LHP BPK RI dan Potret Kinerja Kabinet Zaini Abdullah 2015 (Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh)

Sisa Persediaan Obat Belum Diperhitungkan, Obat Keluar Langsung Diakui Habis Pakai

Sisa Persediaan Obat Belum Diperhitungkan, Obat Keluar Langsung Diakui Habis Pakai
MODUSACEH.CO
Rubrik
Banda Aceh |Menurut hasil audit yang tertuang pada Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI Perwakilan Aceh, penatausahaan persediaan pada Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh, belum sepenuhnya memadai.
 
Lihat saja pada tahun anggaran (TA) 2015 lalu, laporan keuangan BLUD Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menyajikan nilai persediaan pada Neraca, 31 Desember 2015 diantaranya.  Persediaan alat tulis kantor (Rp 60,4 juta lebih). Persediaan alat listrik dan elektronik (lampu pijar dan batere kering), Rp 19,8 juta lebih. Sementara isi tabung gas, Rp 875 ribu. Persediaan bahan cetakan, Rp 18,9 juta lebih. Perlengkapan medis, Rp 245,9 juta lebih. Sedangkan, untuk persediaan pakaian dan perlengkapan pasien mencapai Rp 1,8 miliar lebih. Persediaan obat-obatan, Rp 2,8 miliar lebih. Bahan kimia, Rp 274 ribu lebih. Bahan makanan pokok, Rp 656 ribu serta bahan jaringan air, Rp 39,8 juta. Hanya itu? Ada lagi. Menurut LHP BPK RI Perwakilan Aceh, untuk persediaan bahan baku bangunan, Rp 19,4 juta lebih
 
Nah, penatausahaan persediaan pada Rumah Sakit Jiwa itu, dilakukan penyimpan barang, pengurus barang dan atasan langsung penyimpan/pengurus barang yang ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Aceh, Nomor: 028/759/2015, tentang penetapan pengurus dan penyimpan barang milik Aceh pada Satuan Kerja Perangkat Aceh, di lingkungan Pemerintah Aceh Tahun 2015.
 
Dalam keputusan tersebut juga ditetapkan pembantu pengurus barang dan pembantu penyimpan barang yang masing-masing berjumlah satu orang. Penatausahaan persediaan dimulai dari permintaan barang persediaan, pengadaan barang persediaan. Sementara, Subbagian yang memerlukan barang, membuat permintaan pesanan barang yang ditujukan kepada Pimpinan BLUD RSJ selaku pengguna barang.
 
Setelah disetujui, Sub.Bagian Umum menunjuk rekanan sebagai penyedia barang. Selanjutnya penyedia mengirimkan barang yang dipesan ke RSJ, Banda Aceh baru kemudian barang tersebut diterima oleh panitia barang untuk diperiksa kelengkapan dan kesesuaian barang.
 
Jika barang yang diterima bukan berupa alat kesehatan (alkes) dan bahan kimia, maka barang tersebut masuk ke gudang umum dengan sepengetahuan pengurus dan penyimpan barang. Selanjutnya pengurus barang mencatat penerimaan barang tersebut di buku persediaan. Sedangkan untuk penerimaan barang berupa alkes dan bahan kimia, maka barang langsung masuk ke gudang farmasi atau ruangan user yang bersangkutan (laboratorium/IGD).
 
Penerimaan barang tersebut dicatat oleh petugas gudang farmasi, tapi tidak dibuatkan laporan secara berkala kepada penyimpan ataupun pengurus barang. Akibatnya,  mutasi barang alkes dan bahan kimia tadi, baru diketahui pengurus barang pada akhir tahun, melalui laporan persediaan yang ada di bagian Sub.Bagian Keuangan. Gawat!
 
Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh, memiliki tiga tempat penyimpanan persediaan yakni gudang farmasi, laboratorium, dan gudang umum. Gudang farmasi menyimpan persediaan obat-obatan, laboratorium menyimpan persediaan beban kimia, dan gudang umum menyimpan persediaan selain obat-obatan dan bahan kima. Penyimpanan persediaan bahan kimia di laboratorium, karena kondisi ruangan gudang farmasi tidak memiliki fasilitas pendingin ruangan yang memadai untuk bahan kimia.
 
Informasi dari pengurus barang tulis BPK RI Perwakilan Aceh dalam LHP 2016, nilai persediaan yang disajikan Neraca per 31 Desember 2015, didasarkan pada Berita Acara Pemeriksaan Fisik Nomor: 028/86, yang ditandatangani Pimpinan BLUD RSJ, selaku yang memeriksa dan pengurus serta penyimpan barang selaku yang diperiksa.
 
Namun hasil pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa, berita acara stock opname yang dibuat hanya berdasarkan laporan mutasi barang yang dikumpulkan oleh subbagian keuangan untuk kepentingan penyusunan laporan keuangan. Sebaliknya, pengurus dan penyimpan barang tidak melakukan perhitungan fisik persediaan ke gudang penyimpanan atas persediaan per 31 Desember 2015.
 
Keterangan dari yang bersangkutan adalah, perhitungan fisik tidak dilakukan karena merasa tidak dilibatkan dari awal saat penerimaan barang sehingga merasa tidak memiliki wewenang untuk memeriksa. Dinyatakan bahwa, pengurus barang baru bisa melakukan cek fisik jika ada surat perintah dari atasan langsung (Kasubbag Umum) ataupun pimpinan BLUD.
 
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh pemeriksa tanggal 3 Juni 2016, ada beberapa item persediaan, ditemukan selisih antara kuantitas pada laporan persediaan dengan hasil traceback kuantitas persediaan per 31 Desember 2015.
 
Pemeriksaan fisik persediaan baju pasien pria pada gudang umum misalnya, menunjukkan selisih kurang catat pada laporan persediaan sebanyak 229 potong. Tak hanya itu, pemeriksaan fisik atas persediaan bahan kimia juga menunjukkan adanya selisih kurang catat atas persediaan multi drug sebanyak 10 box, dan terdapat selisih lebih catat untuk persediaan reagen SGOT dan reagen SGPT sebanyak 16 kit.
 
Pemeriksaan atas persediaan handscun (sensi glove) diketahui, bagian laboratorium belum mencatat mutasi barang yang masuk dan keluar secara tertib sehingga tidak dapat dilakukan traceback kuantitas per 31 Desember 2015. Pemeriksaan fisik atas persediaan obat-obatan di gudang farmasi menunjukkan tidak terdapat selisih pencatatan.
 
Memang, pihak RSJ Banda Aceh telah menyampaikan penjelasan atas selisih yang terjadi melalui surat Nomor 700/2213. Selisih 229 potong persediaan pria disebabkan karena kesalahan pada saat menghitung, sedangkan selisih lebih catat reagen SGOT dan Reagen SGPT disebabkan terdapat 16 kit reagen expired yang tidak dihitung oleh petugas laboratorium dan selisih kurang catat multi drug disebabkan kelebihan dalam pencatatan mutasi keluar.
 
Sementara itu, untuk persediaan handscun (sensi glove) pada saat pemeriksaan fisik dilakukan, tidak terdapat catatan mutasi periode berjalan atas barang tersebut, sehingga tidak dapat dilakukan traceback kuantitas persediaan per 31 Desember 2015.
 
Menariknya, sisa persediaan obat-obatan yang ada di apotek senilai Rp 206 juta lebih, belum diperhitungkan dalam laporan persediaan per 31 Desember 2015. Dan, obat-obatan yang keluar dari gudang farmasi, sudang langsung diakui habis pakai. Ada apa? BLUD RSJ juga belum menetapkan standard operational procedure(SOP) yang baku mengenai penatausahaan persediaan. Mekanisme yang selama ini dijalankan hanya meneruskan cara kerja yang sudah diterapkan sebelumnya. Atas kondisi tersebut telah dilakukan koreksi. Benar-benar ‘gila’!***
"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...