Breaking News

Pengelolaan Galian C Milik Gampong Tidak Transparan

Warga Puloe Tengoh Blokir Jalan keluar-Masuk Truk

Warga Puloe Tengoh Blokir Jalan keluar-Masuk Truk

Meulaboh | Tidak transparansinya pengelolaan hasil dari usaha Galian C milik Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Puloe Tengoh, Kecamatan Mereuboh, Aceh Barat, memicu kemarahan warga sekitar sehingga memblokir jalur keluar-masuk kendaraan kegiatan itu. Bahkan, diduga pengambilan pasir di gampong tersebut dilakukan tanpa mengatongi izin dari pihak terkait.

Tokoh masyarakat Puloe Tengoh, Muhammad Dahlan mengatakan. Diblokirnya jalan tersebut karena warga kesal akibat sudah berulang kali mempertanyakan hasil dari usaha milik BUMG itu. Namun, tidak pernah mendapat respon baik dari aparat desa. Bahkan kekesalan semakin ditambah ketika Kepala BUMG setempat beragumen bahwa keuangan BUMG tidak ada urusan dengan masyarakat.

“Tidak ada kejelasan, ketika saat rapat malah dikatakan oleh Ketua BUMG, uang BUMG tidak ada urusan dengan masyarakat, mau dibawa kemana saja itu terserah pengurus BUMG, kami dilindugi payung hukum, dan itu buat masyarakat semakin tidak enak hati,” kata Dahlan, Rabu (12/6/2019).

Jalan yang diblokir

Dirinya bercerita, sejak tahun 2017 Galian C di desanya tidak pernah dikelola secara transparan terhadap hasil yang didapat, terlebih lagi untuk pengurusan izin penggambilan pasirnya sudah menghabiskan anggaran Rp 45 Juta. Namun, saat dimintai keterangan soal itu, pihak desa berdalih izin belum keluar masih dalam pengurusan.

“Kita suruh urus sama orang, begitu kata Keuchik, sudah Rp 45 juta dihabiskan tapi sampai sekarang belum bisa dibuktikan akan penggunaan uang Rp 45 juta itu, kalau uang sebesar itu rasanya pasti ada kwitansi atau bukti pembayarannya, aneh jika pengelolaan uang tidak transparan demikian,” jelasnya.

Sebenarnya, Galian C itu sudah ada sejak tahun 2007, namun segala prosesnya legal dan sah hingga tahun 2016, sejak tahun 2017 berubah drastis pengelolaannya, dimana perangkat desa sebelumnya bisa menunjukkan hasil dari usaha Galian C. Namun sebaliknya, pemerintah gampong sekarang malah tertutup dan hanya menunjukkan angka di kertas saja tanpa bisa dijelaskan dengan rinci.

Pemblokiran jalan sudah dilakukan sejak 1 Juni 2019 karena tidak tahan dengan perlakuan apara desa dan pegawai BUMG, ditambah lagi jalan yang digunakan untuk lalu lalang truk pengangkut pasir merupakan tanah mayasrakat. Dengan diblokirnya jalan maka aktivitas Galian C terhenti dan tentu BUMG tidak lagi punya pemasukan.

Lokasi Galian C

 

“Bahkan ada pula per mobil dikutip Rp 5 ribu oleh Keuchik, katanya untuk biaya keamanan, tapi masyarakat tidak tahu siapa pengamanan itu, kalau memang legal kenapa harus takut, ini jelas menambah kecurigaan kami,” ungkap Dahlan.

M. Dahlan yang juga mantan Tuha Peut Gampong Pule Tengoh itu, merupakan orang yang sangat frontal untuk permasalahan ini, sehingga ada beberapa pihak yang mencoba melobinya untuk penyelesaian secara empat mata agar dibuka blokir. Tentu saja ditolak agar masyarakat di sana solid dan tidak dapat diukur dengan hasil kecil yang sifatnya sementara.

Sebenarnya, masyarakat hanya menuntut pengelolaan galian C di sana bisa transparan seperti sebelumnya. Dulu setiap hari besar masyarakat selalu mendapatkan hibah dari hasil BUMG, berbeda dengan sekarang yang hasilnya tidak tahu kemana dan untuk apa saja.***

Komentar

Loading...