Diduga Sodomi 15 Santri, Pimpinan Pompes dan Guru Ngaji di Lhokseumawe Masuk Bui

Diduga Sodomi 15 Santri, Pimpinan Pompes dan Guru Ngaji di Lhokseumawe Masuk Bui

Meulaboh | Kepolisian Resort Kota (Polresta) Lhokseumawe membekuk Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nahlu di Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua daerah setempat, bersama seorang guru mengaji yang diduga kerap menyodomi belasan santri didikannya. Hingga kini, korban atas perbuatan kedua pelaku diperkirakan sudah 15 anak atau santri.

Perbuatan bejat terhadap anak di bawah umur yang seharusnya mendapat pendidikan keagamaan di lembaga pendidika Islam tersebut, telah mencoreng nama baik Ponpes dan menurunkan kepercayaan masyarakat. Kini, kedua tersangka yakni AI (45) dan MY (26) dan korbannya  R (13), L (14), D (14), T (13), dan A (15) sudah diamankan jajaran Polres Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan, S.Ik didampingi Kasat Reskrim, AKP Indra T. Herlambang, S.Ik mengatakan. Perbuatan bejat petinggi Ponpes terungkap usai beberapa orang tua santri melapor ke polisi. Petugas kemudian melakukan pengembangan, hingga akhirnya mengetahui banyak anak yang menjadi korban pencabulan.

"Sejauh ini 15 santri yang teridentifikasi menjadi korban. Namun yang sudah diperiksa itu lima orang. Kita belum tahu apa motifnya, tersangka sampai sekarang belum mengaku,” kata Ari.

Kasus pelecehan seksual tersebut terjadi sejak bulan September 2018 di Pesantren An-Nahla, pelecehan seksual itu dilakukan tersangka AI kepada korban R sebanyak 5 kali, korban L sebanyak 7 Kali, korban D, 3 kali, korban T, 5 kali dan korban A sebanyak 3 kali. Sementara MY, pelecehan seksual dilakukannya terhadap korban R sebanyak 2 kali.

Dia menjelaskan, modus operandi tersangka dalam melangsungkan aksinya ini, mengajak anak didiknya untuk membersihkan rumah dalam asrama pesantren. Setelah itu, pelaku mendoktrin dengan pendidikan agama, kemudian berbuat bejat kepada santrinya di dalam kamar di pondok pesantren. Santri-santri itu disodomi satu-satu.

"Peristiwa itu terjadi di kamar pimpinan pesantren. Caranya, pimpinan meminta santri membersihkan kamar, atau diajak tidur di kamar pimpinan. Di sanalah peristiwa itu terjadi,” sebutnya.

Ia menambahkan, pengungkapan kasus ini berawal dari adanya laporan, Sabtu 29 Juni 2019 terkait adanya peristiwa pelecehan seksual yang dialami anak terlapor yang dilakukan oleh guru Pesantren An-Nahla. Berdasarkan aduan tersebut petugas mendatangi korban (anak pelapor) dan istri pelapor di rumahnya untuk mengambil keterangan.

Keterangan awal yang dihimpun penyidik menyebutkan, yang melakukan tindakan pelecehan seksual kepada korban R adalah MY yang merupakan guru di pesantren tempat korban sekolah, dan merupakan kepala Pesantren di sekolah tersebut. Pada Minggu 30 Juni 2019, penyidik melakukan pemeriksaan kepada 2 orang korban bernama R dan L terkait peristiwa pelecehan seksual itu.

“Kasus tersebut langsung dikembangkan dengan melakukan pemeriksaan kepada korban yang masih anak-anak dengan memperhatikan psikologisnya, serta melakukan gelar perkara hingga akhirnya kedua tersangka ditangkap dan ditahan,” ungkap Kapolres.

Kini kedua tersangka masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Lhokseumawe untuk penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut. Kedua tersangka dijerat dengan Pasal 47 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat dengan ancaman hukuman 90 cambuk atau denda paling banyak 900 gram emas murni atau penjara paling lama 90 bulan.

Kapolres mengimbau seluruh orang tua santri melaporkan kasus serupa jika anaknya menjadi korban.***

Komentar

Loading...