Breaking News

Terkait Beberapa Kali Kerusuhan Lapas di Aceh

Ternyata, Tak Ada Sipir Yang Dipecat

Ternyata, Tak Ada Sipir Yang Dipecat
Azhari Usman/ MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Banda Aceh I Kerusuhan berujung pembakarang sejumlah ruangan di Lapas Kelas II Banda Aceh, beberapa waktu lalu atau Kamis 4 Desember 2018, bukanlah kali pertama terjadi di Aceh.

Kejadian serupa pernah terjadi di Aceh Timur, Lhoksemawe, dan Meulaboh. Ironisnya, walau diketahui ada peran petugas sipir, namun sikap tegas tidak pernah dilakukan. Paling, hanya memindahkan oknum sipir pada Lapas lain. Kenyataan itu bukan isapan jempol belaka, faktanya selama tahun 2017, tidak ada satu orang pun sipir yang dipecat, meskipun melakukan pelanggaran. Termasuk membiarkan napi keluar Lapas secara ilegal. "Memang tidak ada, tapi tiga oknum sipir sudah kita proses pada tahap penyidikan, dan sesuai dengan undang-undang kita potong gajinya 50 persen,” kata Kepala Kanwil Kemenkum dan HAM Aceh A. Yuspahruddin, B.H. Bc.IP.,SH.,MH awak media di Banda Aceh, Senin, (8/1/18).

Namun, kata A. Yuspahruddin, pihaknya tidak pernah mengintervensi pihak kepolisian dalam melakukan penyelidikan terhadap oknum sipir yang diduga melanggar aturan. Misal, jika oknum sipir tertangkap tangan menjadi kurir narkoba, maka pihak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. ”Hasilnya nanti baru kita proses. Kalau sudah diputuskan menjalani kurungan penjara, ini langsung proses pemecatan,” jelasnya.

Terkait temuan sabu, ganja dan kamar mewah pasca kerusuhan di Lapas Lambaro pada 4 Januari 2018. A. Yuspahruddin menjelaskan. Kondisi tersebut sudah jauh hari diketahui. Itu sebabnya, ketika membicarakan hal tersebut dengan Dirjen Lapas di Kementrian Hukum dan HAM RI, dia meminta kepala Lapas Lambaro di ganti, dimana saat itu dijabat oleh M. Drais Sidik. ”Kebetulan di kasih Pak Endang (Ka Lapas Lambaro sekarang). Beliau ini Kepala Lapas terbaik di Indonesia,” cetusnya.

Setelah dua bulan bertugas, kata  A. Yuspahruddin, kepala Lapas Lambaro Endang Lintas, melaporkan pada dirinya tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh napi dan oknum sipir. Laporan tersebut disampaikan A. Yuspahruddin pada Dirjen Lapas, sebab jika memindahkan tiga orang napi yang diduga sering keluar Lapas (Muh, Bah, Gun), pasti akan terjadi gesekan. Bahkan, akan menimbulkan kerusuhan. ”Prediksi itu sudah kita duga. Maka, terlebih dahaulu kami lakukan secara persuasif, tapi juga tidak didengar, maka kita paksa ambil mereka, dan terjadilah kerusuhan,” ungkapnya.

Namun, atas kejadian tersebut, A. Yuspahruddin, meminta seluruh Kepala Lapas dan Rutan di Aceh untuk terus menjalankan perintah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). "Jangan takut. Tindak terus baik napi dan sipir yang tidak mematuhi aturan. Artinya, jangan membiarkan pelanggaran aturan terjadi di depan mata, kita diam.”Harapnya.

Sebelumnya, kerusuhan terjadi di Lapas Kelas II Aceh Lambaro, Aceh Besar. Para narapidana membakar sejumlah fasilitas Lapas hingga semua ruang kerja dan fasilitas lainnya di Lapas hangus terbakar. Kejadian itu didasari, keputusan Kepala Lapas yang ingin memindahkan tiga orang napi berinisial, Muh dan Bah serta Gun. Sehingga Gun memprovokasi napi lain untuk membuat kerusuhan. Kini, satu sipir telah ditetapkan sebagai tersangka, dan 33 orang napi sedang diperiksa intensif oleh aparat kepolisian.***

Komentar

Loading...