Sebagai Ibukota Provinsi Aceh, geliat Kota Banda Aceh tentu tak pernah berhenti dengan aktivitas pemerintahaan dan bisnis. Namun, kepanikan seakan "mewabah", terkait berbagai larangan dan peringatan, saat virus Corona (Covid-19) mulai "menyerang" denyut nadi Kota Gemilang. Kegalauan semakin bertambah ketika kasus demam berdarah dengue (DBD) menduduki posisi tinggi. Berikut Liputan Wartawan MODUS ACEH, Cut Mery.

Dinas Kesehatan Aceh memang tidak menyediakan masker, karena semua akan minta, karena stok kami terbatas. Kami mengutamakan bagi penderita bukan yang sehat

dr. Edrin Koordinator Posko Covid-19 Provinsi Aceh

ERNI (40) hanya bisa pasrah, upayanya untuk mendapatkan masker pupus sudah. Padahal, alat pelindung mulut ini menjadi kebutuhan utama bagi dirinya, suami serta tiga anaknya yang mulai beranjak remaja.

Tentu bukan tanpa alasan. Seperti ribuan ibu rumah tangga lainnya di Kota Banda Aceh dan kabupaten serta kota di Aceh. Kegelisahan mulai melanda, di tengah virus Corona (Covid-19), yang mulai meresahkan warga Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Masalahnya, dia bukan tidak berusaha. Tapi, kondisinya memang langka. Sejumlah apotik dan depo obat yang dia datangi, para penjual mengaku kehabisan stok. “Maaf Kak, sudah habis sejak dua minggu lalu. Kami pun kesulitan untuk mendapatkannya,” ungkap seorang penjual.

Jumat siang, 20 Maret 2020, Erni yang juga warga Gampong Pineung, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, mendatangi beberapa apotek. Salah satunya di pertokoan Jalan T. Iskandar, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh.

Hasilnya, lagi-lagi dia terpaksa pulang dengan tangan kosong. Selain masker, yang paling diburu saat ini juga hand sanitizer. Kedua benda tersebut menjadi barang langka.

Ironis, Pemerintah Aceh dan Kota Banda Aceh hanya bisa menyeru, meminta warga agar tidak keluar rumah dan berkumpul di tempat keramaian. Selain itu, mengunakan masker dan mencuci tangan dengan sanitizer.

Selebihnya ya tidak ada. Alasan paling jitu, masker juga langkah di pasaran. Jika pun ada dana Rp5 miliar yang akan digelontorkan Pemerintah Aceh. Namun, tak tahu harus beli dimana?

“Ya, apa susahnya sih bagi Bapak-Bapak itu kalau hanya sekedar bicara. Yang kami butuhkan saat ini aksi nyata seperti penyediaan masker. Tak usah gratis, dijual pun pasti kami beli. Saat seperti inilah seharunya pemerintah itu hadir, bukan asyik pencitraan di media pers dan sosial,” kritik Erni.

 

Suasana di Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh Besar, Aceh. Foto: acehonline.co

Koordinator Posko Covid-19 Provinsi Aceh, dr. Edrin mengatakan, otoritas terkait saat ini tidak bisa berbuat banyak, terutama mengenai permintaan masker yang membludak.

Alasannya, otoritas terkait tidak membagi-bagikan masker gratis karena akan menimbulkan lonjakan permintaan dari masyarakat. "Dinas Kesehatan Aceh memang tidak menyediakan masker, karena semua akan minta, karena stok kami terbatas. Kami mengutamakan bagi penderita bukan yang sehat," jawab Edrin, saat dikonfirmasi media ini Jumat malam di Banda Aceh.

Hal paling penting, kata Edrin, masyarakat menjaga pola hidup sehat. Untuk pencegahan, salah satunya membiasakan diri mencuci tangan terlebih dahulu sebelum dan sesudah melakukan sesuatu.

Mencuci tangan dengan cairan alkohol sebagai pengganti hand sanitizer diperbolehkan menurut Edrin. Terutama yang kadar alkoholnya 70 persen. Maklum, cairan alkohol sering digunakan sebagai antiseptik, pembersih luka dan alat medis. Disebut-sebut dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

Lantas, bagaimana dengan kondisi warga Kota Gemilang, Banda Aceh? Ancaman di depan mata adalah, virus Corona dan demam berdarah (DBD). Soal virus Corona misalnya, Kota Banda Aceh menjadi sangat rawan dan sensitif. Sebab, setiap hari ada ribuan orang yang keluar dan masuk ke kota ini. Termasuk para turis asing yang transit, menuju Kota Sabang.

Selain itu, Kota Banda Aceh juga memiliki pusat keramaian seperti mall dan kuliner, termasuk warung kopi, yang melayani warga kota ini. Selain itu, memiliki rumah sakit rujukan seperti, Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Rumah Sakit Meuraxa dan swasta lainnya. Jadi, memudahkan bagi warga kota yang sewaktu-waktu butuh perawatan dan pemeriksaan.

Itu sebabnya, bagi sejumlah warga Aceh diperantuan, lebih memilih untuk kembali (pulang) ke Banda Aceh. Apalagi, sejumlah kota besar di Indonesia, mulai memberlakukan warganya untuk tidak keluar rumah.

“Banda Aceh relatif lebih aman dan nyaman dibandingkan kota lain,” kata Yeni (40), seorang warga turunan kepada media ini, Jumat siang di Banda Aceh.

Selama ini, Yeni berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Dia memilih pulang ke Banda Aceh dan berkumpul bersama keluarga, karena di kota kelahirannya ini, dinilai lebih steril dari virus corona. Ditambah lagi, ada kebijakan libur sekolah dan kuliah bagi pelajar dan mahasiswa di seluruh Indonesia.

“Ya, hitung-hitung sekalian liburan. Makanya, saya ajak suami dan anak-anak untuk bertemu neneknya dan saudara lainnya di Banda Aceh,” jelas Yeni.

Data RSUDZA.

Lalu, bagaimana dengan kasus Demam Berdarah Dengue atau DBD yang berjangkit di Kota Banda Aceh? Simak saja, Dinas Kesehatan Aceh mencatat pada Januari 2020, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Aceh yang ditularkan dari nyamuk Aedes Aegypti dengan angka tinggi yaitu mencapai 179 kasus.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman saat dijumpai wartawan MODUSACEH.CO di ruang kerjanya, Kamis sore, 5 Maret 2020.

Mirisnya, kasus demam berdarah yang paling tinggi justeru terjadi di Kota Banda Aceh yaitu sebanyak 45 penderita, di susul  Pidie 32 penderita dan Bireuen 24 penderita.

Sumber: Dinkes Kota Banda Aceh

Kata Iman, DBD mengalami peningkatan dua tahun sekali tergantung musim penghujan di suatu daerah.  Karena banyaknya tampungan air dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam memperhatikan jentik-jentik nyamuk.

"Saat ini lagi musim penghujan, apalagi khususnya di Banda Aceh yang merupakan daerah endemis atau daerah rawan DBD, jadi jangan anggap remeh," kata Imam mengingatkan.

Dia berharap, masyarakat  hidup bersih dengan menggalakkan satu rumah satu pemantau jentik-jentik. Misal, ada orang yang memantau  penampungan air dan  membersihkan bak mandi seminggu sekali.

“Tempat gantungan baju juga perlu di awasi. Misal baju yang baru saja dipakai dan digantung bisa menjadi sarang nyamuk demam berdarah, karena nyamuk suka dengan bau anyam baju," jelasnya.

Selain itu, masyarakat perlu menjalankan 3 M plus. Yaitu; membersihkan atau menguras tempat penampungan air, menutup rapat-rapat tempat penampungan air, dan  mendaur ulang tempat yang memiliki potensi kembangbiakan nyamuk.

"Plusnya adalah, masyarakat menanam lavender ataupun tanaman yang tidak disukai nyamuk, atau jika mau menanam bunga yang ada airnya, cobalah beri ikan pemakan jentik seperti ikan cupang dan ikan laga," saran Iman. 

Menurutnya, DBD merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Pada tahun 2019 misal, kasus penderita Demam Berdarah Dengue di Aceh mencapai 2.386, yang meninggal dunia sebanyak enam orang.

Sebab itu dia menyarankan, jika ada keluarga yang mengalami demam selama tiga hari tanpa alasan yang jelas, ada baiknya langsung dibawa berobat.

Di sisi lain, data Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menunjukkan. Kasus DBD tahun 2018 lalu mencapai 105. Kasus tertinggi di Kecamatan Meuraxa (23 kasus), Kecamatan Jaya Baru (13 kasus) dan Kecamatan Baiturrahman (11 kasus).

Tahun 2019  angka DBD semakin meningkat yaitu 344 kasus dan yang terbanyak di Kecamatan Syiah Kuala (60 kasus), Kuta Alam (49 kasus), Kecamatan Jaya Baru (42 kasus), Meuraxa (41 kasus),  Jeulingke (20 kasus) dan yang meninggal sebanyak 1 orang.

Sedangkan awal tahun 2020 sampai dengan tanggal 2 Maret, kasus DBD sudah mencapai 62 kasus. Dan kawasan rawan bergeser ke Kecamatan Kuta Alam (11 kasus), Kecamatan Syiah Kuala dan  Bandar Raya (10 kasus).

Sementara Kecamatan Meuraxa dan Lhueng Bata (7 kasus), Biturahman dan Ulee Kareng (3 kasus), Kuta Raja (2 kasus).

Pasien memenuhi ruang IGD RS Meuraxa Banda Aceh. Foto: aceh.tribunnews.com

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh, Dr Nuraihan mengatakan, berdasarkan data dapat dilihat bahwa Kecamatan Kuta Alam dari tahun ke tahun menjadi kawasan paling banyak mengalami DBD.

Katanya, Kecamatan Kuta Alam memang agak bermasalah dengan lingkungan dan prilaku masyarakatnya yang kurang memperhatikan lingkungan tempat tinggalnya.

Pada dasarnya nyamuk DBD berkembang biak di air yang tergenang. Misal di saluran parit yang tergenang air serta air yang ada dalam rumah rumah masyarakat. "Kebiasaan ibu-ibu sekarang memasukkan bunga hidup ke dalam pot di rumah. Namun airnya tidak ganti dan tak pernah mau manaburi Abate. Selain itu ketika tergenang air hujan lupa dibuang,” jelasnya, Senin, 10 Maret 2020.

Sebab itu, Dinkes Kota Banda Aceh maupun  tenaga kesehatan yang ada di Pukesmas  selalu menganjurkan 3M plus, yaitu mengubur, menanam dan mendaur ulang. Diakuinya, sering melihat selokan seputaran rumah  warga Banda Aceh, airnya tak mengalir akibat bercampur kaleng bekas dan ban bekas.

Selain itu, banyak saluran (got) yang tersumbat dan rusak akibat bangunan baru yang mulai tumbuh bak jamur di musim hujan. “Ya, misalnya pembangunan kawasan pemukiman baru serta pertokoan di kawasan terbuka yang selama ini menjadi  sarang nyamuk,” jelasnya.

Efek lain, lahan hutan kota juga mulai menjadi sempit, jika tak elok disebut hilang.

"Seharusnya dibersihkan dan diperbaiki kembali, begitu ada air yang tergenang dan pekerjaan selesai, sehingga tidak menyebabkan selokan dan parit (got) mampet. Jadi, bukan berarti menunggu tiga hari dan sampai ada yang tergenang," saranya.

Dia menilai, walau pun setiap gampong sudah mengelola dana desa secara mandiri. Namun terkait pembangunan selokan, irigasi dan saluran air belum maksimal. Dia menduga kepala desa (keuchik) tak melakukan konsultasi dengan pihak terkait.

"Seharusnya berkonsultasi ke Dinas PUPR Kota Banda Aceh. Bagaimana membangun saluran sesuai dengan standar. Sekarang banyak ditemukan irigasi sudah bangus namun airnya tidak mengalir atau tergenang," jelas Nuraihan.

Selain itu,  cuaca tidak menentu juga menjadi timbulnya jentik jamuk. Misal, sedang musim kemarau tiba tiba hujan. Sayangnya, ketika terjadi hal demikian masyarakat lupa gotong royong.

Kata Nuraihan, masyarakat hanya menghubungi Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh untuk melakukan fogging. Padahal fogging punya standarisasi sendiri. Arinya, fogging harus dilakukan sangat hati hati. Jika terbukti benar ada kasus DBD baru dilakukan. Kalau melakukan fogging sembarangan dikawatirkan nyamuk justru menjadi lebih kuat.

"Kenapa harus terbukti DBD? Karena kalau sembarangan  melakukan fogging  bisa menyebabkan nyamuk jadi lebih kuat. Sehingga pada saat fogging yang sebenarnya nyamuk sudah mempan dan kebal,"sebutnya.

fogging disebut mengandung zat kimia. Jika salah pengunaan, justru dapat mengakibatkan keracunan seperti menggangu pernafasan hingga menyebabkan elergi ringan dan berat.

"Yang paling bagus saya pikir mengubah prilaku dan menjaga kebersihan lingkungan serta menaburkan Abate, karena  kita merupakan daerah tropis. Tiba-tiba kemarau dan tiba-tiba hujan," sarannya lagi. 

Nah,  dalam penaburan Abate, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh terkendala dengan  keterbatasan sumber daya manusia (SDM) untuk mengawal 90 gampong di Banda Aceh.

Sebab itu, pihaknya  membentuk Jumantik atau juru pemantau jentik yang sebelumnya dilatih pada setiap gampong. Satu gampong ada tiga orang memantau ada atau tidaknya kasus DBD.

"Rumah sekeliling daerah rawan akan turun jumantik, mereka juga memberi laporan bulanan ke Dinkes Kota Banda Aceh. Satu gampong ada 100 rumah yang harus dia pantau," sebutnya.

Jika kedapatan kasus DBD di satu gampong misalnya, pihak Dinkes Kota Banda Aceh akan membekali para jumatik ini dengan penaburan Abate di daerah tersebut.

"Ditingkat Pukesmas sendiri ada namanya pelaksana program DBD, juga kita lakukan pembagian abate. Jadi, usaha kita sudah ada, tinggal masyarakat membantu kami membasmi DBD melalui perubahan prilaku," jelasnya.

Sayangnya jumantik yang dibiayai untuk perpanjangan tangan Dinkes Kota Banda Aceh ini malah tak berjalan. Karena para jumantik yang terlatih berubah ubah setiap tahun.

"Mereka kita biayai  sebagai perpanjangan tangan di tingkat gampong untuk memantau. Tahun ini sudah kita latih ternyata waktu ada Surat Keterangan (SK) dari Keuchik orangnya sudah lain, sehingga harus kita latih lagi dari awal," ceritanya.

Selain itu dia menemukan kasus, para Jumantik membuat laporan palsu yang tidak akurat berdasarkan hasil data di lapangan. Kondisi tersebut dirasa penting dibahas, karena laporan yang disampaikan para kader jumantik tak sesuai fakta.

"Misal laporan jumantik di suatu daerah tidak ditemukan jentik, tetapi laporan di Pukesmas kita dapati ada kasus DBD dan kasus itu sudah kami lakukan fogging. Laporan  inikan menjadi bias," ungkapnya.

Saat seperti itu, para kader berdalih jika wilayah yang diperiksa pada kawasan lain dan sebagainya. Seharusnya para kader telah dilatih untuk memeriksa wilayah rawan yang dianggap beresiko tinggi DBD, sesuai dengan standar Dinkes.

"Tidak sekedar asal membuat laporan. Karena laporan yang diberikan kami serius menindak lanjuti", ungkapnya.

Namun para jumantik terkadang juga terkendala dalam memantau jentik nyamuk DBD di rumah warga. Karena biasanya penghuni rumah tidak ada dan pulang bekerja  sore hari.

"Si kader kesulitan masuk rumah untuk memeriksa kebersihan maupun di sekeliling rumah. Tapi  kalau pintu pagar tidak dikunci kader bisa masuk," katanya.

Disamping itu dia menyarankan kepada Keuchik agar giat melakukan gotong royong dalam wilayah gampongnya sendiri dan menetapkan pilihan kader yang di SK-kan agar memilih orang yang sudah dilatih Dinkes Kota Banda Aceh.

"Yang terlatih itu sebaiknya di SK-kan, bukan orang-orang di luar itu. Jangan tiba tiba yang dilatih lain, yang di SK-kan sudah lain lagi," harapnya.

Nah, inilah ancaman virus corona dan DBD di depan mata. Cerita tentang nelangsa warga Kota Gemilang.***