Jelang Pilkada Aceh 2017

Teuku Kemal Pasya: Peluang Calon Independen Hanya Intat Lintoe

Teuku Kemal Pasya: Peluang Calon Independen Hanya Intat Lintoe
bbc
Penulis
Rubrik
Sumber
Tabloid Berita MODUS ACEH
Banda Aceh | Pengamat Politik Universitas Malikul Saleh (UNIMAL) Lhokseumawe T Kemal Pasya mengatakan, masuknya tiga calon independen dalam bursa calon Gubernur Aceh untuk periode 2017-2022, diibaratkannya sebagai pengantar iringan-iringan pengantin semata (intat linto). Dominasi kandidat parpol dianggap masih lebih besar untuk menang. Pendapat itu disampaikan akademi tersebut pada Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH (kelompok media MODUSACEH.CO), pekan lalu.

Menurut Kemal, dari tiga pasangan calon (paslon) Gubernur Aceh yang akan bertarung yaitu, dr. Zaini Abdullah-Nasaruddin, Abdullah Puteh-Sayed Mustada Usab dan Zakaria Saman-Teuku Alaidin, bukanlah calon yang potensial dipilih. Bahkan, dua di antaranya memilih jalur independen lantaran kalah di sirkuit perebutan kursi partai, sehingga tidak ada ruang partai untuk mereka. Itu sebabnya, mereka mendaftar sebagai calon independen.

Sebenarnya sebut Kemal, kondisi calon independen ini semakin lama kian kurang populer. Salah satu alasannya, karena mereka maju melalui jalur independen juga bukan tokoh yang populis. “Mereka adalah orang-orang yang sudah lewat masa berpolitiknya dan mereka juga tidak menunjukkan peran politiknya selama ini. Ya, kalau saya lihat orang-orang ini hanya ikut proses pilkada, dan tidak cukup serius untuk menang. Kemudian, ketiga calon ini tidak ada visi yang bisa mengikat para pemilih dari kekuatan non partai yang bisa dicuri oleh ketiga calon independen ini,” ujar Kemal.

Di antara ketiga calon itu, Zaini Abdullah alias Abu Doto, sebut Kemal, memang memiliki modalitas yang cukup besar dalam politik. “Memang, di antara ketiga calon independen itu, kans yang agak terlihat adalah Abu Doto. Karena dia sendiri adalah petahana, paling tidak punya dimensi agregasi walaupun tidak cukup kuat,” ujar Kemal.

Kenapa? Kata Kemal, karena Abu Doto juga bukan gubernur yang sepenuhnya berhasil menjalankan Pemerintahan di Aceh dengan baik dan sukses gemilang. Ada catatan-catatan khusus dalam ingatan rakyat Aceh.

Jika dimasukkan ke dalam kelompok partai, ketiga calon independen ini cukup lemah. Abdullah Puteh, misalnya, pernah dipenjara karena kasus korupsi. Bahkan prestasi pertama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanggkap  Abdullah Puteh saat itu.

Lalu papar Kemal, Zakaria Saman (Apa Karya), dia bukan tokoh yang cukup populer di tingkat masyarakat di luar Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Komunikasi publik saat ini juga tidak cukup baik untuk menjelaskan dia memililiki andalan, apalagi ada dugaan kasus yang menyebabkan dia masih bermasalah dengan masa lalu terutama kasus pembunuhan menjelang Pilkada 2012. Salah satunya kasus pembunuhan Cek Gu. Begitu juga Abu Doto, meskipun petahana dia tidak berhasil merebut hati partai hingga akhirnya menunjukkan posisi Abu Doto juga cukup lemah.

Lantas, benarkah mereka tidak cukup untuk diandalkan? Kemal berpendapat,“Iya, makanya mereka memilih jalur independen. Situasi ini berbeda di tempat lain seperti, Ahok (Basuki Tjahya Purnama-Gubernur DKI Jakarta) yang semula muncul sebagai calon independen. Ahok sendiri sudah cukup populer untuk maju sebagai calon independen, tapi beberapa parpol merapat menawarkan jasa politik. Jadi, itu sesuatu yang berbeda jika dibandingkan calon independen di Aceh. Mereka mencoba melobi kekuatan partai tapi partai tidak ada yang tertarik, hingga akhirnya maju sebagai calon independen," ungkap Kemal.

Menurut dosen antropologi Unimal ini, ketiga calon independen itu kalau diakumulasi dengan semua kekuatan, berpotensi berada di posisi tiga terbawah. “Jadi tidak cukup mampu bersaing, paling mereka hanya mampu mengikat di tingkat kerabat dan sentimen daerah. Itu pun tidak cukup banyak, ya paling kalau Apa Karya ya loyalis GAM masa lalu, keluarga Apa Karya sendiri, itu saja,” nilai Kemal.

Terkait basis suara dari ketiga calon ini, Abdullah Puteh menurut Kemal memiliki sebaran suaranya pada sebagian para birokrat masa lalu yang berada di Banda Aceh. Mereka itu birokrat-birokrat tua yang mendapat jasa atau mendapat keuntungan politik di masa Abdullah puteh. Kemudian basisnya di Aceh Timur, dan dari wakilnya barat-selatan. “Kalau daerah lain saya pikir tidak ada yang mau memilih.”

Kalau Apa Karya, ya ditingkat GAM tua, loyalis dia, kampungnya sendiri di Pidie. Demikian pula Abu Doto, paling yang mampu mengikat suara dia yaitu dari keluarganya sendiri kemudian karena dia berduet dengan Bupati Aceh Tengah Nasarudin, ya sebagian suara Aceh Tengah mungkin bisa dialihkan ke Abu Doto, sebut Kemal.

Lantas bagaimana calon pemimpin ideal Aceh menurut Kemal? "Pertama, seorang pemimpin haruslah mempunyai visi. Kedua dia dianggap bisa menjadi harapan para pemilih di tengah kesumpekan politik yang ada. Jadi, ibaratnya dia bisa menjadi alternatif politik di tengah mainstream politik yang tidak ada harapan. Ketiga juga jangan terlalu tua, karena orang tua juga tidak akan dipilih, karena selera para pemilih sekarang itu susah untuk memilih orang tua, yang keempat ya populis. Yang saya katakan bervisi adalah orang yang cukup pintar dalam mengartikulasikan ide-idenya, bukan hanya orang-orang yang mengunyah omongan partai. Kelima berintegritas jadi punya pribadi yang mempesona, omongan dan tindakannya sejalan. Orang-orang yang sederhana, orang-orang yang tidak mengumbar arogansi politik, biasanya pemilih akan memilih tokoh-tokoh yang seperti itu,” ujar Kemal.***

 

Komentar

Loading...