Iklan HUT 16 TAHUN MODUS ACEH

Dibalik Aksi Demontrasi Mahasiswa

Jangan Anggap Sepele Bung Nova!

Jangan Anggap Sepele Bung Nova!
Rubrik
Sumber
Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

MODUSACEH.CO | Setelah sebelas kali aksi demontrasi mahasiswa di Banda Aceh, terkait tuntutan dicabutnya izin PT Emas Mineral Murni (PT. EMM).  Baru dalam dua hari ini, massa yang ikut terlibat lebih dari seribuan. Bahkan, hari ini, Rabu (10/4/2019), jumlah mereka jauh lebih banyak dan bertambah. Diperkirakan mencapai tiga ribuan orang.

Kondisi ini tak lepas dari insiden yang terjadi kemarin, Selasa (9/4/2019). Ada sejumlah mahasiswa terluka, terkena pukulan dan gas air mata dari aparat kepolisian sehingga terpaksa harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Mereka berasal dari seluruh universitas dan akademi di Banda Aceh, termasuk BEM Unimal Lhokseumawe. Selain itu, ada aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Banda Aceh serta Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh Besar. Itu sebabnya, arus massa dari insan kampus ini tak bisa dianggap sepele. Sebab, efek domino yang ditimbulkan sudah merayap hingga ke Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

Hari ini, mereka pun bergerak serta turun ke jalan. Dan, bukan tak mungkin akan meretas hingga ke kabupaten dan kota lainnya di Aceh, dengan jumlah massa yang lebih banyak.

Persoalan izin tambang PT. EMM memang tak lagi menjadi isu lokal di Beutong Ateuh Benggala, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Tapi sudah mampu melahirkan kesadaran koleksi mahasiswa dari seluruh Aceh, sebagai perpanjangan tangan, suara dan nurani rakyat yang tertindas dari regulasi yang dinilai sepihak.

Sayangnya, tuntutan peserta aksi demontrasi untuk bertemu langsung dengan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah hingga malam ini belum terlaksana.  Nova tetap keukeuh dan ogah untuk berjumpa dengan para mahasiswa yang juga rakyatnya sendiri.

20190410-demo-aksi1

Bisa jadi, Nova menilai, aksi ini sudah sarat politis dan dirinya sudah pernah bertemu dengan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) khususnya, saat menghadiri pelantikan BEM di perguruan tinggi tersebut.

Kedua, mungkin juga ada bisikan dari para pungawa di sampingnya yang juga mayoritas mantan aktivis mahasiswa 1998 bahwa mereka mampu mengendalikan dan mengantisipasi kondisi yang ada.  Disinilah, saling klaim dan mengambil peran muncul.

Ketiga, bisa jadi, Nova Iriansyah berada pada posisi serba salah dan sulit menghadapi kuatnya hegomoni Jakarta, yang memang sangat berkepentingan dengan PT. EMM. Ini, tentu saja tak lepas dari komitmen antar para pihak.

Begitupun, lepas dari semua perkiraan dan prediksi tadi, harusnya Nova Iriansyah datang dan menemui para aktivis mahasiswa peserta demo. Sebab, dia bisa berkomunikasi langsung dan menjelaskan secara terbuka berbagai persoalan yang ada dan sedang dia hadapi. Bukan sebaliknya menghindar dan terkesan “pengecut”.

Ini menjadi penting, untuk menepis berbagai praduga yang berkembang selama ini. Selain itu, harusnya aparatur di bawahnya ikut berperan aktif, memberi penjelasan dan pengertian kepada para aktivis mahasiswa tadi, tentang langkah-langkah dan kebijakan yang telah diambil Pemerintah Aceh selama ini. Bukan sebaliknya, memberi laporan asal bapak senang (ABS).

Memang, terhadap insiden yang terjadi kemarin, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah telah menyampaikan permohonan maaf dan menyesalkan adanya korban atas aksi yang digelar mahasiswa terkait penolakan PT EMM di Kantor Gubernur Aceh.

Nova Iriansyah mengaku, bisa memahami penolakan mahasiswa terkait keberadaan PT EMM.  Untuk itu, Pemerintah Aceh mengajak para pihak termasuk Perguruan Tinggi untuk mencari cara yang efektif dan elegan agar penambangan tersebut bisa dicegah, mengingat izin terhadap penambangan itu diterbitkan BKPM, bukan Pemerintah Aceh.

20190410-demo-aksi3

Menurut Nova, Gubernur Aceh tidak berwenang membatalkan izin tersebut secara sepihak. Tapi, di sudut lain DPR Aceh bersama mahasiswa menolak izin PT. EMM. Di sisi lain, munculnya sejumlah aksi demontrasi mahasiswa di Banda Aceh dan Meulaboh, telah membuka mata dan hati warga Beutong Ateuh Benggala, terkait hak-hak mereka sebagai pewaris tunggal tanah (lahan) 10 ribu hektar milik warisan endatu (nenek moyang) mereka.

Nah, logikanya adalah, jika Nova mengajak para mahasiswa mencari cara  yang paling efektif untuk membatalkannya, dengan meminta dan berharap adanya pemikiran dari DPR Aceh, mahasiswa, perguruan tinggi maupun elemen lainnya. Maka, salah satu caranya adalah, bertemu dan berbicara langsung dengan para mahasiswa yang sedang mengelar aksi demontrasi. Sekali lagi, bukan justeru menghindar dan hanya menerima laporan serta masukan dari para pembisiknya.

Lantas, atas alasan apa Ketua DPD Partai Demokrat Aceh ini masih enggan bertemu dengan para mahasiswa, yang mengelar aksi demontrasi dan berharap kehadirannya?  Sekali lagi, jangan anggap sepele Bung Nova!***

Komentar

Loading...