Sehubungan Libur Nasional Hari Raya Idul Adha 2018, Tabloid MODUS ACEH Tidak Terbit, Senin, 20 Agustus 2018. Terbit Kembali 27 Agustus 2018. Redaksi.

Terkait Dugaan Anggota Pansel KIP Aceh dari Unsur Pengurus Parpol

Teuku Kemal Pasha: DPRA Harus Ambil Sikap, Jika Tak Mau Buruk Citra!

Teuku Kemal Pasha: DPRA Harus Ambil Sikap, Jika Tak Mau Buruk Citra!
portalsatu.com

Banda Aceh | Dosen dan antropolog dari Universitas Negeri Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe Teuku Kemal Pasha menilai. Munculnya dugaan salah satu anggota panitia seleksi (pansel) komisioner KIP Aceh dari unsur pengurus partai politik, menjadi persoalan dalam berdemokrasi  di Aceh. Itu sebabnya, Komisi I DPR Aceh harus menjelaskan secara tegas kepada publik.

Kata Teuku Kemal. “Mereka harus mengambil  sikap. Sebab, tidak hanya memperburuk citra Komisi I DPR Aceh, tapi juga memperburuk citra DPR Aceh secara kelembagaan,” kata Teuku Kemal, menjawab pertanyaan media ini, Jumat malam kemarin (9/3/2018) melalui sambungan telpon seluler

Alasan Teuku Kemal, karena ruang politik sangat mengandalkan kepercayaan rakyat. Dan ini, sangat mempengaruhi hasil yang akan di capai. “Bagaimana mungkin nantinya akan menghasilkan komisioner KIP Aceh yang bersih dan terbebas dari kepentingan politik jika panitia seleksi (pansel) masih diwarnai oleh orang-orang dari unsur partai politik,” saran Teuku Kemal.

Masih kata Teuku Kemal. “Karena itu saya masih percaya dengan sikap Ketua Komisi I DPR Aceh, Ermiadi Abdul Rahman yang mengaku akan mengevaluasi dan mengambil sikap tegas. Semoga ini benar-benar dibuktikan, bukan sekedar pernyataan”.

Kenapa? Karena publik sangat paham bahwa pada Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh 2017 lalu, PAN adalah mitra atau koalisi dari Partai Aceh. “Jangan ada kesan bagi-bagi kekuasaan. Dan ini bisa blunder,” kata Kemal.

Sebelumnya, dari hasil penelusuran media ini, Komisi I DPR Aceh, meloloskan anggota Panitia Seleksi (Pansel) calon anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dari unsur pengurus partai politik aktif. Namanya Dr. Nasrulzaman. Ternyata dia masih tercatat sebagai Sekretaris Majelis Penasehat Partai Daerah (MPPD), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Banda Aceh Periode 2015-2020. Ini berdasarkan SK DPW PAN Aceh, Nomor: PAN/01/A/Kpts/K-S/09/II/2016.

Fakta dan data ini, tentu saja bertentangan dengan aturan yang berlaku yaitu UU Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh dan Qanun Aceh Nomor: 5/2012 dan Qanun Aceh Nomor: 6/2016, tentang penyelenggaraan Pemilu di Aceh, terutama syarat calon yang dikeluarkan Komisi I DPR Aceh, Nomor: 01/KOM-I/DPRA/2018, Senin, 8 Januari 2018 lalu.

Nah, pada point kedelapan disebutkan; setiap calon panitia seleksi anggota KIP Aceh, membuat surat pertanyaan tidak pernah menjadi anggota partai politik dan partai politik lokal, bagi yang tidak pernah menjadi anggota partai politik dan partai politik lokal; atau surat keterangan dari pengurus partai politik dan partai politik lokal bahwa yang bersangkutan tidak lagi menjadi anggota dalam  jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir. Buktinya, Nasrulzaman hingga kini masih aktif.

Mendapat informasi tersebut, Ketua Komisi I DPR Aceh Ermiadi Abdul Rahman mengaku kecolongan dengan lolosnya pengurus partai politik sebagai anggota Pansel KIP Aceh bentukan lembaga tersebut. Menurutnya, sebelum diputuskan, dia telah meminta kepada staf untuk melakukan pengecekan ulang, terkait figur dan nama-nama calon. “Saat itu, laporan dari staf clear, makanya saya pikir tak ada masalah. Jika memang temuan data dari MODUS ACEH, benar maka nama dan figur tersebut akan kita evaluasi ulang. Tak tertutup kemungkinan akan kita ganti,” tegas Ermiadi kepada media ini, Kamis sore (8/3/2018).

Terkait pernyataan Ketua DPD PAN Banda Aceh Zainal Arifin  (Keuchik Zainal) seperti diwartakan laman ajnn.net, bahwa saat dimasukkan dalam pengurus, yang bersangkutan tidak tahu. Kata Teuku Kemal, itu urusan internal PAN. “Secara hukum dan data,  SK tadi membuktikan bahwa yang bersangkutan adalah pengurus partai. Agak aneh kalau namanya ditempatkan pada posisi Sekretaris MPPD, tapi tidak tahu,” kritik Kemal.***

Komentar

Loading...