Secarik Catatan dari Dataran Tinggi Gayo (habis)

Spesialis Pemburu Kriminal Bersenjata Itu Bernama AKBP Subekti

Spesialis Pemburu Kriminal Bersenjata Itu Bernama AKBP Subekti
serambinews.com
 
Banda Aceh | Penampilannya memang terkesan cuek dan banyak diam. Namun, begitu diajak bicara, perwira menengah ini terkesan santai dan lugas. Saat bertugas, AKBP Subekti dikenal tegas dan tak mengenal waktu. Bahkan, tak segan-segan mengeluar dana dari kantong pribadinya, untuk melaksanakan tugas berhari-hari di lapangan. Demi dan untuk kesatuannya, Polri.
***
Tak mudah untuk bertemu apalagi diajak bicara. Itu sebabnya, tidak banyak informasi yang bisa digali dari mantan Kapolres Aceh Barat Daya (Abdya) ini.  “Kami merasakan sendiri bagaimana cara dia memimpin di lapangan. Sebelum selesai dan tepat sasaran, kami belum bisa bergerak dan pulang. Jika logistik minus, dia tak segan-segan mengeluarkan uang pribadi,” begitu ungkap salah seorang perwira pertama di Polda Aceh, mantan anak buah AKBP Subekti pada MODUSACEH.CO, Minggu sore pada salah satu waruung kopi di Kota Banda Aceh. Karena alasan tak etis, dia tak mau disebut dan tulis namanya.
 
Tapi jangan salah, jika sesekali bertemu, AKBP Subekti terlihat ramah. Salah satunya saat kunjungan kerja dan gelar perkara bersama Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jendral Pol Drs. Badrodin Haiti, Kamis (29/10/2015) di Mapolda Aceh. Itu terkait juga dengan kasus kriminal bersenjata Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi, beberapa waktu lalu. Saat itu, Subekti nyaris tak berkantor di Polda Aceh. Bersama anak buahnya, dia lebih banyak di lapangan.  Hasilnya, beberapa anggota Din Minimi berhasil dilumpuhkan. Termasuk sejumlah barang bukti (BB) senjata laras panjang dan pendek serta ribuan amunisi. Kini,  Din Minimi bersama puluhan anak buahnya, sudah menjalani hidup normal dalam masyarakat. Ini sejalan dengan langkah pemerintah pusat (Jakarta), melalui Kepala BIN, Sutiyoso. Din Minimi sedang dalam proses pengampunan atau amnesty dari Presiden RI, Joko Widodo. 

Sebelumnya, Subekti bersama anak buahnya juga berhasil mengungkap kasus kriminal bersenjata yang melibatkan Ayah Banta Cs. Disusul pembunuhan Saiful alias Cage di depan Warung Gurkha, Matang Geulumpang Dua, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Aceh, Jumat malam, 22 Juli 2011 silam. Termasuk, penembakan T. Muhammad Zainal Abidin alias Cekgu (30) kader Partai Nasional Aceh (PNA) Pidie, Senin sekira pukul 14.00 WIB, 29 April 2013 di kawasan Beureunuen. Teranyar, kasus pengranatan mobil anggota DPRK Bener Meriah, Mansyur Ismail.
 
Saat menjadi Kapolres Abdya, AKBP Subekti konsen menerapkan dan mengalakkan polisi masyarakat (Polmas). Tak sedikit anak buahnya yang diambil sanksi jiga melanggar aturan. Hasilnya, banyak kasus yang terjadi di desa (gampong), diselesaikan pada tingkat desa.
 
Sebelum bertugas di Aceh, Subekti pernah berdinas di  Jawa Timur, Jakarta dan Lampung. Di Jawa Timur, Subekti berhasil mengungkap pelaku pembunuhan bermotif bisnis pertanahan. Sementara di Jakarta, dia juga berhasil membekuk Hercules Cs, yang ingin menguasai lahan secara sepihak. Dan di Lampung, Subekti berhasil mendamaikan puluhan warga (petani tebu) setempat dengan perusahaan gula. “Ah, jangan ditulis. Itu sudah menjadi tugas dan tanggungjawab kami sebagai aparat penegak hukum,” katanya merendah, saat MODUSACEH.CO, mengajaknya bercerita, beberapa waktu lalu di Banda Aceh. Selebihnya, Subekti tak mau bicara. Bahkan, nyaris meminta media ini untuk tidak mempublikasinya. Namun, setelah dijelaskan bahwa publikasi dan informasi tersebut menjadi hak publik untuk mengetahui dan ranah media pers, pria yang doyan bakso dan nasi goreng ini pun diam. “Ya, terserah situlah,” katanya sambil senyum dan berlalu.
 
Nah, tentu semua tugas AKBP Subekti bersama anak buahnya belum selesai. Misal, terkait kasus pengranatan yang dilakukan AF, polisi harus mengungkap dari mana granat dibeli AF. Kenapa bahan peledak mematikan itu, begitu mudah didapat oleh warga sipil? Tugas lainnya adalah, mengungkap dan menangkap pelaku peledakan mobil yang menghebohkan warga Desa Tanah Anou, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Selasa dini hari, 4 Oktober 2016, sekira pukul 02.00 WIB lalu. Semoga.***

Komentar

Loading...