Warga Mengeluh Gas LPG Bersubsidi Mahal dan Langka

Warga Mengeluh Gas LPG Bersubsidi Mahal dan Langka
Sejumlah warga menunggu antrian Gas disebuh pangkalan.

Aceh Timur | Sejumlah warga mengeluh akibat kelangkaan Gas LPG ukuran 3 kilo gram di sejumlah wilayah. Bahkan warga mengaku sangat kewalahan untuk mendapatkan gas tersebut.  Jika pun ada, harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) seperti yang telah ditetapkan pemerintah.

Di Aceh Timur pantauan MODUSACEH.CO, sejumlah warga tampak antri di sejumlah pangkalan saat mobil pengangkut gas ukuran melon tersebut dipasok, biasanya warga akan mendapatkan dengan harga berkisar Rp 18 ribu rupiah. Namun lain halnya bagi mereka yang jauh dari pangkalan dan tidak mengetahui mobil pengangkut gas datang. Mereka harus membeli dengan harga Rp 25 hingga Rp 35 ribu rupiah.

"Bukan saja mahal, tetapi juga sudah kita dapatkan, saya bolak-balik nyari dapatnya Rp 30 ribu rupiah, ya terpaksa beli juga dari pada tidak bisa masak," kata Sari (35), salah seorang warga Aceh Timur, Sabtu (24/11/2018).

Pernyataan sama juga disampaikan Ikhwani, ia mengaku mendapatkan gas tersebut dengan harga Rp 30 ribu rupiah. "Dikatakan tidak boleh jual di atas harga Rp 16 ribu rupiah, kenyataan Rp 35 ribu rupiah," kata Ikhwani Zacky.

Ketua Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM) Nasruddin menilai, kelangkaan Gas LPG ukuran melon tersebut  akibat adanya permainan antara pengelola pangkalan dan pengusaha. Ada dugaan gas-gas bersubsidi itu dijual kembali dengan tarif yang jauh lebih tinggi dari pada HET. Dari penjualan tersebut, pemilik pangkalan akan lebih mendapatkan keuntungan serta bisa dijual cepat, hal itu dianggap akan menguntungkan kedua belah pihak. Namun yang terjadi justru masyarakat kembali dirugikan akibat kelangkaan gas tersebut.

"Kita mendesak pihak terkait terutama Diskoperindag Aceh Timur untuk berkoordinasi dengan instansi lainnya, mengambil tindakan tegas terhadap pangkalan nakal bila terbukti menjual gas dengan harga tinggi, serta harus dilakukan razia  ke restoran pengusaha agar tidak terjadi penimbunan. Kalau dibiarkan tentu yang menderita adalah rakyat miskin," tegas Nasruddin.***

Komentar

Loading...