Iklan Ucapan Selamat Puasa Ramadhan
Iklan TRH sambut Puasa Ramadhan 1439

Setelah Delapan Tahun Berlalu

Warga Leupung Belum Nikmati Air Bersih Gratis dari PT. Lafarge Cement

Warga Leupung Belum Nikmati Air Bersih Gratis dari PT. Lafarge Cement
Tangki air yang sudah tidak difungsikan lagi di Gampong Layeun

Aceh Besar | Hingga kini, warga Gampong (Desa) Layeun dan Peulot, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, belum menikmati air bersih yang dijanjikan PT. Lafarge Cement Indonesia dan Holcim di Lhoknga, Aceh Besar.

Padahal, sejak 2010 atau delapan tahun silam, perusahaan semen di Aceh itu telah membangun tangki dan memasang saluran pipa pada rumah-rumah penduduk di sana.

“Ini sangat miris, kita mengenal PT. Lafarge adalah perusahaan hebat. Kenyataannya, apa yang mereka janjikan pada warga tidak direalisasikan. Hingga saat ini, kami belum merasakan air bersih yang dijanjikan PT. Lafarge, setelah delapan tahun mereka hanya memasang instalasi pipa di rumah kami,” ungkap tokoh masyarakat Leupung, Ibnu Khatab pada MODUSACEH.CO, Rabu (9/5/18).

Ibnu mengisahkan, sekitar tahun 2009 silam, PT. Lafarge mulai membangun proyek air bersih untuk warga di enam Gampong, Kecamatan Leupung yaitu, Gampong Layeun, Peulot, Lam Seunia, Meunasah Masjid, Meunasah Bak' U, dan Dayah Mamplah.

20180509-e4dcdef0-0ed9-4e77-969d-4f167cf8f2a7

Bak air yang sudah tidak difungsikan lagi di Gampong Layeun.

Proyek tersebut selesai dibangun satu tahun kemudian atau pada 2010, menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Lafarge sebesar Rp 1,4 miliar lebih.

Dana sebesar itu digunakan untuk pengadaan mesin pompa air dan membangun tiga unit tangki/wadah untuk menampung air. Tangki induk dibangun di kawasan Brayeung, lengkap dengan mesin pompa. Kemudian, tangki kedua dan ketiga dibangun di Gampong Peulot dan Gampong Layeun.

“Awalnya, penyaluran air bersih itu hanya dialiri pada empat Gampong, saja, yaitu: Gampong Lam Seunia, Meunasah Masjid, Meunasah Bak Ue, dan Dayah Mamplah. Itupun, hanya sekitar dua tahun warga menikmati air itu, kemudian tidak dialiri lagi. Kalau, di Gampong Layeun dan Puelot tidak pernah dilari air,” sebut Ibnu kecewa.

Itu sebabnya, dia meminta menejemen PT. Lafarge Cement dan Holcim Indonesia untuk merealisasikan janji mereka, sebab proyek tersebut belum sepenuhnya dirasakan manfaat oleh warga. Apalagi, warga disana sangat mengharapkan air bersih.

Dia mengancam akan mengadukan persolan itu pada Pemerintah Aceh Besar dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, bila manajemen perusahaan semen itu tidak bertindak.

20180509-a1b90714-f49d-4399-a625-b46cd4359513

Tokoh masyarakat Leupung Ibnu Khatab. “Setidakanya, berikan penjelasan kepada kami kenapa hingga saat ini belum dialirkan air. Jangan, setelah membangun meninggalkan begitu saja. Kami telah menunggu selama delapan tahun untuk dialirkan air, dan sekarang satu Gampong pun tidak dialirkan lagi airnya,” ungkap Ibnu.

Kini, wadah yang dibangun juga telah ditinggalkan begitu saja tanpa ada pemeliharaan, begitu juga banyak pipa–pipa yang sudah hancur, sehingga proyek itu terkesan hanya menghambur-hamburkan uang saja. Padahal, bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

“Apalagi, uang CSR itu memang jatah kami sebesar Rp 3 miliar untuk Kecamatan Leupung dan Lhoknga. Maka, kami minta manajemen PT. Lafarge untuk bertanggungjawab,” minta Ibnu dengan nada mengancam.

Seorang anggota Forum Kecamatan Leupung, Herman mengakui adanya kemacetan dalam pendistribusian air pada warga. Namun, pihaknya yang mengaku bertanggungjawab dalam pengelolaan dana CSR PT. Lafarge Cement Indonesia dan Holcim, telah mengalihkan titik sumber air bersih di Alue Ijo untuk didistribusikan pada masyarakat.

"Kalau yang lain-lain jangan ditanyakan pada saya Bang," jawabnya singkat pada media ini, Rabu (9/5/18) sore*** 

Komentar

Loading...