Breaking News

Ternyata, Dua Terpidana Korupsi Damkar Telah Ajukan Banding  

Ternyata, Dua Terpidana Korupsi Damkar Telah Ajukan Banding  
Ratziati Yusri dan anaknya Dheni Okta Pribadi, saat mendengar putusan dari MAjelis Pengadian Tipikor Banda Aceh
Penulis
Rubrik

Banda Aceh I Dua terpidana korupsi pengadaan Mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) milik Pemerintah Aceh tahun 2015, Ratziati Yusri dan anaknya Dheni Okta Pribadi, telah  mengajukan banding pada Pengadilan Tinggi Banda Aceh, atas putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Banda Aceh, beberapa waktu lalu. “Setelah hakim memutuskan bersalah, sekira bulan November 2017, langsung kita memutuskan mengajukan banding,” jelas pengacara kedua terpidana, Darwis, SH pada media ini, di Banda Aceh, Sabtu, (23/12/17).

Menurut Darwis, dasar yang dipakai majelis hakim dalam menghukum kliennya sangat dangkal. Sebab, hanya berpatokan pada surat pengesahan dari Kementrian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Aceh. Padahal, surat itu ada. Begitupun, jaksa mempermasalahkan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) tentang pengadaan mobil Damkar. “Itu juga sudah ada sesuai dengan surat yang dibalas oleh Unit Pelayanan Terpadu kantor Walikota Banda Aceh. ”Sekarang hakim meminta semua keuntungan dikembalikan. Padahal, proyek itu selesai dan sudah dirasakan manfaat oleh penerima manfaat,” ungkanya.

 Apalagi, selain diminta mengembalikan uang pengganti yang mencapai Rp 4 miliar lebih. Majelis hakim juga menghukum terpidana dengan hukuman penjara masing- masing selama 7 tahun. ”Ini sungguh tidak masuk akal,  satu orang terpidana itu perempuan tua yang sudah menjadi janda. Tentunya, hakim mempertimbangkan hal tersebut. Maka, sekarang kami sedang menunggu, apakah Pengadilan Tinggi Banda Aceh menerima banding  atau menolak. Besar harapan semoga diterima.” Harap Darwis mengakhiri penjelasannya.

Sebelumnya, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Banda Aceh, Deny Syahputra (ketua) dibantu anggota, M Nazir dan M Fatan Riadhy, Jumat (28/10/17) memvonis tiga terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran modern seharga Rp 17,5 miliar milik Pemerintah Aceh.  Ketiga terdakwa adalah Ketua Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (ULP) Provinsi Aceh, Syahrial, serta Ratziati Yusri dan anaknya Dheni Okta Pribadi masing-masing sebagai Komisaris Utama dan Direktur PT Dhezan Karya Perdana.

Ketiganya, masing-masing divonis tujuh tahun penjara dan membayar denda Rp 200 juta atau bisa diganti (subsider) dengan tiga bulan kurungan. Khusus untuk Ratziati Yusri, majelis hakim menambah hukuman agar membayar uang pengganti sebesar Rp 4,7 miliar.

Majelis hakim berpendapat, terdapat pelanggaran dalam pengadaan mobil pemadam kebakaran modern pemenang tender yaitu PT Dhezan Karya Perdana, namun dinyatakan tidak memenuhi persyaratan. Sehingga terjadinya kerugian negara Rp 4,7 miliar berdasarkan hitungan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh.

“Seharusnya Ketua Pokja mengugurkan PT Dhezan saat pemeriksaan administrasi,” kata Deny. Sementara itu, dalam kasus ini Majelis Hakim Pengadilan Tipikor juga telah memvonis terdakwa lain, Siti Maryami selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat Pembuat Komitmen (KPA/PPK) yang juga Sekretaris Dinas Pendapatan dan Kekayaan Aceh (DPKA). Dia dihukum 4 tahun penjara selama empat tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider dua bulan kurungan. ***

 

 

"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...