Di balik Kisruh Plt Ketua MAA

Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malek Mahmud Al-Haythar: Nova Iriansyah tak Bisa Bekerja Sendiri

Wali Nanggroe Aceh, Tengku Malek Mahmud Al-Haythar: Nova Iriansyah tak Bisa Bekerja Sendiri
Wali Nanggroe Malek Mahmud Al-Haytar menghadiri Haul Ke-VI Abu H. Ibrahim Bardan (Abu Panton), di Komplek Dayah Malikulsaleh Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye,  Kabupaten Aceh Utara (Foto: Ist)
Rubrik

Aceh Utara | Kisruh yang kini melanda Majelis Adat Aceh (MAA), terkait penempatan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua MAA, dinilai Wali Nanggroe Aceh Tengku Malek Mahmud Al-Haytar telah mengarah pada iklim tidak sehat.

Itu sebabnya, dia mengajak seluruh elemen rakyat Aceh, baik eksekutif dan legislatif melihat berbagai persoalan, terutama kearifan lokal dan nilai-nila keistimewaan serta kekhususan Aceh dengan kepala dingin dan hati yang jernih.

“Ukuran utamanya adalah, bagaimana merawat dan memelihara perdamaian Aceh yang sudah terwujud melalui MoU Helsinki dan turunannya yaitu UUPA. Bukan semata-mata bersandar pada efektivitas pengunaan anggaran daerah,” tegas Wali Nanggroe.

Pendapat itu disampaikan Wali Nanggroe secara khusus kepada media ini, Senin (25/2/2019) pagi ini disela-sela “Memperingati Haul Ke-VI Abu H. Ibrahim Bardan (Abu Panton), di Komplek Dayah Malikulsaleh Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye,  Kabupaten Aceh Utara.

20190225-wali

Wali Nanggroe menyatakan pendapat itu, mensikapi dinamika yang ada,  terkait kebijakan Plt Ketua MAA. Menurut Wali Nanggroe, transparansi dan akuntabilitas anggaran bagi Pemerintah Aceh dan perangkatnya itu perlu, demi menjalankan pemerintahan yang bersih. Tapi,  jika merusak nilai-nilai perdamaian, tentu harus ditebus dengan harga lebih mahal.

Sebaliknya, jika ada kebijakan dan kerendahan hati dalam melihat dan menjalankan roda pemerintahan, itu lebih baik dan bijaksana. “Apakah saat Aceh dilanda konflik, semua roda pemerintah di Aceh berjalan transparan dan akuntabel. Malah sebaliknya,” gugat Wali Nanggroe.

Karena itulah, mensikapi berbagai perkembangan yang ada, Wali Nanggroe meminta kepada Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah untuk lebih arif dan bijaksana. “Nova Iriansyah tak bisa menjalankan roda Pemerintahan Aceh sendiri,” pesan Wali Nanggroe.

Wali Nanggroe Aceh menyebutkan. Walau dirinya terkesan diam, namun banyak laporan yang masuk dan bukan berarti dia tidak mengikuti berbagai perkembangan sosial, budaya, politik dan ekonomi rakyat Aceh. Hanya saja, sebagai orang tua, dia banyak menahan diri, demi menjaga dan merawat damai Aceh.

“Saya ini pelaku utama perdamaian Aceh. Banyak pesan-pesan almarhum Wali Nanggroe Tgk. Muhammad Hasan Ditiro yang wajib saya jalankan dan merawat seterusnya. Termasuk mensejahterakan rakyat Aceh dan kombatan pejuang GAM. Saya kira mereka sudah cukup banyak bersabar. Jadi, jalankanlah pemerintahan dengan kolektif kolegial atau bersama-sama seluruh potensi rakyat Aceh,” harap Malek Mahmud.***

Komentar

Loading...