Presiden Jokowi Gagal Buka PKA Ke-7

Sinyal Awal “Kegagalan” Komunikasi Nova dengan Istana Negara?

Sinyal Awal “Kegagalan” Komunikasi Nova dengan Istana Negara?
foto: acehonline.com
Rubrik

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) batal membuka Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-7 di Banda Aceh. Sinyal awal “kegagalan” komunikasi Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dengan Jakarta?

Banda Aceh |   Meriah, penuh lampu warna-warni dan suka cita. Itulah kesan pertama yang muncul dari arena pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke-7 di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Minggu malam, 5 Agustus 2018.

Kehadiran sejumlah utusan (peserta) dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh maupun undangan lainnya dari dalam dan luar negeri ini, bisa jadi sedikit menghibur rakyat Aceh yang sedang dilanda “duka”, terkait penangkapan Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta, 4 Juli 2018 lalu di Banda Aceh.

Sayangnya, perhelatan akbar seni dan budaya Aceh empat tahunan ini, juga tak dihadiri Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Tak jelas, kenapa mantan Gubernur DKI Jakarta itu absen. Itu sebabnya, banyak pihak menilai, andai  Irwandi Yusuf masih aktif sebagai Gubernur Aceh, kondisi ini bisa saja tak akan terjadi. Maklum, antara Jokowi dengan Irwandi memang memiliki komunikasi khusus.

Semula, orang nomor Indonesia ini dijadwalkan hadir dan membuka secara resmi PKA Ke- 7 tersebut. Namun, urun datang dan digantikan Menteri Pendidikan Prof. Dr. Muhadjir Effendi M.A.P dan dia menyampaikan permintaan maaf dari Presiden Joko Widodo. Namun, permintaan maaf itu disambut; hu,,,,hu,,,hu! dari pengunjung. Bisa jadi, rakyat Aceh kecewa.

Berbeda dengan PKA Ke-5 dan 6, saat itu dibuka langsung Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Sayang sekali, anggaran habis tersedot sekitar Rp 70 miliar, yang buka hanya seorang menteri. Andai ada Pak Irwandi, dapat dipastikan kondisi ini tak akan terjadi,” bisik seorang kepada SKPA (dinas) pada media ini, di sela-sela pembukaan PKA, Minggu malam di Banda Aceh.

20180806-ribuan-penonton-hadiri-pembukaan-pka-vii-di-stadion-harapan-bangsa-banda-aceh

Foto: Disbudpar Aceh  Pemerintah Aceh

Pengakuan serupa juga disampaikan beberapa bupati dari kawasan pantai timur dan barat Aceh pada media ini. Karena alasan tak etis, mereka minta namanya tidak ditulis. “Ndak enak dengan Plt. Tapi, kami menilai dan merasakan itu,” kata salah seorang dari mereka.

Sumber media ini dari kalangan intelijen menyebutkan. Ketidakhadiran Jokowi membuka PKA, karena sedang ada agenda penting di Jakarta. Terutama, menjelang penentuan calon Presiden dan Wakil Presiden RI untuk Pilpres 2019 mendatang.

Namun, sumber ini tak menepis adanya pertimbangan lain, terutama politis, paska bergabungnya Partai Demokrat bersama Partai Gerindra besutan Prabowo Sukbianto dalam koalisi Capres dan Cawapres pada Pileg 2019 mendatang.

Selain itu, tak lepas adanya protes dari sejumlah pendukung Irwandi, yang meminta Gubernur Aceh nonaktif ini agar dibebaskan. Muncul kekhawatiran adanya aksi demontrasi dalam penyambutan Presiden Jokowi.

“Walau bisa kami atasi, tapi kami tak mau ambil resiko. Begitupun, kunci sebenarnya ada pada Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dalam membangun komunikasi dengan Jakarta (Istana Negara),” ungkap sumber tadi, memberi saran.

Diakui sumber ini, paska penangkapan Irwandi oleh KPK, kemampuan komunikasi Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dengan pejabat tinggi di Jakarta, memang relatif lemah. Bisa jadi, karena kemampuan pribadinya atau ada faktor lain. Misal, lebih save menjaga diri, karena dia memang belum begitu aman dengan masalah yang menerpa Irwandi.

Padahal, dia adalah pimpinan partai politik di Aceh dan mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat. “Mereka satu paket, jadi Nova ndak bisa lepas tangan begitu saja,” ungkap sumber dari satuan intelijen tadi.

Berbeda dengan Irwandi, walau terkesan “setengah preman” tapi kemampuannya untuk meyakinkan Presiden Jokowi, boleh disebut memang jitu. “Walau setengah nyeleneh, tapi guyonannya bisa meyakinkan banyak pihak,” ungkap perwira menengah intelijen ini, usai mengikuti penganugrahan tanda jasa adat Aceh di Meuligoe Wali Nanggroe, Sabtu pekan lalu di Banda Aceh.

Soal kepastian ketidakhadiran Presiden Joko Widodo memang sudah berhembus sejak dua hari sebelum pembukaan PKA. Informasi itu diperoleh media ini dari Ketua DPD I PDIP Aceh, H. Karimun Usman. “Sebentar, saya pastikan ke Istana Negara,” kata H. Karimun saat ditanya media ini. Hasilnya benar, dua jam kemudian, Karimun Usman mendapat kabar bahwa orang nomor satu Indonesia, batal datang ke Aceh dan membuka PKA. “Karena ada kesibukan di Jakarta, Bapak Presiden batal datang ke Aceh,” sebut Karimun, tersenyum.***

Komentar

Loading...