Steffy Begitu Berarti? Jagalah Perasaan Darwati!

Steffy Begitu Berarti? Jagalah Perasaan Darwati!
Darwati (Foto: AcehNews.Net)

 

Nama Steffy Burase (BS) kembali mencuat, seiring persidangan Gubernur Aceh nonatif Irwandi Yusuf di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin, 7 Januari 2019.

Dan malam itu juga, portal berita nasional yaitu detik.com mewartakan. Fenny Steffy Burase yang disebut sebagai istri Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf, disebut pernah meminta uang ke salah seorang pejabat di Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) Aceh. Uang yang diberikan sebesar puluhan juta rupiah.

Hal itu diungkap jaksa KPK saat bertanya pada mantan Kepala BPKS Aceh bernama Fajri yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan dengan terdakwa Irwandi. Awalnya Fajri ditanya tentang perusahaan Steffy yaitu PT Erol Perkasa Mandiri.

Fajri mengaku pernah diperintahkan oleh orang kepercayaan Irwandi, Syaiful Bahri, untuk mengirimkan uang Rp 10 juta ke rekening atas nama PT Erol Perkasa Mandiri. Saat itu, menurut Fajri, uang itu disebut sebagai pinjaman.

"Saya nggak tahu katanya di luar kota, dia minta pinjam ke saya Rp 10 juta, akhirnya saya kirim PT Erol," kata Fajri saat bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (7/1/2019).

Permintaan pinjaman uang itu tidak putus sampai di situ. Fajri mengaku Steffy juga pernah meminta uang kepada Fajri sebesar Rp 25 juta dengan alasan untuk biaya makan di Jepang. "Ada pinjaman uang lagi?" tanya jaksa.

"Setelah itu ada, tapi bukan Pak Syaiful, itu ke Bu Steffy langsung, jumlahnya Rp 25 juta," jawab Fajri.

"Saya bantu aja, karena pada saat di Jepang mereka nggak punya uang lagi, untuk makan nggak ada uang," imbuh Fajri.

Selain itu, Fajri mengaku bila Irwandi turun langsung melobi Fajri untuk mengirimkan uang ke Steffy. Fajri menyebut keberadaan Steffy di Jepang untuk kegiatan studi banding. Namun dia tidak menyebutkan studi banding terkait apa. Nah, begitu berartikah Steffy Burase?

***

Sejujurnya, saya tak mengenal dan berteman dengan Steffy, apalagi berjabat tangan. Itu sebabnya, ketika namanya digadang-dagang sebagai EO merangkap konsultan Aceh Internasional Marathon 2018, alibi jurnalis saya muncul.

Siapa perempuan ini. Begitu berartikah? Apa pengalaman mantan pramugari dan model ini dalam dunia olahraga nasional, kecuali hanya mahir berbahasa Inggris, dibungkus penampilan yang kosmo.

Ya, walau tak ahli benar, tapi soal management olahraga saya tak bodoh amatlah. Pengalaman sebagai Sekretaris KONI Aceh, dengan kesempatan mengikuti pelatihan keolahragaan hingga ke Berlin, Jerman bersama mantan Sekretaris Dispora Aceh yang juga pakar olahraga, Nuzuli MS 2007 silam serta pelatihan yang dilaksanakan KONI Pusat maupun Kemenpora RI, memberi sedikit bekal ilmu pengetahuan tentang sistem pembinaan olahraga prestasi dan management keolahragaan.

Begitupun, jawaban itu saya dapatkan sekilas ketika buka puasa bersama tahun lalu di GOR KONI Aceh. Entah bagaimana ceritanya, Steffy hadir dan ikut buka puasa bersama atlit dan pengurus serta pegiat olahraga Aceh.

Rupanya, dia diundang Pengurus KONI Aceh dan Kadispora Aceh. “Itu orangnya Steffy Bang,” bisik seorang staf di Dispora Aceh pada saya. Selanjutnya, dari jauh saya perhatikan gerak-geriknya. Termasuk saat dia berselfie ria, usai buka bareng (bukber). Maklum, Steffy bersama timnya (tentu) ditemani staf Dispora Aceh, ikut menikmati kopi sanger di kafe depan GOR KONI Aceh, Banda Aceh.

Berbeda dengan Darwati A.Gani. Setidaknya kami pernah satu tim dan daerah pemilihan (Dapil 1, Banda Aceh, Aceh Besar dan Sabang), sebagai caleg di Partai Nasional Aceh (PNA) tahun 2014 lalu. Nasibnya lebih beruntung dari saya. Dia terpilih sebagai anggota DPR Aceh. Selanjutnya, saya pun memilih jalan sendiri, untuk berpisah.

Kecuali itu, sejumlah saudara dari almarhum ibunda saya di Geulanggang Kulam, Pulo Kiton, termasuk beberapa di Juli dan Matanglumpang Dua, Kabupaten Bireuen, rupanya mengenal cukup dekat keluarga Darwati. Tapi, itu tak pernah saya sampaikan. Takut disebut; BAPER dan sok akrab. Apalagi, pada periode kedua Irwandi Yusuf terpilih kembali sebagai Gubernur Aceh (Pilkada 2017), perbedaan diantara kami semakin tajam.       

Nah, sejujurnya, perasaan dan emosi saya kembali terusik ketika membaca akun ammar forirwandi di facebook, yang diunggah Senin kemarin (7/1/2019), sekira pukul 03.18 WIB dengan tema: Who’s Who. Hingga pukul 20.47 WIB, Selasa malam ini (8/1/2019), telah mendapat 41 komentar dan 3 kali dibagikan.

Akun yang saya duga memasang identitas palsu ini berkisah dan nyaris membela Steffy Burase dengan sangat tendensius. Seolah-olah begitu berarti untuk Aceh, tanpa menjaga perasaan Darwati. Akun ini memulai kisah: Siapa Aqila Clandestine Dhiya? Tidak seorang pun tau siapa nama aslinya, jenis kelaminnya, apa lagi wajahnya. BW pun sama, buta tentang Aqila.

Aqila mulai nimbrung di medsos sejak awal kampanye BW dgn cara melakukan serangan2 thd pesaing BW. Tidak diketahui apakah cara begitu ada pengaruhnya atau tidak.

Tapi yang jelas, Miss Aqila atau Mister Aqila akan menyengat siapa saja yg dikehendaki secara sadis karena toh dia menggunakan akun palsu. Sekarang Aqila sedang berbalas pantun dgn Steffy Burase di FB.

 Siapa Steffy Burase?

20190108-steffy

Steffy (Foto: detik.com)

Dia adalah riil. Artinya, orangnya ada dan akunnya tidak palsu. Bagaimana kaitannya dengan BW? Anak kecil pun sudah tau. Yang jelas Steffy ini bukan penyebab BW ditahan KPK. Dalam urusan Aceh Marathon, uang pribadinya habis untuk menalangi Aceh Marathon yg mengalami kendala dalam pendanaan karena terlambatnya APBA. Dana pribadi tsb hingga kini tidak ada kejelasan apakah bisa ditarik atau tidak.

Penyebab BW ditahan KPK adalah karena ada oknum2 dari Jakarta yang selama ini keenakan mengobok2 Aceh yang diusir oleh BW dari Aceh karena rusuh dalam sekam terkait rasa kecewa yg mendalam dengan proyek Balohan. Oknum itu tentulah merasa kecewa dan sakit hati dan berjanji akan balas dendam seperti yg pernah diucapkan antara lain kepada Morris Cohen, Maulana, Nico Johnnico Apriano dll. Lalu dia ambil momen ketika orang2 di sekitar BW main proyek di Bener Meriah tanpa sepengetahuan BW utk menjadi bahan laporan. Tp si oknum ini tdk peduli dengan dampak baik atau buruk terhadap Aceh. Yg penting bahan fitnah sdh ada dan tinggal mengolahnya, lalu melapor ke atas tas tas, maka terjadilah seperti yang sekarang ini.

Steffy dan BW adalah korban dari settingan dan jebakan spiderman hitam yang punya jaring dimana2, seperti laba2 berbisa. KPK menjual pantun jenaka klassik, yaitu: Tahta Harta Wanita. Ini bertujuan utk membuat marah rakyat kepada BW dan mendukung tindakan OTTnya terhadap BW.

Dalam balas pantun antara Aqd dan SB jelas sekali Aqd punya keuntungan dgn akun palsunya, bisa menyerang dengan level yg dia suka. Aqd tdk kuatir dicap oleh pembaca sbg biadab, krn orang tdk tau dan tdk kenal dirinya.

Berbeda dgn SB, yang terpaksa pilih kata2 dan tidak bisa menyerang Aqd secara bebas karena SB itu ada orangnya dan dikenal sosoknya alias tidak palsu. Kalaupun dia mau memaki2 tetap tidak bisa karena moralnya tidak seperti itu. Yaaa.... akhirnya terzalimi.

Lalu, diakhir tulisannya memberi solusi: Berhentilah serang menyerang. Penontonpun berhentilah bertepuk tangan.

Sebagai jurnalis, rakyat Aceh dan sekampung dengan almarhumah ibunda saya. Sejujurnya, saya tak sejalan dengan akun ammar forirwandi yang begitu mem-framing Steffy, sebagai perempuan YANG PALING BERJASA UNTUK ACEH. Sementara, menepis dan tanpa mempertimbangkan perasaan Darwati dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Selanjutnya, jika akun ammar forirwandi memberi solusi: berhentilah serang menyerang. Penontonpun berhentilah bertepuk tangan. Saya pun memberi solusi: JAGALAH PERASAAN DARWATI!***

Komentar

Loading...