Breaking News

Terkait Kasus Pengadaan Lahan di Sabang, Penyidik Kejati Mulai Periksa Sejumlah Saksi (bagian satu)

Terkait Kasus Pengadaan Lahan di Sabang, Penyidik Kejati Mulai Periksa Sejumlah Saksi (bagian satu)
dok. MODUSACEH.CO
Rubrik

Sabang | Setelah melalui serangkaian proses penyelidikan awal, tim penyidik Kejaksaan Tinggi Aceh, mulai memanggil sejumlah saksi, terkait kasus pengadaan lahan di Paya Seunara, Kecamatan Suka Karya, Kota Sabang. Lahan itu digunakan untuk untuk perumbahaan guru di Sabang. Diduga, sekitar satu hektar milik Zulkifli Adam, petahana calon Walikota Sabang pada Pilkada 15 Februari 2017. Itu sebabnya, berbagai dugaan kejanggalan muncul, terutama soal harga dan kebijakan untuk membebaskan lahan tersebut.

Sumber MODUSACEH.CO mengungkapkan, terkait kasus ini ada 15 saksi yang akan dimintai keterangan. Sejauh ini sudah  sembilan saksi yang dipanggil secara bergiliran. Selasa (17/1/2016) lalu misalnya, penyidik sudah meminta penjelasan dari  Drs M, AM, H, A, K dan TMM. “Ya, sisanya akan kami minta keterangan dalam waktu yang berbeda,” ungkap sumber tadi. Menurutnya, tak tertutup kemungkinan akan ada saksi-saksi lainnya, yang akan diminta keterangan.

Sekedar mengulang. Lahan itu dibeli Pemerintah Kota Sabang (kota yang dipimpin Zulkifli-red) pada 2012 silam. Nah, kabarnya, dari sinilah Zulkifli mendapat untung besar. Nilai pembebasan lahan disebut-sebut mencapai Rp 1,4 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kota (APBK) 2012.  Sementara, seorang sumber mengatakan, tanah tersebut dibeli Zulkifli hanya senilai Rp 350 juta dari seorang warga berinisial SN pada Februari 2011 lalu.

Ceritanya begini. Pada 2012, Pemerintah Kota Sabang merencanakan pengalokasian dana untuk pembebasan lahan seluas sekitar satu hektar di kawasan Cot Damar, Paya Seunara, Suka Karya.  Lahan ini sejatinya untuk pembangunan sekolah menengah atas (SMA) unggul di kawasan itu.

Seorang sumber media ini ketika itu mengatakan, Kepala Dinas Pendidikan Sabang (saat itu dijabat Komaruddin-red), kemudian menyampaikan pada dewan mengenai perencanaan pembangunan SMA unggul di kawasan Cot Damar, Paya Seunara, Suka Karya tak sesuai dengan tata ruang.

Akibatnya, Dinas Pendidikan Sabang tak menyetujui dilakukan pembangunan. “Ini artinya, pembebasan lahan pun menjadi terkendala alias batal,” kata sumber itu. Belakangan, anggaran tersebut kemudian digodok kembali dan diperuntukkan untuk pembebasan lahan pembangunan perumahan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Balohan, Kecamatan Suka Jaya. Ini sejalan dengan kebutuhan mendesak guru di sana demi kelancaran proses belajar-mengajar. “Anggaran tersebut masuk dalam APBK 2012,” kata sumber itu.

Sayangnya, rencana pembebasan lahan di kawasan ini tak kunjung terealisasi. “Tiba-tiba, dalam APBK-Perubahan 2012, mata anggaran untuk pembebasan lahan pembangunan rumah guru di SMP 3 Balohan dialihkan untuk pembebasan lahan di kawasan Cot Damar, Paya Seunara, Kecamatan Suka Karya,” kata sumber tersebut. Selidik punya selidik, ternyata lahan yang dibebaskan tersebut milik Walikota Sabang, Zulkifli. “Inilah yang membuat banyak orang curiga. Awalnya, Pak Komaruddin menolak pembangunan di kawasan Cot Damar, Paya Seunara karena tak sesuai dengan tata ruang. Tapi, ujung-ujungnya, pembebasan juga dilakukan di kawasan tersebut,” lanjut sumber itu.

Hingga siang ini, Zulkifli Adam belum berhasil dikonfirmasi media ini. Begitupun, terkait berita tersebut sebelumnya, Zulkifli Adam malah balik menuding bahwa berita tersebut tidak benar. Itu disampaikan Zulkifli Adam dalam pertemuannya dengan sejumlah massa pendukung dan tim pemenangannya di Sabang. "Jangan percaya berita MODUS ACEH. Itu modal dusta," katanya dalam satu rekaman yang diterima media ini. Nah, apakah media ini yang berdusta atau Zulkifli Adam? Biarlah proses hukum yang berbicara.*** 

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...