Analisis Menakar Kekalahan Jokowi-Ma’ruf di Aceh (selesai)

Taat Ijmak Ulama, Sentimen Parpol Penista Agama Ikut Berpengaruh

Taat Ijmak Ulama, Sentimen Parpol Penista Agama Ikut Berpengaruh
Ustad Abdul Somad di Aceh (Foto: kanalaceh.com)

Ijmak ulama dan sosok Ustad Abdul Somas (UAS) yang hadir di Aceh serta kuatnya kampanye melalui media sosial (medsos) tentang partai politik penista agama, menjadi penentu kekalahan telak Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Aceh.

MODUSACEH.CO | "Saya punya satu amanat penting. Aceh adalah Serambi Mekah. Aceh adalah Darussalam. Aceh adalah kakak tertua bagi Bangsa Indonesia. Islam pertama kali masuk ke Indonesia lewat Aceh. Kerajaan Islam yang pertama ada di Perlak Aceh. Maka dari itu, Aceh harus memimpin Indonesia. Aceh harus ‘menjajah’ Indonesia. Maka saya meminta sekali lagi, Aceh adalah modal dan model bagi Bangsa Indonesia. 

Kenapa saya katakan modal, Saudara? Anda tahu, waktu perjanjian Internasional tentang kemerdeakaan Indonesia, salah satu syaratnya, kalau suatu Negara sudah dijajah seratus lima puluh tahun tanpa henti oleh Negara lain maka Negara tersebut menjadi milik Negara penjajah. Saat itu semua wilayah Indonesia sudah dijajah. Hampir 350 tahun. 

Tapi ada Aceh yang maju ke depan, Saudara. Apa kata Aceh? Apa kata Aceh, Saudara? Aceh bilang, siapa bilang Indonesia dijajah Belanda? Aceh tidak pernah tunduk kepada Belanda. Akhirnya tuntutan Belanda batal dan kemerdekaan Indonesia diakui secara Nasional bahkan Internasional. 

Begitu merdeka, Indonesia belum punya kapal terbang. Yang pertama beli kapal terbang siapa? Aceh. Yang pertama beli siapa? Aceh. Yang modali kemerdekaan siapa? Aceh. Yang jadi contoh siapa? Aceh. 

Maka itu, dari hati saya yang paling dalam, Saudara, Saya menghendaki Aceh mulai dari hari ini sampai seterusnya ke depan harus menjadi lokomotif perjuangan Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Harus menjadi lokomotif penerapan syariat Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Maka itu, Anda jangan salah paham, Saudara; kenapa Saya tidak setuju kalau Aceh lepas dari Indonesia?  Kalau Anda melepaskan diri dari Indonesia, Saudara, akibatnya ibarat kereta Indonesia kehilangan lokomotif, Indonesia kehilangan kakak tertua. Anda jangan tinggalkan Kami. Anda jangan tinggalkan saya dan kawan-kawan. Mari kita berjuang bersama-sama memerdekakakn Indonesia dari segala kemungkaran dan kezhaliman. 

Sudah saatnya Aceh kembali ke sejarahnya dahulu, agar tidak hanya memikirkan Aceh. Pejuang-pejuang Aceh dahulu tidak hanya memikirkan nasib Aceh, tapi pejuang-pejuang Aceh dulu memikirkan agar seluruh Nusantara merdeka dari kebathilan, kezhaliman, dari penjajahan. 

Saya berharap, Aceh ke depan bukan hanya menguasai dari Sabang sampai Merauke, tapi ke depan menguasai dari Sabang sampai Maroko.  Siap Islam bangkit dari Indonesia? Siap. Siap Islam bangkit dari Aceh? Siap. Siap bangkit? Siap. Siap satukan Indonesia? Siap?

Pokoknya Saudara, kalau ada satu wilayah mau berpisah dari Indonesia seperti Papua, tidak boleh kita izinkan. Kalau Papua mau merdeka, rame-rame kita ke Papua, rebut dan satukan Papua ke Indonesia. Jadi orang Aceh bukan hanya menguasai Aceh, tapi orang Aceh harus menguasai setiap jengkal di Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

71 tahun kita merdeka, sudah cukup Islam dipinggirkan. Betul? 71 tahun kita merdeka, sudah cukup Aceh dibikin susah. Betul? 71 tahun kita merdeka, sudah cukup Bangsa kita dibuat susah. Betul?  Sekarang saatnya kita bangkit. Mulai dari Aceh, lokomotif perjuangan. Selamatkan Indonesia dari semua jenis penindasan. Siap bersatu? Siap Siap berjuang? Siap Siap cinta agama? Siap Siap bela Allah? Siap Siap bela Rasul? Siap Siap bela Nabi? Siap Siap bela Qur’an? Siap Siap bela Islam? Siap Siap bela Negara? Siap Siap bela NKRI? Siap Siap bela Aceh? Siap Takbir! Sholluu ‘alan Nabii". (ceramah Habib Rizieq, 27 Desember 2016 di Lampulo Banda Aceh). 

***

WALAU hanya tersirat, tapi kehadiran Ustad Abdul Somad (UAS) ke sejumlah kabupaten dan kota di Aceh, diyakini rakyat Aceh sebagai sinyal arus dukungan terhadap pasangan calon (paslon) 02, Prabowo-Sandiaga pada Pilres 17 April 2019.

Keyakinan ini semakin kuat dan merekat, setelah beredarnya video Prabowo bersama UAS yang disiarkan secara eksklusif oleh TV One. “Jujur, awalnya saya masih goyang untuk menentukan pilihan presiden Tapi, setelah melihat di TV, saya akhirnya memantapkan pilihan pada  Prabowo-Sandi,” kata Adol, salah seorang warga Ule Kareng, Banda Aceh.

Diakui Adol, walau sebelumnya sudah ada ijmak ulama dan nota kesepahaman antara Prabowo dengan puluhan ulama Aceh. Namun, pilihannya semakin kuat saat menyaksikan UAS bersama Prabowo. Disusul sejumlah ulama lainnya. “Walau tak mengenyam pendidikan di pesantren. Tapi saya tunduk dan patuh pada seruan dan ajakan ulama, apalagi UAS,” ucap Adol, bangga.

20190420-habib-rizieq-di-aceh

Dakwah Habib Rizieq di Lampulo Banda Aceh beberapa waktu lalu (Foto: Dok. Ist)

Hanya itu? Tunggu dulu. Pengaruh lain adalah, adanya seruan dari ulama dan tokoh ummat Islam secara nasional, agar tak memilih presiden yang didukung dan usung oleh partai politik (parpol) “penista agama”. Nah, sadar atau tidak, sentimen ini begitu kuat mempengaruhi pilihan rakyat Aceh pada Pilpres 2019.

“Buktinya, sehari sebelum hari H, saya bertanya pada jamaah shalat subuh di gampong (desa) saya soal alasan memilih Prabowo-Sandiaga. Alasan jamaah karena tidak didukung parpol penista agama,” ungkap Marwan, seorang warga Tibang, Kota Banda Aceh.

Bergerak lurus, walau tak sepenuhnya terjadi, tapi soal sentimen parpol penista agama juga ikut mempengaruh elektabilitas caleg yang mereka usung. Ambil contoh, gerbong Sekretariat Bersama (Sekber) caleg DPR RI dari Partai NasDem yang dipimpin Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak). Nah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Aceh (PA) mematok 7 kursi DPR RI dari partai besutan Surya Paloh ini. Selain itu, memasang target 60 persen kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Aceh.

Faktanya, sejauh ini target 7 kursi DPR RI tadi mustahil diraih, sementara 60 persen kemenangan untuk Jokowi-Ma’ruf juga tinggal kenangan. “Saya suka dan simpati pada Pak Sulaiman Abda. Beberapa Pemilu saya pilih beliau. Tapi untuk kali ini saya pilih yang lain. Golkar itu pendukung Jokowi-Ma’ruf,” kata seorang warga Lingke yang mengaku bernama Faisal.

Begitu kuatkah pengaruhnya pada caleg di Aceh? Tidak juga dan untuk sementara waktu memang belum dapat dipastikan. Sebab, hasil akhir belum diumumkan KIP Aceh dan KPU Pusat. Sebaliknya, di sejumlah kabupaten dan kota di Aceh, sentimen tersebut tidaklah seluruhnya terjadi. Buktiknya, ada caleg dari parpol yang disebut-sebut; penista agama, diprediksikan terpilih atau menjadi wakil rakyat di DPR RI, DPR Aceh dan DPRK. Ini sekaligus mensahihkan bahwa sentimen tadi hanya terjadi untuk Pilpres, bukan Pileg.

Alasannya tentu sederhana sekali. Pertama, sosok caleg adalah rakyat Aceh yang memiliki kaum serta keluarga dan relasi di Aceh. Kedua, mesin parpol tersebut tidaklah sepenuhnya bekerja untuk Jokowi-Ma;ruf Amin. Bahkan, ada caleg dari PPP, PKB, NasDem atau Golkar, justeru mendukung Prabowo-Sandiaga. Kecuali caleg PDIP yang memang all out bekerja untuk pemenangan Jokowi-Ma’ruf.

Begitu juga sebaliknya, ada caleg dari pendukung 02, berbalik arah, mendukung 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Ya, namanya juga politik. Bisa saja, telur ayam melahirkan anak itik. (selengkapnya baca edisi cetak, beredar setiap Rabu berjalan).***

 

Komentar

Loading...