Tak Terima Sumur Minyak Ditutup

Warga Ranto Peureulak: Lebih Baik Mati Kebakaran Daripada Mati Kelaparan

Warga Ranto Peureulak: Lebih Baik Mati Kebakaran Daripada Mati Kelaparan
Warga melakukan unjuk rasa menuntut sumur minyak di Ranto Peureulak tidak ditutup. Foto: Dok. MODUSACEH.CO

Aceh Timur | Berusaha menuntut pemerintah untuk tidak menutup lokasi sumur minyak di Gampong (Desa) Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, sebagai tempat mencari nafkah warga selama ini, ribuan masyarakat setempat menggelar aksi unjuk rasa di halaman Gedung Kantor DPRK Aceh Timur, Senin (7/5/2018).

Dalam aksi tersebut, ribuan pendemo menuntut beberapa hal dari pemerintah, diantaranya; menangguhkan penahanan terhadap warga yang telah ditetapkan sebagai tersangka yang saat ini ditahan di ruang tahanan (Rutan) Polres Aceh Timur.

Kedua, menjadikan insiden ledakan sumur minyak yang terjadi pada Rabu (25/4/2018) lalu sebagai bencana daerah, dan mengembalikan pengelolaan sumur minyak yang dianggap illegal tersebut kepada warga dibawah pengawasan pemerintah.

“Kami berharap dikabulkan, sehingga ribuan tenaga kerja yang selama ini mencari nafkah dari hasil pengelolaan sumur minyak di lokasi tersebut dapat kembali bekerja. Jika tidak, maka ribuan masyarakat di sana akan menjadi pengangguran,” kata pendemo dalam orasinya, sebagaimana dikutip Reportase Global.

Pengunjuk rasa bahkan mengaku siap mati kebakaran daripada mati kelaparan. Ungkapan warga itu dituliskan pada spanduk yang diperlihatkan saat menggelar aksi unjuk rasa.

"Lebih baik mati kebakaran daripada mati kelaparan," tertulis di spanduk tersebut.

Bupati Aceh Timur, H. Hasballah HM.Thaib, menjawab pertanyaan perwakilan masyarakat penambang minyak Ranto Peureulak ketika beraudiensi di Gedung DPRK Aceh Timur di Idi, Senin (7/5/ 2018). Foto: Humas Aceh Timur

Menanggapi permintaan dan tuntutan warga, Pemerintah Aceh Timur mengaku akan menindaklanjuti permintaan tersebut untuk diteruskan kepada Pemerintah Provinsi Aceh dan kementerian atau instansi terkait.

“Kami sudah membangun komunikasi dengan berbagai pihak agar sumur-sumur minyak ini dapat dikelola kembali masyarakat. Namun untuk sementara waktu harap bersabar dulu menunggu kebijakan dari pimpinan,” kata Bupati Aceh Timur H. Hasballah HM.Thaib atau populer disapa Rocky.

Sebelumnya, 23 orang meninggal dunia serta puluhan lainnya mengalami luka bakar serius dan hingga saat ini masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, akibat insiden ledakan sumur minyak di Gampong (Desa) Pasir Putih Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, pada Rabu dinihari (25/4).

Warga melakukan aksi unjuk rasa menolak ditutupnya sumur minyak di ranto Peureulak.

Pemerintah Aceh Timur mengaku akan mencari jalan keluar dan solusi terhadap kasus itu, agar ke depan insiden serupa tidak terjadi lagi, sehingga pengelolaan minyak mentah itu dapat dikelola dengan baik dan tidak membahayakan.

Rocky menyebut insiden itu merupakan teguran Allah. "Muda-mudahan tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, ke depan pemerintah akan mencari solusi terbaik untuk masyarakat di sana,” janji Rocky.***

Komentar

Loading...