Breaking News

YARA Aceh Barat Pertanyakan Tenaga Kerja, Diduga PT. Mifa Kalang-kabut

YARA Aceh Barat Pertanyakan Tenaga Kerja, Diduga PT. Mifa Kalang-kabut
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Perwakilan Kabupaten Aceh Barat menilai. Perusahaan tambang batubara PT. Mifa Bersaudara, seperti kalang-kabut melakukan penyempurnaan data tentang persentase jumlah tenaga kerja lokal dan luar Aceh.

Dugaan ini usai YARA mengirim surat permintaaan dokumen kepada perusahaan bersangkutan.

Bahkan, Ketua YARA Aceh Barat, Hamdani menuturkan, usai melihat penempelan dokumen lowongan tenaga kerja pada perusahaan tambang PT. Mifa Bersaudara, di kantor Disnaker Kabupaten Aceh Barat, Meulaboh, Rabu (15/08/2018).

Padahal tayangan surat permintaan dokumen dari YARA Aceh Barat, disampaikan kepada perusahaan tersebut, Kamis 9 Agustus 2018.

Namun tiga hari berselang, tepatnya Minggu 12 Agustus 2018 (saat hari libur kerja), PT. Mifa Bersaudara terkesan sangat mendadak membuka lowongan tenaga kerja.

“Ada apa ini, mengapa tiba-tiba saja membuka lowongan tenaga kerja secara resmi yang diterbitkan pada hari libur kerja (Minggu). Apakah ingin menutupi kuota persentase tenaga kerja 70% warga lokal dan 30% pekerja luar yang tertera dalam nota kesepatan,” kata Hamdani.

Beberapa waktu lalu, YARA Aceh Barat sempat menerima pengaduan dari warga lokal, tentang sulitnya lowongan tenaga kerja di PT. Mifa Bersaudara. Tapi kini, mengapa sangat mendadak perusahaan ini membuka lowongan kerja. “Ada apa ini?” tanya Hamdani.

Menelusuri Nota Kesepakatan bersama antara Pemerintah Aceh Barat dengan PT. Mifa Bersaudara terbitan 22 November 2007 lalu, yang berlaku selama 15 tahun atau sampai tahun 2022 mendatang. Kesepakatan ini sah berlaku usai ditandatangani kedua belah pihak.

Dalam pasal 5, menjelaskan tentang tenaga kerja dan teknologi. Merincikan pada ayat 1 pihak kedua (PT. Mifa Bersaudara) telah setuju untuk merekrut 70% tenaga non skill, termasuk tenaga keamanan yang berasal dari dan atau penduduk setempat, yang memiliki KTP Aceh Barat.

Kecuali jumlah tersebut tidak mencukupi atau tidak tersedia saat proses rekrutmen dilakukan.

Kata YARA, proses rekrutmen dilakukan secara bertahap, sesuai kebutuhan serta dapat melibatkan pihak pertama, yaitu Pemerintah Aceh Barat.

Sementara ayat 2, pihak kedua, yakni perusahaan, telah setuju memprioritaskan kesempatan kerja kepada putra-putri Aceh sebagai tenaga skill dan profesional, jika tenaga-tenaga tersebut tersedia.

Selanjutnya, jelas Hamdani MoU antara perusahaan dengan pemerintah Aceh Barat, pihak kedua wajib melakukan alih pengetahuan dan teknologi kepada staf dan karyawan yang berasal dari Aceh.

“Telah menjadi rahasia umum, jika perusahaan ini menolak warga lokal menjadi karyawan, dengan alasan tidak memiliki skill dan sertifikat kemampuan khusus. Untuk apa juga Nota kesepakatan ini? Yang mengharuskan 70% tenaga kerja lokal non skill. Fakta di lapangan bertolak belakang,” kata Hamdani.

Yang sangat disesalkan YARA Aceh Barat, jelas Hamdani pihak Disnakertransmigrasi Kabupaten Aceh Barat, tidak memiliki data kongkrit tentang jumlah rill tenaga kerja pada aktivitas batubara milik PT. Mifa Bersaudara.

Padahal dalam proses rekrutmen tertera dalam nota kesepakatan, mengarahkan Pemerintahan Aceh Barat, melalui instansi terkaitnya dapat dilibatkan dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

“Jangankan dilibatkan, di CC atau laporan jumlah tenaga kerja dan vendor mitra aktivitas produksi PT. Mifa Bersaudara saja, tidak diterima Disnakertransmigrasi Kabupaten Aceh Barat,” ujar Hamdani.

Sementara data yang dimiliki YARA, usai menyurati Disnakertrans Kabupaten Aceh Barat, data yang diperoleh dari instansi ini, memiliki 212 orang pekerja atau karyawan di PT. Mifa Bersaudara.

Namun usai dipelajari, persentase 70% warga lokal masih sangat diragukan. “Ragu persentase itu? Dugaan saya, apakah benar pekerja asal Meulaboh, dengan memiliki KTP setempat atau hanya mengantongi surat domisili semata. Makanya akan kami verifikasi keabsahan data karyawan yang ada di tangan YARA,” ucapnya.***

Komentar

Loading...