Dosen Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Tradisi Membuang Anak

Tradisi Membuang Anak

SATU tragedi pedophilia mengenaskan terjadi lagi di Aceh. Dua ulama busuk yang memiliki pesantren madu di Lhokseumawe, melakukan sodomi terhadap 15 orang santrinya selama bertahun-tahun. 

Sebenarnya kejadian ini telah seringkali muncul di berbagai tempat di Asia Tenggara dimana pranata pesantren ini lahir. Tragedi pedophilia ini memunculkan pertanyaan tentang mengapa orang-orang masih saja “membuang” anak-anak mereka ke pesantren yang belum teruji performa kelembagaannya sebagai tempat pendidikan.

Dalam kacamata sosiologi feminisme, anak adalah beban (Randall Collins, 1987) sehingga membebani orang tua, khususnya ibu dengan beban ganda di ruang publik dan ruang domestik.  

Ibu digambarkan mengemban beban ganda ini karena harus bekerja mencari rezeki ekonomi sembari mengurus rumah tangga. Membesarkan anak adalah urusan domestik yang semakin sulit bertahan. 

Kini, sebuah rumah tangga adalah keluarga batih dengan bapak, ibu dan dua anak. Kemampuan reproduksi ini sebenarnya adalah penyesuaian terhadap situasi krisis ekonomi yang semakin sulit. Maka, orang tua lebih memilih membuang benihnya agar tidak menjadi anak yang akan membebani dinamika keluarga kecil untuk bisa hidup sejahtera. Jika anak banyak, maka sebagiannya akan “dibuang” ke berbagai tempat dimana ada sanak saudara yang mau merawatnya.

Pada zaman sebelum Islam, anak perempuan pernah mengalami masa-masa suram. Terbentuknya budaya membuang anak pada zaman jahiliyah, memposisikan perempuan sebagai sosok yang tidak berharga dimana dulu terdapat tradisi bayi-bayi yang baru lahir dengan jenis kelamin perempuan dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya sendiri karena dianggap tidak berguna.

Perempuan tidak mempunyai ruang kebebasan dan tidak memiliki kesempatan selayaknya peran yang bisa dilakukan laki-laki. Bahkan perempuan sebagai  istri bisa diwariskan dan dipertukarkan sesuka hati laki-laki, tanpa meminta persetujuan istri; seolah perempuan hanya properti belaka, bukan manusia.

Dalam tradisi masyarakat Jawa (kejawen), apabila kelahiran (neptu) bayi tersebut sama dengan ibunya, maka bayi itu harus “dibuang” secara simbolik. Karena kelahiran (neptu-nya) (misalnya: lahir di hari atau malam Kamis kliwon) sama dengan ibunya, maka sesuai tradisi yang ada, si anak bayi ini harus “dibuang”. Pada saat itu si anak bayi “dibuang” oleh orang tuanya, dan diletakkan di atas engkrak (tempat sampah), yang kemudian diambil neneknya secara simbolik. Tradisi ini bertujuan agar nantinya si anak bayi —jika telah besar nanti di suatu hari— tidak bertengkar dengan ibunya. 

Budaya kejawen berharap seorang anak tidak boleh membantah ibunya, tidak boleh ada relasi perdebatan antara yang melahirkan dan yang dilahirkan. 

Tradisi membuang anggota keluarga dalam budaya manusia juga terdapat pada banyak masyarakat lainnya seperti di Jepang, India dan suku-suku di kutub.Pada zaman Jepang kuno ada sebuah legenda: ketika musim paceklik tiba, peristiwa gagal panen mendera dan penduduk kekurangan bahan makanan, lahirlah sebuah tradisi bernama ubasute. Secara antropologis, ubasute dalam bahasa Jepang diartikan sebagai pembuangan nenek ke gunung (yama). Tradisi ini dipercaya pernah terjadi di wilayah pegunungan. 

Dalam masyarakat Jepang, ubasute berarti lebih tragis lagi, yaitu membuang orang yang sudah tua. Pada masa lampau, ubasute dilakukan di hutan, tepatnya di kaki Gunung Fuji, yakni di hutan Aokigahara —dikenal juga sebagai tempat masyarakat Jepang menyudahi hidup.  Pada masa itu, penduduk Jepang mengenal istilah ubasuteyama, yang berarti membuang orang tua ke gunung (ubasute berarti ‘membuang’ dan yama berarti ‘gunung’).  

Pada komunitas kaum teroris Wahabi Takfiri, terdapat praktek familial terrorism dimana anak-anak dan ibunya diikutsertakan untuk “pembuangan” dalam amaliyah serangan isytishad (bom bunuh diri). Amaliyah ini dianggap sebagai amal untuk menyelamatkan istri dan anak-anak dari jangkauan thoghut (musuh) agar tidak bisa  mempengaruhi ideologi aqidah mereka. Membunuh atau membuang anak dalam amal serangan intoleran ini dimaksudkan sebagai mekanisme proteksi diri secara ideologi.

Membuang anak atau membuang anggota keluarga juga bisa diakibatkan oleh situasi penyakit atau krisis sosial. Pada tahun 2018 di Jepang, seorang wanita ditangkap polisi karena membuang ayahnya yang telah renta dan menderita Alzheimer di jalan tol. Ritsuko Tanaka (46) dari Otsu, Prefektur Shiga, mengakui perbuatannya karena tidak mampu mengurus sang ayah.

Tragedi ini terjadi bukan karena krisis ekonomi, melainkan karena krisis sosial dimana kultur mereka tak menyediakan mekanisme resiprokal untuk merawat orang yang sudah melahirkan dan membesarkan diri kita. Ekspresi ubasute juga mudah terjadi dalam situasi bencana alam atau perang (bencana politik).

Pada tahun 2015, seorang pria bernama Katsuo Kurokawa (63) membawa kakaknya, Sachiko, yang cacat ke lereng gunung di Prefektur Chiba setelah gempa bumi menghancurkan rumahnya pada Maret 2011. Sachiko kemudian diperkirakan meninggal secara damai di tepi sungai Obitsu tak lama setelah ditinggal sang adik. Pada masa Romawi kuno dikenal sebuah upacara pembunuhan yang melemparkan pria berusia lebih dari 60 tahun ke Sungai Tiber.

Usia 60-an sebenarnya masih tergolong “pemuda” dalam sistem kategori WHO (World Health Organization). Namun karena mereka sudah sangat membebani secara ekonomi, maka pembuangan orang tua ke sungai ini dikonstruksi sebagai kearifan yang akan menyelamatkan generasi yang lebih muda agar sumber daya makanan tak terkuras habis dimakan oleh orang tua yang tidak produktif. 

Di India, ada praktik euthanasia (pembunuhan karena kasihan) secara sukarela yang dilakukan secara ilegal, yang dikenal sebagai thalaikoothal. Tradisi thalaikoothal dilakukan oleh anggota keluarga yang lebih muda untuk membunuh anggota keluarga yang telah lanjut usia sebagai wujud belas kasihan (mercy killing) untuk meringankan penderitaan orang tua yang sakit atau cacat agar tidak menderita terlalu lama.

Pembunuhan ini bisa terjadi dengan cara-cara yang sangat pasifis dan akan dikenang sebagai pembunuhan yang penuh cinta dan kasih sayang.  Membuang anggota keluarga juga bisa bermakna untuk prosesi penguburan. Masyarakat Eskimo dan suku Inuit mempunyai kebiasaan untuk berjalan jauh di tengah hamparan gurun es untuk meninggalkan anggota keluarga yang telah renta agar meninggal dalam situasi lapar dan hipothermia.

Budaya “penguburan” ini terjadi sebelum anggota keluarga yang renta tersebut meninggal: sebuah cara unik dalam mengatasi sulitnya lahan makam. Perubahan iklim atau bencana hama juga bisa menjadi penyebab munculnya tradisi membuang anggota keluarga yang membebani rumah tangga keluarga.

Misalnya, akibat letusan gunung Asama di tahun 1783 yang memicu kelaparan besar, hingga tenmei atau datangnya serbuan hama wereng atau serangga pemakan tanaman yang menyebabkan gagal panen. Karena kondisi ini, penduduk Jepang melakukan ubasute untuk mengurangi biaya dan 'mulut' yang perlu diberi makan di tengah situasi persediaan bahan makanan sangat terbatas. Dalam tradisi pra-Islam, ada kebiasaan membuang anak di beberapa masyarakat Arab.

Tradisi ini telah menyebabkan munculnya hukum tentang mengasuh anak buangan dalam agama. Tradisi membuang anak umumnya dilakukan oleh orang yang hamil di luar nikah sehingga takut jika anak tersebut lahir akan menyebabkan orang tuanya dihina. Demi mencapai hidup nyaman tak terhina, maka anak haram tersebut dibuang di lokasi yang mudah ditemukan oleh keluarga lain yang akan sanggup yang merawatnya.

Sebuah keluarga dengan anak haram dianggap aib terbesar yang gunung pun tak sanggup menanggungnya. Dalam agama Islam, terdapat fikih tentang hal anak terbuang ini: ketika anak itu ditemukan masih bayi di bawah dua tahun dan kemudian disusui oleh ibu dalam keluarga tersebut maka dalam hal ini ia menjadi anak susuan ibu tersebut, suami ibu ini menjadi bapak susuannya, dan anak-anak dari ibu tersebut menjadi saudara-saudara sepersusuan yang menjadi mahram baginya yang haram dinikahi.

Namun, dalam hal warisan, hubungan persusuan ini tetap tidak menjadikan mereka saling mewarisi karena persusuan bukan salah satu sebab untuk saling mewarisi. Sebagian orang Arab berpendapat seorang bapak mempunyai hak untuk mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Di antara mereka pun ada yang berpendapat bahwa seorang laki-laki tidak dihukum qishas dan tidak perlu membayar diyat (denda) jika membunuh anak perempuannya sendiri (Yusuf Qardhawi, Berinteraksi Dengan Al-Quran, Jakarta: Gema Insani Press, 1999), h.151-152.

Dalam sistem sosial dan budaya seperti ini, maka anak perempuan sangat rentan mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) bahkan sejak pertama kali menghirup udara di dunia, yaitu dikuburkan hidup-hidup begitu lahir sebagaimana tersurat dalam Quran, surah an-Nahl/19:58-59: "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu."

Dalam kajian antropologi, anak adalah aset (Jane Guyer, 1997; Moser 1998) dan berfungsi sebagai bagian dari reproduksi sosial (Townsend, Kertzer and Fricke, 1997) dan reproduksi biologis (Goody, 1982) yang sangat penting bagi keberlangsungan manusia. 

Anak juga bisa memberikan jaminan keamanan eskatologis (eschatological security) bagi orangtuanya.  Anak dianggap sebagai aset yang bisa menyelamatkan orang-tuanya yang tidak memiliki peluang untuk hidup lebih baik di akherat. Anak dianggap asset dalam kepercayaan eskatologis tertentu memposisikan anak sebagai obyek yang harus menghapal isi kitab suci agar bisa memberikan jaminan orang tuanya masuk ke surga. Untuk menghapal isi kitab suci itulah anak harus “disekolahkan” atau dibuang ke pesantren yang menjanjikan kapabilitas tahfiz. 

Anak kemudian harus hidup jauh terpisah dari rumahnya, dijauhkan dari belaian tangan lembut ibunya. Anak tumbuh dalam situasi tanpa kasih sayang ayahnya, ayahnya dipandang seperti bapak kucing yang bisa memakan anaknya sendiri jika sering bertemu di rumah. 

Bahkan banyak pesantren misoginis yang menerima murid sebagai santri yang tidak boleh dikunjungi oleh orang-tuanya. Anak-anak “disandera” oleh pesantren atau panti asuhan dan orang tuanya hanya diberi waktu sebulan sekali untuk bertemu dengan anaknya jika ingin anaknya bisa memberikan eschatological security bagi kedua orang tuanya. Karena pesantren memiliki otoritas mutlak terhadap anak, maka kejadian sodomi atau praktek pedofilia kerap terjadi dan disembunyikan secara rapat demi mengamankan “tabungan eskatologis” orangtuanya. 

Pembuangan anak karena kepercayaan atau agama bukanlah citra kalangan masyarakat Islam saja. Salah satu konsili di Roma menetapkan bahwa anak perempuan adalah hewan najis yang tidak mempunyai ruh dan kekekalan, namun ia wajib beribadah dan berkhidmad agar mulutnya dibungkam seperti sapi dan anjing peliharaan untuk mencegahnya tertawa dan berbicara, karena tawa canda anak perempuan dianggap alat penggoda yang dimiliki setan. 

Salah satu undang-undang Romawi membolehkan orangtua menjual anak perempuannya. Menjual anak adalah cara membuang anak yang sedikit lebih komersil dan berjiwa kapitalistik.***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...