Breaking News

Tuanku Mirza Keumala, Bukan Sahabat Biasa (bagian satu)

Sosok Darah Biru Yang Bersahaja

Sosok Darah Biru Yang Bersahaja
Bersama almarhum Tunaku Mirza Keumala di Penang, Malaysia (Foto: Dok.Pribadi)
Rubrik

Hari ini, Rabu, 27 Februari 2019, genap dua pekan, almarhum Tuanku Mirza Keumala berpulang keharibaan Allah SWT (Rabu, 13 Februari 2019). Sosok darah biru yang rendah hati, santun dan menghargai perbedaan pendapat.

MODUSACEH.CO | Insya Allah, hingga saat ini sudah 25 tahun saya mengeluti profesi dan pekerjaan sebagai wartawan (jurnalis), baik di Aceh maupun Jakarta. Selama waktu itu pula, belum ada kendala apa pun ketika saya menulis, merangkai kata dan kalimat, menghasilkan laporan jurnalistik.

Jika pun ada, hanya teror psikologis dan kekerasan dalam bentuk peledakan granat dan bom. Termasuk ada pihak yang mengirim dan menyuruh seorang pemuda “kelainan jiwa” untuk memporak-poranda kantor redaksi media ini.

Itu tidak terjadi sekali. Namun, hingga kini aparat Kepolisian Polda Aceh dan Polresta Banda Aceh, belum mampu mengungkap pelaku dan aktor dibalik peristiwa tersebut. Inilah resiko profesi ketika ada para pihak yang merasa terusik dengan data serta fakta yang kami ungkap serta peristiwa yang kami telusur.

Tapi entah mengapa, pikiran saya tiba-tiba “beku” dan tangan terasa “kaku” saat hendak mulai menulis, berkisah tentang kisah persahabatan saya dengan almarhum Tuanku Mirza Keumala. Sosok darah biru yang rendah hati, santun dan menghargai perbedaan pendapat.

Ini adalah utang yang harus saya lunaskan kepada almarhum. “Nanti, kalau saya meninggal, aku minta kamu tulis tentang persahabatan kita ya,” katanya setengah bercanda. Itu disampaikan, saat saya mengunjungi di Penang, Malaysia, sebelum Tuanku Mirza menghembus nafas terakhir akibat penyakit kanker yang dia derita.

Entah itu sebabnya, setiap saya ingin mulai menulis kisah ini, saya menjadi “bodoh”, terbayang sosok inspirasi dan selalu memberi solusi ketika saya kesulitan serta berada pada posisi kurang menguntungkan.

Bagi saya, almarhum bukan sekedar abang (walau tak sedarah), tapi juga sahabat dan guru dari nilai-nilai kesantunan, yang kalau boleh jujur sangat jarang saya temui saat ini. Maklum, jika banyak teman hanya “mengunakan keluguan” saya untuk kepentingan sesaat. Berbeda dengan Tuanku Mirza. Dia tak tak pernah kering ide, mencari solusi serta jalan keluar buat teman yang sedang kesusahan.

“Sabar itu bukan berarti kalah bosss”! Begitu katanya sekali waktu, saat emosi saya memuncak, ingin menghajar seorang teman yang dulu sering saya bantu, tapi dia pula yang memerintahkan seorang pemuda kelainan jiwa untuk menghancurkan kantor saya.

Tuanku Mirza Keumala lahir tanggal 3 Mai 1958. Yang saya tahu, dia putra pasangan Tuan Abdul Djalil bin Tuanku Raja Keumala dan Pocut Aliran binti Teuku Ali Lamlagang. Original darah biru, bukan imitasi atau perak.

Satu hal yang saya suka, walau memiliki garis keturunan Raja Aceh. Namun, pergaulannya tidak feodal. Malah, dalam banyak waktu dan kesempatan. Dia berkenalan dengan relasi mengunakan status rakyat biasa, tanpa embel-embel Tuanku, termasuk pada papan nama yang terpasang di pintu ruang kerjanya sebagai Staf Khusus Kementerian ESDM RI, Jakarta.

Tentu berbeda dengan banyak keturunan Raja Aceh dan Indonesia. Bahkan, ada rakyat jelata (lamit), tapi bergaya Raja. Sementara Tuanku Mirza adalah keturunan Raja, tapi bersikap seperti seorang rakyat jelata.

"Kenapa ndak abang pasang Tuanku  Mirza Keumala di papan nama itu," kata saya suatu hari, sambil menunjuk pintu masuk ke ruang kerjanya, lantai III Gedung Kementerian ESDM, Jakarta.

Ternyata, logikanya sangat sederhana. “Apakah dengan memasang Tuanku, saya bisa naik pesawat Garuda tanpa antri dan gratis? Sama saja kan dengan penumpang lain. Jadi, ndak usah berlebihan lah,” ucapnya sekali waktu, saat kami ngopi bersama di The Atjeh Connetion, Sarinah, Jakarta.***

Komentar

Loading...