Terkait Video dan Pernyataan Cut Linda

Tidak Ada Larangan Ulama Berpolitik

Tidak Ada Larangan Ulama Berpolitik
Dr. H. Syamsuar Basyariah, M. Ag/Foto Juli Saidi
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | di Banda Aceh, akhir Januari 2017 lalu, muncul pernyataan dari salah seorang perempuan yang disebut-sebut Cut Linda, yang dikabarkan sebelumnya salah satu caleg dari partai lokal di Aceh Timur.

Dalam kampanye terbuka dan dialogis pasangan Aminullah Usman-Zainal Arifin di Halaman Parkir Stadion Harapan Dimurthala Banda Aceh, ia mengatakan.

Nyokeh saboh contoh di akhir jameun. Meunyo jamen geu khen sah: al ulama u warisatul ambiya, betoi geupeujak ateuh garis. Yang hana betoi geupeugah hana betoi. Yang hareum geu peugeugah hareum. Teutapi uroe nyoe lahe; al ulama u warisatul fulus (disambut tertawa massa---red). Ulama-ulama yang ek diblo ngon harta dan tahta (Inilah satu contoh di akhir jaman. Dulu, ulama sah disebut warisan para nabi. Berjalan di atas garis. Yang tidak benar diucap tidak benar, yang haram tetap dikatakan haram.

Tapi hari ini lahir; ulama warisan fulus (uang). Ulama sudah dibeli dengan harta dan tahta),” ucap perempuan tersebut.

Pernyataan itu, sekilas memang tidak mendasar atau ada pembuktian berdasarkan fakta-fakta. Maka, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tengku Dirundeng, Meulaboh, Dr. H. Syamsuar Basyariah, M. Ag mengaku tidak seprinsip dengan pernyataan tersebut.

Itu sebabnya, ia berharap pernyataan seperti itu dipelajari dulu, sebelum disampaikan ke ruang publik.

“Saya kurang seprinsip seperti, itu terlalu mengeneralkan yang spesifik. Jadi kondisi itu tidak bisa diberlakukan untuk umum. Kalau ada orang-orang yang berbicara seperti itu, ya dipelajari dulu sebelum disampaikan ke ruang publik. Bahasa-bahasa seperti itu dilatih dulu, atau pelajari dulu kalau ingin saya sampaikan bagaimana,” katanya, di STAIN, Aceh Barat, Rabu (07/02/2017).

Menurutnya, jika ada ulama yang mendukung si A dan B, harus dilihat konteknya. Kata Syamsuar Basyariah, dalam kontek agama, ulama tidak salah dukung-mendukung.

“Malah pemilu itu bahagian dari izjitihat politik, izjitihat yang berjalan di atas koridor hukum. Kedua-dua nya dapat pahala. Itu yang tidak dijelaskan pada masyarakat,” ujar Abi, panggilan akrabnya.

Karena itu, bila ada kelompok-kelompok, yang seolah-olah politik itu kotor, maka ini kurang sehat. Sebab, dalam Islam ada politik, siapa saja boleh berpolitik.

Malah di Iran katanya, tidak bisa jadi Presiden kalau bukan dari kalangan ulama.

“Jadi sistemnya hari ini, orang mencoba menjelekan agama. Padahal banyak juga ulama yang menguasai politik,” kata Dr. H. Syamsuar Basyariah, M. Ag.

Ketika ada pihak yang menyebut ulama mendukung si A dan B, dan dukungan itu bukan karena fulus. Begitu juga kalau ulama yang membawa proposal-proposal, pemerintah sudah menyediakannya, jadi usaha itu untuk kepentingan pembangunan pesantren.

Karena itu tidak salah, memang dibuka ruang pemerintah. Itu bukan cari duit,” ujarnya***

"Pileg dan Pilpres 2019" - vote sekarang juga -

Komentar

Loading...