Iklan Ucapan Selamat Puasa Ramadhan
Iklan TRH sambut Puasa Ramadhan 1439

Mensikapi Kondisi Politik Aceh Terkini

Wali Nanggroe Tgk Malek Mahmud Al-Haytar: Elit Aceh Jangan Terjebak Hal Sepele!

Wali Nanggroe Tgk Malek Mahmud Al-Haytar: Elit Aceh Jangan Terjebak Hal Sepele!
Muhammad Saleh/MODUSACEH.CO

Mensikapi berbagai dinamika yang terjadi akhir-akhir ini di Aceh, khususnya menjelang tahun politik 2019 mendatang. Wali Nanggroe Aceh Tgk. Malek Mahmud Al-Haytar berpendapat. Sebaiknya, elit Aceh, baik eksekutif maupun legislatif, tidak terjebak pada hal-hal sepele, sehingga merugikan diri sendiri serta daerah maupun institusi. Pendapat itu disampaikan kepada wartawan MODUS ACEH, Muhammad Saleh dalam wawancara khusus, Jumat tiga pekan lalu di Meuligoe Wali Nanggroe Aceh, Jalan Soekarno Hatta, Lampeuneureuet, Aceh Besar, Provinsi Aceh. Wawancara berlangsung santai, di salah satu ruangan Meuligoe. Saat itu Wali Nanggroe didampinggi staf khususnya Dr. Rafiq serta Ermiadi Abdurrahman, anggota DPR Aceh dari Partai Aceh. Berikut penuturannya.

MODUSACEH.CO | “Kalau ada persoalan, mari sama-sama kita cari jalan keluar. Kenapa itu terjadi? Dan kita putuskan bersama sehingga melahirkan harmonisasi, baik antar elit dengan rakyat dan rakyat dengan rakyat,” saran Wali Nanggroe Aceh.

Diakui Tgk Malek Mahmud Al-Haytar, dinamika politik di Aceh memang sangat dinamis. Ini semua, tak lepas dari kondisi ril yang terjadi. Mulai persoalan narkoba, khususnya sabu-sabu hingga pengunaan media sosial di luar kontrol.

“Tapi yang penting bagi Aceh setelah konflik kemudian damai, kita bersatu membangun Aceh. Bahwa, ada dinamika dan kritik, itu biasa. Jangan emosional. Saya mengalami sendiri, berbagai macam muncul di media sosial terhadap saya, tapi saya tidak peduli masalah itu,” ajak Wali Nanggroe.

20180429-wawancara-khusus-wali-nanggroe-aceh

Nah, jika elit tak mau bersabar dan mengalah, maka pergesekan antar elit dan petinggi akan terus terjadi. Apalagi sempat didahului dengan kata-kata atau kalimat yang dinilai menyudutkan salah satu pihak.

“Kapan selesainya, yang satu puas, satu lagi tidak. Begitulah seterusnya. Yang dapat menghentikan hanya kesabaran dan kedewasaan antar elit,” ungkap Wali Nanggroe Tgk, Malek Mahmud. Itu sebabnya, ketika antar elit bersiteru, imbasnya juga pada masyarakat. Mereka juga jadi emosional.

“Karena itu, menjadi tidak fokus dan hilang serta terjebak pada hal-hal sepele. Makanya, mari kita hitung untung dan rugi dalam menjalankan pemerintahan serta amanah rakyat. Lebih baik lakukan pengontrolan dalam menyelesaikan berbagai masalah, dinamika serta perbedaan pendapat. Itu biasa,” saran Wali Nanggroe.

Begitupun, diakui Wali Nanggroe Aceh, para elit sering lost control dalam memberikan pernyataan dan pendapat kepada publik atau rakyat. Kenapa? “Antara lain pengaruh media sosial. Ya, contohnya saya sendiri, banyak orang bilang macam-macam, tapi saya tidak peduli. Ada orang bilang, Wali begini dan begitu, ya terserahlah! Saya tidak pakai android. Karena itu saya berharap, elit dan pemimpin Aceh jalankanlah misi dan visinya untuk memperbaiki nasib rakyat Aceh menjadi lebih baik dan sejahtera di masa depan,” sebut Wali Nanggroe.

Diakui Wali Nanggroe, rakyat juga tak bisa selamanya disalahkan. Sebab, 30-an tahun lebih konflik dan kemudian berdamai. Rakyat ingin mendapatkan kesejahteraan secara lebih baik.

Lantas, dimana yang salah? “Semua ada kaitan, karena kita manusia biasa dan baru usai konflik serta banyak hal yang harus kita benahi. Bagi rakyat Aceh ingin melihat kemajuan seperti daerah lain, tapi belum tercapai. Memang tidak mudah dalam sekejab, harapan itu bisa terpenuhi. Tapi, inilah yang perlu kita beri pengertian pada rakyat Aceh. Tentu dengan komunikasi yang baik,” saran Wali Nanggroe.

Nah, sebagai Pimpinan Tuha Puet Partai Aceh (PA). Wali Nanggroe Malek Mahmud Al-Haytar juga mengaku punya harapan.

“Saya berharap PA akan lebih baik dan dapat membaca dinamika rakyat Aceh. Sebab, PA lahir dari perjuangan, darah dan air mata. Pelajari kekuatan dan kelemahan selama ini. Lalu, kenapa semua itu bisa terjadi dan bagaimana mengembalikan hati serta kepercayaan rakyat pada PA. Soal, kalah dan menang dalam Pilkada itu biasa. Dan, kader-kader PA (mantan kombatan GAM) sudah saatnya melihat realitas yang terjadi selama ini dan perlu dicari jalan keluar bersama”.

20180429-wawancara-khusus-wali-nanggroe-aceh02

Sebagai partai terbuka, menurut Wali Nanggroe Aceh Malek Mahmud Al-Haytar, PA wajib mendengar, suasana lahir dan batin rakyat Aceh. Walau pun dia paham, untuk menjadi seorang pendengar yang baik amat sangat sulit.

“Karena itulah, saya minta PA membuka kesempatan kepada pihak luar, selain mantan kombatan GAM. Alhamdulillah, itu sudah mulai terjadi. Misal, ada Dr. Rafiq, salah satu pengurus saat ini. Memang, banyak pihak yang ingin bergabung ke PA. Tapi, masih ada juga yang ragu-ragu karena dinominasi mantan kombatan. Saya senang dan saya mau dirangkul semuanya. Ibarat sebatang pohon, kita perlu tunas-tunas yang baru. PA, bukan milik mantan kombatan dan GAM, tapi milik semua rakyat Aceh,” papar Wali Nanggroe Aceh.

Khusus untuk Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Wali Nanggroe Aceh berpesan. Fokuslah bekerja pada pembangunan dan kesejahteraan rakyat Aceh.

“Jalanlah terjebak pada hal-hal sepele. Apalagi merespon berlebihan di media sosial. Beda dengan media mainstream, facebook itu tak punya kode etik. Karena itu, setiap orang bebas berbicara. Bahkan dengan akun palsu. Jadi, jangan habiskan energi,” pesan Wali Nanggroe Aceh.

Lalu, benarkah Wali Nanggroe setuju dengan hukum cambuk di Lapas? “Saya hanya datang ke situ atas nama Forkompinda. Tapi saya lihat, Kapolda Aceh, Pangdam IM dan Kejati Aceh tidak hadir atau diwakili. Karena itu, saya tidak bicara dan hanya mendengar saja. Saya mau beri pendapat, forumnya tidak tepat. Memang Gubernur Aceh Irwandi Yusuf ada menyebut ingin mengeluarkan Pergub Cambuk di Lapas. Ya, saya dengar dan diam saja. Biasanya, kalau Forkompinda, ada diskusi dan akhirnya ada kata sepakat serta tandatangan bersama. Dan ketika itu, tidak ada tanda tangan bersama,” sebut Wali Nanggroe.

Itu sebabnya, Wali Nanggroe Aceh memberi masukan. “Saya tidak tahu persis isinya, sebab Pergub itu sudah dibuat. Namun saya berharap, sebelum dikeluarkan, harusnya kita duduk dengan semua komponen, termasuk ulama dan jangan terburu-buru,” kata Wali Nanggroe Aceh, Tgk Malek Mahmud Al-Haytar, mengakhiri pendapatnya.***

 

Komentar

Loading...