Breaking News

Tiong

Tiong
dok. MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik
Sumber
Muhammad Saleh

MODUSACEH.CO | Nama tiong (sejenis burung beo) kembali menjadi buah bibir. Ini bukan karena burung tersebut semakin langka dan dilindungi oleh negara, sehingga harganya kian melambung tinggi. Tiong yang dimaksud adalah Samsul Bahri Ben Amiren, anggota DPR Aceh dari PNA (Partai Nasional Aceh) yang kini berganti “kulit” menjadi Partai Nanggroe Aceh.

Tiong adalah nama sandi Samsul Bahri saat masih menjadi kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Wilayah Bate Iliek, Kabupaten Bireuen. Tak jelas, kenapa Samsul Bahri memilih nama Tiong sebagai panggilan sandinya. Itu pula sebabnya, setelah damai (MoU Helsinki, 15 Agustus 2005), nama tersebut masih akrab dan kerap menjadi panggilan untuk wakil rakyat Aceh ini.

Memang, saat Aceh masih dilanda konflik bersenjata antara GAM-Pemerintah RI, para kombatan GAM lazim menggunakan nama binatang sebagai sandi, misal tiong (beo), cage serta uleu (ular) dan sebagainya. Bisa jadi, karena mereka bergerilya di hutan dan untuk mengelabui musuh.

Nah, lepas dari posisi Samsul Bahri alias Tiong tadi, burung beo dalam bahasa Aceh memang disebut: tiong. Jenis burung ini pintar berkicau dan menirukan suara serta ucapan manusia dengan sangat fasih. Karena itu, tak heran jika burung ini banyak digemari, bukan saja di Indonesia, tapi juga mancanegara.

Bagi sebagian orang, burung beo atau tiong dipercaya memiliki indera keenam. Itu sebabnya, pada beberapa daerah di Aceh. Bila ada kehilangan atau kemalingan di rumah, salah satu mediasi atau tempat bertanya adalah beo atau tiong, burung yang dilindungi.

Kabarnya, dulu, di rumah ulama kharismatik Abu Tumin Blang Bladeh, Kabupaten Bireuen, ada dua ekor burung tiong (beo). Dia kerap didatangi dan didekati para tamu Abu Tumin sambil bertanya tentang barang mereka yang hilang, baik sengaja (kemalingan) atau tidak, seperti terjatuh.

Itu sebabnya, entah bisa dipercaya atau tidak dengan ucapan tiong atau beo tadi, yang pasti masih ada sejumlah masyarakat Aceh meyakininya. Memelihara burung beo atau tiong di rumah, dapat menjadi ‘pagar’ atau ‘penjaga rumah’. Burung beo atau tiong dapat mendeteksi tamu yang datang, apakah berniat jahat atau tidak bagi si pemilik rumah.  

Saya pribadi punya pengalaman soal ini dan sempat memelihara seekor tiong. Sangkarnya saya letakkan di bagian belakang rumah, berjarak beberapa meter dari kamar tidur utama. Rasa lelah akan pupus saat saya menuju kandangnya dan memberi dia makan.

"Assalamualaikum!" ucapnya kepada saya berulangkali. Walau sudah saya jawab, "Waalaikumsalam!", tetap saja salam tersebut diucapkan berkali-kali. Namun, dia akan berteriak sekuatnya dan memanggil saya, "Papa,, Papa, ada orang,,, ada orang" (seperti anak saya memanggil) bila ada tamu tak dikenal masuk dalam halaman rumah, terutama pada malam hari. Sebaliknya, burung beo juga bisa menjadi ancaman dalam rumah tangga. Itu disebabkan, karena burung beo tak bisa menyimpan rahasia sang tuan.

Alkisah, seorang  teman nyaris bercerai dengan istrinya gara-gara ocehan si Agam (nama beo miliknya). Sekali waktu, si Agam mengucapkan kata-kata, "Bapak ada istri muda, Bapak ada istri muda!" Itu disampaikan saat sang tuan baru kembali dari dinas luar kota (Jakarta) dan melintas di depan sangkar si Agam.

Entah benar teman tadi telah menikah lagi dengan gadis di Ibukota Jakarta, yang pasti mendengar ocehan si burung, sang istri menjadi curiga. "Apa benar ucapan si Agam?" tanya sang istri pada suaminya. Mendapat serangan mendadak tersebut, sang suami menjadi panik dan salah tingkah. “Ah, burung aja didengar,” bantah sang suami.

Begitupun, banyak penggemar burung ini yang kesulitan membedakan jenis kelamin tiong. Sebab beo jantan dan betina memiliki penampilan fisik yang sama, serta kemampuan berkicau yang sama pula. Tapi ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi jenis kelamin burung beo.

Burung beo betina cenderung berdiri dengan kaki yang ditegakkan dan mengangkat kepalanya. Sementara beo jantan lebih sering berdiri dalam posisi seperti membungkuk.

Burung betina mempunyai ukuran atau postur tubuh yang lebih kecil daripada burung jantan.  Dan secara umum, bentuk kepala burung beo betina lebih kecil, lebih panjang, dan cenderung membulat. Adapun bentuk kepala beo jantan tampak lebih besar, ceper, dan berbentuk kotak/persegi.

Selain itu, bentuk paruh burung beo betina panjang dan sempit, sedangkan paruh beo jantan lebih pendek dan lebih lebar. Jengger atau jawer pada bagian telinga burung beo betina berbentuk seperti segitiga sempurna. Pada beo jantan juga segitiga, tapi tidak beraturan. Selain itu, warna jengger pada beo betina memiliki warna lebih terang daripada burung jantan yang lebih gelap.

***

Seorang teman juga bercerita. Saat Aceh dipimpin Gubernur Teuku Hadi Thayeb, ada seekor burung beo alias tiong di Pendopo Gubernuran. Letak sangkarnya persis di salah satu sudut halaman pendopo.

Nah, lokasi ini sering dijadikan tempat istirahat bagi sejumlah supir, baik  Gubernur Aceh maupun pejabat yang bertamu. Entah kebetulan atau memang fakta demikian. Sambil menegak secangkir kopi pahit dan menghisap sebatas rokok kretek, biasanya sang supir saling bercerita perilaku para majikan mereka. Termasuk Gubernur Aceh Teuku Hadi Thayeb.

Syahdan, suatu pagi, usai shalat Shubuh dan sarapan pagi, Gubernur Aceh Teuku Hadi Thayeb keluar ruang pendopo, menuju halaman untuk menghirup udara segar. Betapa kagetnya dia, baru beberapa langkah melintas di depan sangkar burung beo atau tiong tadi, si burung menyebut dirinya, "Pak Gubenur Pelit..Pak Gubernur Pelit!"

Mendengar ocehan itu, Gubernur Hadi Thayeb sempat berang. Dia mencari-cari dari mana suara itu datang. Diketahui kemudian, berasal dari seekor burung beo dalam sangkar. Hari itu juga, dia perintahkan ajudannya untuk menyingkirkan burung tiong tersebut. Benarkah kisah ini? Namanya juga cerita teman.

***

Seekor burung beo Afrika sempat menjadi saksi dalam satu kasus pembunuhan di Amerika Serikat. Si burung meniru suara si korban, seorang suami bernama Martin Duram, terutama saat-saat terakhir hidupnya, sebelum ditembak mati istrinya sendiri, Glenna Duram. “Diam,” kata burung itu dalam sebuah video. “Jangan tembak.”

Meski tak bisa jadi saksi yang memberatkan atau saksi kunci, karena bisa saja si burung meniru dari televisi atau sumber lain. Perilaku burung beo yang bisa meniru suara manusia ini menjadi menarik.

Mengapa burung ini bisa meniru, tak hanya kata-kata dan suara, tapi juga persis suara seseorang? Melalui beberapa adaptasi, burung beo memang bisa melakukan pertunjukan vokal. Rahasianya ada pada sistem suara sebenarnya pada burung ini.

Burung memproduksi suara dengan sebuah organ yang disebut syrinx, yang terletak di atas paru-paru dalam sistem pernafasannya. “Satu set otot yang rumit mengelilingi syrinx dari beo,” kata Irene Pepperberg, peneliti di Universitas Harvard, seperti dikutip Live Science.

Pepperberg terkenal pada penelitiannya mengenai komunikasi dan kognisi pada burung beo. Alex, burung beo Afrika warna abu-abu miliknya, yang mati pada 2007, bisa mengucapkan lebih dari 100 kata, bahkan menciptakan kata unik miliknya.

Menurut Pepperberg, otot rumit itu membuat beo bisa mengontrol suara yang diproduksi. Berbeda dengan burung kebanyakan.

Beo juga bisa menggunakan lidahnya dan buka-tutup paruhnya untuk mengontrol suara, seperti halnya manusia menggunakan lidah dan mulutnya untuk bicara.

Beo atau tiong juga agak berusaha untuk menghasilkan suara yang diproduksi dengan bantuan bibir atau gigi, seperti “buh”, “puh”, atau “la”. Mereka menggunakan kerongkongan untuk seperti bersendawa untuk memproduksi suara P dan B. Lalu beo akan menekan lidah terhadap paru untuk memproduksi suara L.

Burung juga bisa meniru nada dan suara manusia. Alex misalnya, bisa bersuara seperti Pepperberg ketika bicara. Beberapa burung yang dipelihara pasangan suami-istri bisa meniru suara si suami atau istri.

Adaptasi lain yang membuat beo sangat hebat dalam meniru adalah hasil kognitif. Sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan di jurnal PLOS One mendapati bahwa beo punya nuclei atau sekumpulan materi abu-abu di otaknya, yang seperti nuclei, menghasilkan vokalisasi pada burung bernyanyi.

Namun, pada beo ada tambahan “cangkang luar” pada nuclei-nya. Jaringan yang berevolusi setidaknya 29 juta tahun lalu, memainkan peran penting pada kemampuan beo meniru vokal dan suara. Nuclei tambahan ini berkembang baik pada peniru terbaik, seperti beo Afrika.

Kalau di alam liar, burung beo menggunakan kemampuan vokalnya untuk mencari pasangan. Dengan kemampuan mempelajari suara baru selama hidupnya, membantu beo menemukan pasangan baru jika pasangan lama mati. Bahkan, dengan kemampuan itu, beo bisa beradaptasi dengan kawanan baru, sebab tiap kawanan punya dialek yang berbeda untuk memanggil atau bernyanyi.

Lantas, apa kaitannya dengan Samsul Bahri alias Tiong, anggota DPR Aceh dari PNA? Secara langsung memang tak ada. Hanya saja, karena sebutannya serupa, maka sejak dua pekan lalu, nama Samsul Bahri alias Tiong telah menjadi buah bibir di Aceh dan Jakarta. Ini disebabkan, tindakan dan keputusan yang dia ambil.

Pertama, Tiong bersama Kautsar, anggota DPR Aceh dari Fraksi Partai Aceh (PA), mengajukan gugatan judicial review terhadap Undang-Undang Pemilu, yang dinilai telah mengebiri Undang-Undang Perintah Aceh (UUPA). Kedua, karena Tiong mundur dari Ketua Harian Partai Nasional Aceh (PNA) di bawah kepemimpinan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Sadar atau tidak, mundurnya Tiong telah melahirkan berbagai spekulasi di internal PNA serta Pemerintahan Aceh di bawah komando Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Terutama, tentang kisah banyaknya “pawang” di sekitar Irwandi. Jadi, jangan anggap remeh dan sepele. Selengkapnya baca Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, edisi 20, Beredar Mulai, Senin, 11 September 2017***

"Pileg dan Pilpres 2019" - vote sekarang juga -

Komentar

Loading...