Yang Terhempas dari Kursi Wakil Rakyat

Yang Terhempas dari Kursi Wakil Rakyat
Foto: Dok.MODUSACEH.CO

Sejumlah caleg petahana DPD dan DPR RI serta DPR Aceh harus gigit jari. Mereka terhempas dan tak terpilih kembali sebagai wakil rakyat Aceh pada kontestasi demokrasi, 17 April 2019. Tunggu lima tahun berikutnya.

MODUSACEH.CO | UJIAN ketokohan Ghazali Abbas Adan pada kontestasi Pemilu di Aceh terjawab sudah. Senator produk Pemilu 2014 ini, bisa bersiap-siap hingga akhir September 2019 untuk angkat kaki, meninggalkan kursi di Senayan, Jakarta.

Maklum, dia tak terpilih kembali alias kandas pada Pileg, 17 April 2019. Dari empat senator Aceh yaitu Rafly, Fakrurrazi dan Sudirman (Haji Uma), hanya Ghazali Abbas Adan yang terhempas. Khusus untuk Rafly, dia kembali sebagai anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Gagalnya mantan Abang Jakarta era 70-an ini memang banyak faktor. Selain bergesek secara langsung dengan Partai Aceh (PA), karena berbagai pernyataan terbukanya di media, seperti posisi Lembaga Wali Nanggroe Aceh dan bendera Aceh. Kinerjanya selama lima tahun sebagai senator asal Aceh juga kurang mengeliat.

Jika pun ada hanya sosialisasi empat pilar kebangsaan. Itu pun terkesan asal jadi dengan melibatkan pemuda dan mahasiswa dari kalangan terbatas. Selebihya, terutama aksi dan kerja sosial, nyaris tak berbunyi.

Ironisnya, Ghazali Abbas juga sempat bersiteru dengan mantan tim sukses atau pemenangannya pada Pemilu 2014 lalu. Perkara tersebut sempat singgah di Mapolda Aceh, karena para pihak saling membuat perkara. Namun, entah kenapa kasus itu pun tak lagi berbunyi.

Nasib apes serupa juga dialami petahana DPR RI. Misal, Zulfan Lindan (Fraksi Partai NasDem) dari Dapil Aceh II yaitu; Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireuen, Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Bersama Zulfan ada Tagore Abu Bakar (PDIP) dan Firmandez (Golkar). Gagalnya politisi senior ini melaju ke Senayan tahun ini, disebut-sebut karena rakyat dari delapan kabupaten dan kota tadi telah bosan dengan kinerja mantan politisi PDIP itu.

Maknanya, amanah yang diberikan satu periode kepada Zulfan, tak memberi dampak maksimal terhadap kemajuan pembangunan daerah serta masyarakat. Penilaian serupa juga disematkan pada Togare, mantan politisi Partai Golkar yang hijrah ke PDIP.

Nah, selama lima tahun sebagai wakil rakyat Aceh di DPR RI, Tagore dinilai hanya berpikir untuk membangun komunikasi dengan masyarakat dataran tinggi Gayo saja (Aceh Tengah dan Bener Meriah). Selebihnya, bisa disebut kurang intensif. Itu sebabnya, baik pada Pemilu 2014 maupun 2019, suara Tagore hanya berkutat pada dua daerah tersebut.

Yang paling anjlok justeru Firmandez. Mantan Ketua Kadin Aceh ini terpaksa menelan pil pahit. Dia gagal untuk kembali ke Senayan.

Kandasnya mantan politisi PKPI ini memang sudah bisa diduga sejak awal. Sebab, selain bergesek secara internal dengan Marzuki Daud (caleg satu dapil), juga dengan fungsionaris DPD I Partai Golkar Aceh dibawah kepemimpinan TM.Nurlif.  Soal Kadin Aceh, juga menuai kontra, khususnya persoalan proses keberlanjutan kepemimpinan.

Sementara di Dapil Aceh I, ada nama Muslim Aiyub (PAN) yang juga harus kembali ke Banda Aceh, karena gagal menuju Senayan, Jakarta. Dia kalah perolehan suara dari pendatang baru, H.Nazaruddin Dek Gam.

Lantas, bagaimana dengan DPR Aceh? Untuk Dapil I misalnya, Ghufran Zainal Ali (PKS) dan Sulaiman Abda (Golkar) gagal menuju kursi DPR RI di Jakarta, disusul Musannif (PPP) yang gagal melangkah ke DPR Aceh di Jalan Tgk Daud Beure-eh, Banda Aceh. (Selengkapnya baca edisi cetak, beredar mulai, Rabu, 15 Mei 2019).***

Komentar

Loading...