Nova Lakukan Rasionalisasi Tim Ahli dan Staf Khusus

Teguh Agam Metuah, Sayuti Abu Bakar dan Cut Nina Terdepak, Nico, Wibi, Fahlevi dan Tarmizi Bertahan

Teguh Agam Metuah, Sayuti Abu Bakar dan Cut Nina Terdepak, Nico, Wibi, Fahlevi dan Tarmizi Bertahan
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah (Foto: Mercinews)
Rubrik

Banda Aceh | Kabar ini sebenarnya sudah lama beredar. Ya, soal rasionalisasi sejumlah tenaga ahli (TA) dan staf khusus, Gubernur Aceh. Terutama paska Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf tertangkap KPK melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT), 4 Juli 2018 lalu di Banda Aceh.

Namun, baru 7 Agustus 2018 lalu terlaksana, setelah adanya rapat khusus antara Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama Pelaksana Harian (Plh) Setdaprov Aceh Tadwallah dan dua tenaga ahli Irwandi Yusuf yaitu, Teuku Tommy Mulia Hasan dan Ilarius Wibisono atau akrab disapa Wibi. Nah, Wibi merupakan satu-satunya tenaga ahli sejak Irwandi Yusuf pertama berkuasa hingga kedua, hasil Pilkada 2017 lalu yang non muslim.

Beredar kabar, rasionalisasi ini juga tak lepas dari saran dan pendapat BPK RI Perwakilan Aceh, terkait besarnya anggaran untuk honor tenaga ahli dan staf khusus yang mencapai puluhan orang. Itu sebabnya, evaluasi tim seleksi yang ditunjuk Pelaksana Tugas  (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah, merekomendasikan pembebastugasan 51 dari 86 orang tenaga penunjang Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh.

20181008-natulen-rapat

Hasilnya, sejumlah nama seperti Ketua Tim Asistensi Anwar Noer, Samsul Bahri MJ, Muttaqin, Bambang Wisono, Cut Nina Rostina, Ahmad Helmi Firdaus, Abdul Muis, Alfiyan Muhiddin, Munawar, Hamdan Budiman, Teungku Razuan, Fajhrurrazi, Muhsin, Lukman Ibrahim, Ruslan Razali, Sayuti Abubakar, Taufik Abda, Wahdi Azmi, Wildansyah, Tgk Harmen Nuriqmar, Nurjanah Awahab, Hasan Basri, Zahrul Huda, Tgk Muslim, Zia Udinsyah, Ramuli Ahmad Daud, serta Dewi Meutia, terdepak. Sementara Wibisono, Nico, Muhammad MTA, Sulaiman Badai dan Tarmizi MSI, tetap dipertahankan.

Dari dokumen yang diterima media ini tertulis, nama Johnnico Apriano alias Nico tercatat sebagai staf khusus Gubernur Aceh Irwandi Yusuf. Nama ini sempat masuk dalam daftar usulan personil yang tidak dilanjutkan penugasannya, namun dalam rapat evaluasi yang dihadiri Plt gubernur, Nico tetap dipertahankan. Sementara anak Irwandi Yusuf, dr Teguh Agam Meutuah yang namanya masuk dalam usulan personil sebagai dokter pribadi Plt Gubernur Aceh justru dicoret.

Di jajaran penasehat khusus, beberapa nama yang tidak dilanjutkan antara lain Capt. Muchammad Nasrun Natsir, Muslahuddin, Bakhtiar Ishak, Marwan Sufi, T Said Mustafa, Nasruddin Ahmad, Tazbir, Daniel Sulaiman, Adnan Ganto, Laksamana TNI (Purn) Dr Marsetio serta Zulkifli Yahya.

Di posisi Technical Asistance Gubernur Aceh, Chaterin Louise Elliot, Fenny Steffy Burase dan Joni Trio Wibowo tidak dilanjutkan. Hanya nama M Rizal Falevi Kirani. Nama Falevi juga tidak direkomendasikan untuk diteruskan masa tugasnya, namun tetap dipertahankan oleh Nova. Sementara nama Ilarius Wibisono sejak awal masuk dalam daftar yang dipertahankan.

Di posisi tenaga ahli Gubernur Aceh, nama Syarifuddin Z dan Husni Bahri TOB dicoret. Sedangkan posisi juru bicara Pemerintah Aceh, Saifullah Agani tetap dipertahankan. Belakangan, Saifullah dilantik sebagai Kepala Bagian Humas Pemerintah Aceh.

Nama-nama lain yang masa tugasnya diakhiri sebagai tim asistensi Gubernur Aceh adalah Anwar Noer, Samsul Bahri MJ, Muttaqin, Bambang Wisono, Cut Nina Rostina, Ahmad Helmi Firdaus, Abdul Muis, Alfiyan Muhiddin, Munawar, Hamdan Budiman, Teungku Razuan, Fajhrurrazi, Muhsin, Lukman Ibrahim, Ruslan Razali, Sayuti Abubakar, Taufik Abda, Wahdi Azmi, Wildansyah, Tgk Harmen Nuriqmar, Nurjanah Awahab, Hasan Basri, Zahrul Huda, Tgk Muslim, Zia Udinsyah, Ramuli Ahmad Daud, serta Dewi Meutia. Sementara Muhammad MTA, Sulaiman Badai dan Tarmizi MSI tetap dipertahankan. Inikah bersih-bersih model Nova? (selengkapnya baca edisi cetak, Senin, 15 Oktober 2018).***

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...