kita.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah juga harus dikarantina selama 14 hari untuk memastikan kelima pejabat Aceh itu tidak ada masalah kesehatan dan terjangkit virus corona. Jangan sampai pejabat Aceh menjadi Reseptor Virus Covid 19 di Aceh

Koko Hariatna Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Banda Aceh

SELASA siang, 24 Maret 2020, sekira pukul 12.00 WIB, saya bertandang ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Seperti biasa, melakukan tugas jurnalistik, memantau perkembangan terkini di rumah sakit plat merah tersebut.

Tentu, terkait wabah virus corona (Covid-19) yang semakin mengkhawatirkan di Aceh, khususnya Kota Banda Aceh.

Walau terasa ngeri-ngeri sedap dan jantung dag dig dug, tugas profesi ini harus saya lakukan, untuk memastikan segala perangkat dan fasilitas yang ada di sana sudah berjalan dengan baik.

Hasil sementara, Pemerintah Aceh memang sudah melakukan berbagai aksi nyata. Misal, melarang warga untuk berkumpul di tempat keramaian seperti warung kopi dan meliburkan anak sekolah. Tapi, bagaimana solusi kepada warga, terutama yang berpengasilan cukup untuk makan sehari? Inilah pertanyaan berikutnya.

“Ya, setelah warung kopi dan pusat keramaian lain ditutup, lalu apa solusi bagi kami rakyat kecil, yang hanya butuh penghasilan untuk satu hari makan,” gugat Amir (40). Dia mengaku seorang penarik becak mesin di Kota Banda Aceh.

Media ini pun mendapat pengakuan serupa dari sejumlah warga. Termasuk para pemilik warung kopi di Kota Banda Aceh.

"Kami sepakat dengan keputusan pemerintah. Tapi, di depan kita memasuki bulan suci ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Kami harus membayar tunjangan hari raya (THR) untuk pekerja, sementara pemasukan minus. Harusnya, pemerintah memberi solusi, bukan hanya sanksi," ungkap salah satu pemilik warung kopi ternama di Banda Aceh.

Nah, agar tak mudah “terhendus” atau ada warga yang mengenal, saya memarkirkan mobil di bagian belakang RSUZA Banda Aceh. Sesekali, beberapa keluarga pasien, ikut melempar senyum. Dan, saya pun membalasnya.

Menariknya, jelang azan shalat zhuhur berkumandang, seorang tenaga medis menghampiri saya. “Bang Shaleh dari Tabloid MODUS ACEH ya,” tanya dia.

Merasa liputan "tertutup" saya terbuka, terpaksa saya mengakuinya. “Betul, apa kabar Dek,” balas saya dengan gaya sok dekat dan akrab.

Lalu, anak muda tadi berbisik. “Jangan sebut sumber dari saya dan dirahasiakan ya. Tolong abang pastikan. Sebab, bisa jadi benar juga tidak. Kabarnya Pak Nova masuk orang dalam pantauan (ODP) suspect corona. Tapi, informasi ini ditutup rapat Dinas Kesehatan Aceh dan pimpinan rumah sakit,” ungkap dia.

Awalnya, informasi ini saya anggap sepele dan kurang yakin. Maklum, saat ini memang berseleweran berbagai informasi soal virus corona. Bahkan, ada yang mendadak jadi “ustad”, pengamat dan dokter ahli.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah saat di Abu Dhabi. Foto: acehonline.co

Entah itu sebabnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) dalam sepekan ini mendeteksi ada sekitar 300-an lebih berita dan informasi soal corona masuk dalam daftar; hoax (berita palsu atau bohong).

Ini sejalan dengan adanya sekitar 800 ribu situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu melalui internet, yang telah salah dimanfaatkan oknum tertentu untuk keuntungan pribadi dan kelompok. Caranya, menyebarkan konten-konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai di masyarakat.

Untuk memastikan informasi tadi, saya pun melakukan serangkaian konfirmasi pada sumber yang layak dipercaya. Salah satunya, Dinas Kesehatan Aceh di Banda Aceh. Ini terkait kabar sepihak bahwa Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, sempat mengalami demam tinggi dan masuk dalam Orang Dalam Pemantuan (ODP).

“Kira-kira begitulah, tapi masih ODP dan ini bisa tertuju kepada siapa saja. Termasuk Anda, bila ada berpergian ke luar negeri dan daerah, segeralah periksa. Misal, di Aceh Utara, banyak TKI dan TKW yang baru pulang dari Malaysia. Kita lihat perkembangan dalam dua pekan ini,” ungkap sumber tersebut, memberi isyarat.

Masih kata sumber itu, penerapan kebijakan ODP merupakan standart yang diberlakukan kepada siapa saja. Tujuannnya, melakukan diteksi dini sehingga cepat ditanggulangi. Bila negatif, maka tak jadi soal.

Data Dinkes Aceh

Pengakuan sumber ini memang ada benarnya. Sebab, untuk memastikan seseorang apakah terserang virus corona atau tidak, dibutuhkan waktu paling singkat 17 hari atau dua pekan. Ini pun harus dibuktikan dengan hasil pemeriksaan laboratorium di Kementerian Kesehatan RI di Jakarta.

Tapi, lepas dari kebijakan yang berlaku tadi. Sinyal dan peringatan dini tersebut sudah disuarakan Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Banda Aceh, Koko Hariatna atau Haji Embong.

Dalam rilisnya kepada kepada media, Selasa, 10 Maret 2020 lalu. Embong meminta lima pejabat Aceh yang kembali dari Uni Emirat Arab (UEA) bersama Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah, untuk dilakukan pemindaian atau scanning dan karantina. Ini sesuai standar WHO untuk memastikan seseorang apakah terbebas dari virus corona atau tidak.

Menurut Embong, kelima pejabat Aceh itu kembali dari kunjungan kerja ke UEA melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (BTJ), Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar.

“Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah juga harus dikarantina selama 14 hari untuk memastikan kelima pejabat Aceh itu tidak ada masalah kesehatan dan terjangkit virus corona. Jangan sampai pejabat Aceh menjadi Reseptor Virus Covid 19 di Aceh,” ujarnya.

Kelima pejabat Aceh tersebut adalah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh Dr. Aulia Sofyan, Staf Gubernur Aceh Ir. Iskandar, M.Sc, Vice President PT Perta Arun Gas Iskandar Zulkarnain dan Kepala Seksi Promosi DPMPTSP Aceh Riadi Husaini.

Faktanya, walau ada desakan dari YARA, namun hingga kini tak ada tanda-tanda atau informasi lanjutan kepada media pers, apakah kelima pejabat tadi, telah melakukan pemeriksaan kesehatan. Perlakuan ini jelas berbeda dengan yang dialami rakyat kelas bawah. Misal, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, yang kembali ke Aceh.

DBS

Lantas, benarkah Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah masuk dalam ODP? Dua sumber kompeten yaitu, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto dan Juru Bicara (Jubir) Pemerintah Aceh, Saifullah Agani, yang dihubungi media ini, Selasa (24/3/2020), tak menjawab konfirmasi yang disampaikan melalui pesan WhatAspp (WA).

Begitupun, kepada laman aceHTrend.com, Kepala Biro Humas dan Protokoler Pemerintah Aceh Muhammad Iswanto, Jumat, 20 Maret 2020, membantah kabar yang sempat beredar luas di media sosial, bahwa Nova Iriansyah mengalami demam tinggi dan sempat menolak untuk menerima tamu.

“Gak ada, Bang. Tadi siang baru tinjau RSUZA dan Posko BPBA. Saat ini sedang video conference dengan Forkopimda dan masih beraktivitas seperti biasa,” jelas Iswanto, membantah isu bahwa Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah sedang mengalami demam  dan mulai menolak menerima tamu. Semoga.***

MODUS INDEPTH

Bercermin dari Kejujuran Bima Aria dan Cellica

"Tadi sore, Kamis (19/3/2020) melalui sambungan telepon Bapak Gubernur Jabar menghubungi saya untuk menyampaikan hasil tes COVID-19 yang saya jalani 2 hari lalu dan saya dinyatakan positif. Tentu walau tidak ada gejala yang signifikan, hanya batuk-batuk kecil".

Begitu tulis Wali Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat pada akun instagramnya, Jumat, 20 Maret 2020.

Bima Arya memastikan, dirinya akan mengikuti aturan protokol dan prosedur, terkait penanganan pasien yang terinfeksi virus corona. Ia akan melakukan isolasi dan mempercayakan penanganan di RSUD Kota Bogor.

"Saya memutuskan untuk tetap mengikuti semua protokol dan prosedur menjalani isolasi sendiri dan mempercayakan sepenuhnya kepada RSUD Bogor untuk menangani ini," tulis Bima Arya.

Selain itu, Bima Arya memberikan imbauan kepada seluruh masyarkat Kota Bogor. "Saya mengimbau kepada seluruh warga Bogor untuk betul-betul menjaga kesehatan, berhati-hati, jaga jarak, dan jaga diri, tidak usah bepergian keluar rumah apabila betul-betul tidak mendesak," tegas Bima.

Selanjutnya kata politisi PAN ini. "Saya juga mempercayakan penanganan dari COVID-19 di Kota Bogor, kepada Wakil Wali Kota Kang Dedie A Rachim beserta jajaran Pemkot yang Insya Allah bekerja keras, memastikan ikhtiar kita untuk menangani COVID-19 di Kota Bogor secara maksimal," tambahnya.

Bima juga meminta warga tidak meremehkan virus corona. Terakhir, tak lupa ia meminta doa dari masyarakat khususnya Kota Bogor agar diberikan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.

"Warga Bogor, COVID-19 ini bisa mengenai siapa saja, tetapi juga sudah banyak yang sembuh dari virus ini. Jadi tetap optimis namun selalu juga berhati-hati, jaga-jaga, dan jaga jarak, saya meminta doa kepada semuanya, ini cobaan bagi saya dan keluarga. Insya Allah kita dikuatkan dan saya juga mendoakan semua warga Bogor untuk selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT," tutup dia.

Kini, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto berstatus sebagai Orang Dalam Pemantauan atau ODP virus corona. Itu terjadi, setelah dia pulang dari negara Turki dan Azerbaijan, Senin, 16 Maret 2020.

Selain Bima, ada empat orang lainnya yang turut berstatus ODP, yakni istri Bima Arya, Yane Ardian. Ikut dalam status ODP lainnya adalah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPT-SP) Firdaus, Kepala Bagian Pemerintahan Setda Kota Bogor Adi Novian, dan Bagian Kerjasama Pemkot Bogor Ara Wiraswara.

Empat orang tersebut ikut mendampingi Bima Arya saat melakukan kunjungan kerja ke Azerbaijan, salah satu negara yang telah terpapar virus SARS-Corv-2.  Bima mengaku, tidak memiliki gejala demam, flu, maupun batuk, usai pulang dari luar negeri.

Meski begitu, Bima bersama empat orang tersebut diimbau untuk melakukan karantina di rumahnya masing-masing selama masa inkubasi atau 14 hari dan dipantau oleh petugas kesehatan.

"Saya mengikuti instruksi dari Kemenkes dan Dinkes. Walaupun sampai saat ini tidak ada gejala, saya sehat, tidak ada keluhan, tapi sekali lagi untuk mengantisipasi tetap saya harus dipantau," ucap Bima pada sejumlah media pers cetak dan siber, Selasa, 17 Maret 2020.

Nasib serupa juga dialami Bupati Karawang Cellica Nurrachdiana. Dia dinyatakan positif terinfeksi virus Corona atau COVID-19. Informasi itu disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menggelar konferensi pers di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa, 24 Maret 2020.

"Satu kepala daerah di Provinsi Jawa Barat yang melakukan dan hasilnya positif adalah Bupati Karawang Ibu Cellica. Beliau memberi tahu saya dan saya pun sudah mengetahui hasilnya. Saya juga minta izin untuk melaporkan," kata Ridwan Kamil.

Menurut Ridwan Kamil, Bupati Cellica sudah empat hari mengisolasi diri di rumah dinasnya. Sebab, dia khawatir terpapar COVID-19. Pasalnya, ia pernah berinteraksi dengan sejumlah orang yang terindikasi positif COVID-19.

Sekitar dua pekan lalu misalnya atau Senin (9/3/2020), Cellica menghadiri Musyawarah Daerah (Musda), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Barat di Hotel Swiss Bell Inn, Kabupaten Karawang.

Saat itu Cellica duduk di kursi VIP, satu deret dengan Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana, yang dinyatakan positif Corona. Hingga saat ini, kata Ridwan Kamil, sudah ada tiga kepala daerah di Jabar yang terpapar virus tersebut.

"Pertama Wali Kota Bogor, kedua Wakil Wali Kota Bandung, dan ketiga Bupati Karawang. Ini adalah hasil tes mandiri yang hasilnya dicek di lab kami sendiri," ujarnya.

Dengan dinyatakannya Cellica positif, total tamu positif Corona kluster 'Musda Hipmi' berjumlah enam orang. Lima orang lainnya yang sudah terbuka di antaranya Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana.

Kini, Yana tengah diisolasi di salah satu rumah sakit. Empat orang lainnya berdasarkan informasi yang diterima adalah staf khusus Gubernur Jabar, eks anggota DPRD Jabar, dan dua pejabat Pemprov Jabar.

Salah satu pejabat Pemprov Jabar yang merupakan asisten daerah mengakuinya melalui pesan singkat kepada detikcom. "Benar (saya positif)," katanya.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana dinyatakan positif virus corona dan telah diisolasi selama 11 hari. Sebelum dinyatakan positif corona, Yana Mulyana mengikuti beberapa kegiatan. Terakhir kali, Yana hadir saat stimulasi di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak, 13 Maret 2020.

Saat di rumah sakit tersebut, Yana sempat mengingatkan masyarakat agar waspada pada DBD. Yana juga sempat hadir di suatu acara seminar di Karawang. Dilansir dari Tribunjabar.id, Yana Mulyana juga sempat mengunjungi sebuah gedung safety center di Bandung, 12 Maret 2020.

Saat itu, Yana datang bersama jajaran staf Pemkot Bandung. Sementara itu, pada 27 Februari 2020, Yana sempat berkunjung ke Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) bersama dengan Kabagops Polrestabes Bandung.

Kedatangan Yana ke stadion itu, terkait rencana Pemkot Bandung untuk memfungsikan kembali stadion tersebut. Sebelum dinyatakan positif, Yana pernah meminta agar warga Bandung menunda perjalanan ke China.

Namun, saat itu ia mengaku tak bisa mencegah jika ada WNA China yang datang ke Bandung. Imbauan tersebut disampaikan Yana Mulyana di Balai Kota, Senin (27/1/2020). "Jika perjalanan tidak terlalu penting, lebih baik tunda saja sampai ada kejelasan dan aman," ujar Yana Mulyana.

Saat itu ia mengatakan, Pemkot Bandung tak bisa mencegah penyebaran virus corona di Kota Bandung. Untuk itu, ia meminta agar masyarakat waspada dan jika demam di atas 38 derajat celsius disertai batuk pilek dan sesak napas segera menghubungi call center 119.

"Yang bisa dilakukan hanyalah melindungi dan menjaga diri. Misalnya dengan memakai masker jika akan mendatangi keramaian seperti bandara, terminal, atau pasar dan mall," ujar Yana saat itu.

Dan secara jujur, Wakil Wali Kota Bandung akhirnya mengumumkan dirinya positif corona melalui akun Instagram @kangyanamulyana, Senin (23/3/2020). Dalam video tersebut, Yana terlihat menggunakan masker warna hijau.

"Saya Yana Mulyana Wakil Wali Kota Bandung, setelah mengalami demam dan melakukan tes corona Covid-19 beberapa hari yang lalu, dan hari ini hasilnya telah keluar, dan dinyatakan saya positif corona Covid-19," kata Yana dengan suara bergetar.

Di statusnya, Yana bercerita bahwa saat ini sudah menjalani isolasi selama 11 hari.

"Assalamualaikum warga Bandung sadayana, hasil swab test saya hari ini telah keluar dari Dinkes Prov. Jabar, dan dinyatakan saya positif covid 19. Ada pun saya telah mengisolasi diri selama 11 hari, dan akan dilanjutkan beberapa hari ke depan. Dengan segala kerendahan hati, saya mohon doa dari warga Bandung sekalian," begitu tulis Yana di akun instagramnya.

Nah, bagaimana dengan Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah serta kelima pejabat Aceh tersebut yaitu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh Dr. Aulia Sofyan, Staf Gubernur Aceh Ir. Iskandar, M.Sc, Vice President PT Perta Arun Gas Iskandar Zulkarnain dan Kepala Seksi Promosi DPMPTSP Aceh Riadi Husaini? Harusnya memang, mereka menjelaskan secara terbuka kepada rakyat? Kita tunggu.***