Dibalik Imbauan Hentikan Aktivitas Penerbangan Bandara SIM

Shalat Ied Rasa “Nyepi” Versi Mawardi Ali

Shalat Ied Rasa “Nyepi” Versi Mawardi Ali
Bupati Kabupaten Aceh Besar Mawardi Ali (Foto: Humas Pemkab Aceh Besar)

"Kenapa di Bali bisa sampai 24 jam, kalau hari Nyepi itu dari jam 6 pagi sampai jam 6 pagi besoknya. Itu tidak ada pesawat. Jangankan pesawat yang terbang, pesawat yang bergerak saja tidak ada," begitu ungkap Mawardi Ali.

BUPATI Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh ini tentu tidak sedang bercanda. Buktinya, dia mengirim surat imbauan kepada PT Angkasa Pura, Blang Bintang. Dia meminta pengelola Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh itu, menghentikan aktifitas penerbangan pada hari pertama lebaran. Mulai pukul 00.00 WIB sampai 12.00 WIB.

Alasannya sederhana. Ia mendapat keluhan pegawai Bandara karena tidak bisa melaksanakan shalat Ied. Jadi, sesuai sistem syariah di Aceh katanya, dia ingin menerapkan juga di Bandara. Tujuannya agar seluruh petugas Bandara bisa shalat Ied.

Menarik? Tentu saja, sebab shalat Ied Idul Fitri dan Idul Adha merupakan ibadah sunnah. Sementara shalat Jumat justeru wajib. Itu sebabnya, kenapa Mawardi Ali tidak meminta sekalian Bandara ditutup setiap Jumat, mulai pukul 12.00 WIB sampai 14.00 WIB.

Logika dan dasar hukum (fiqih) juga kuat. Kok,  petugas Bandara dibiarkan melalaikan kewajiban agama, khususnya shalat Jumat? Ironi lain, kenapa cuma Bandara? Bagaimana dengan layanan umum seperti petugas mercusuar, pemadam kebakaran, PLN, anggota polisi, prajurit TNI, dokter dan paramedis. Semuanya, mau shalat Ied atau Jumat juga?

Nah, jika otoritas bandara atau PT Angkasa Pura setuju, berarti Bandara Sultan Iskandar Muda, satu-satunya bandara yang ditutup hari lebaran. Arab Saudi saja tidak melakukan kebijakan itu, meski Idul Fitri atau Idul Adha, Bandara King Abdul Azis tetap ramai. Demikian juga negara muslim lainnya.

Lalu, Mawardi Ali berkiblat ke Bali, yang merayakan Hari Raya Nyepi dengan menutup semua aktifitas termasuk Bandara. Tapi, tahukah Mawardi bedanya ibadah Nyepi dengan Idul Fitri dan Idul Adha? Hari Raya Nyepi memang dilakukan dengan cara seperti itu. Mematikan listik, tidak menyalakan api, tidak menyalakan mesin, musik, TV, HP dan semua aktifitas. Artinya menutup Bandara adalah bagian dari ibadah.

Namanya aja Nyepi. Ya, harus sepi. Kalau Hari Raya Kuningan atau Galungan, Bandara Bali tidak perlu tutup. Sementara Idul Fitri atau Idul Adha tidak ada kewajiban 'menyepi'. Sebaliknya, hari kemenangan yang wajib di syiarkan secara luas.

Rangkaian Hari Raya Nyepi di Bali, dilaksanakan berdasarkan desa, kala, patra dengan tetap memperhatikan tujuan utama hari raya yang jatuh setahun sekali itu. Artinya, pelaksanaan Nyepi  tak ada kendaraan yang diperkenankan keluar (kecuali mendapat izin khusus).

Ini sejalan dengan ajaran Brata penyepian yang telah dirumuskan kembali oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian yaitu: Amati Geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa).

Amati Karya (tidak bekerja). Hal ini berarti menyepikan indria. Amati Lelungaan (tidak bepergian). Maknanya mengistirahatkan badan dan Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan). Pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indria diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indria itu, diyakini umat Hindu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup semakin meningkat.

Bagi umat Hindu yang memiliki kemampuan khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi. Tujuannya, makna dan pelaksanaan hari raya Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi.

Ini dinyakini dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma. Karena itu, melaksanakan Nyepi benar-benar spritual, dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana.

Upawasa artinya dengan niat suci melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam agar menjadi suci. Kata upawasa dalam Bahasa Sanskerta artinya kembali suci. Mona artinya berdiam diri, tidak bicara sama sekali selama 24 jam.

Dhyana, yaitu melakukan pemusatan pikiran pada nama Tuhan untuk mencapai keheningan. Arcana, yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah. Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksanakan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebasan rohani yang memang juga suatu ikatan. Namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Nah, Idul Fitri maknanya kita harus berdada lebar (lapang dada). Meminta, sekaligus memberi maaf (al-‘afwu: menghapus, yakni menghapus kesalahan) kepada sesama. Sebagai manusia yang memiliki potensi untuk berbuat salah dan khilaf, maka saatnya kita menyadari kesalahan dan berusaha kembali ke fitrah dengan cara memperbaiki hubungan sesama (human relations) secara baik.

Hari raya Idul Fitri merupakan momentum untuk menyempurnakan hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah) dan secara horizontal membangun hubungan sosial yang baik (hablun minnannas). Dengan begitu, terbentuklah garis plus tanda positif (+) dari persinggungan antara yang vertikal dan horizontal tadi.

Kehidupan muslim bagaikan perjalanan panjang yang ditempuhnya, sekali-sekali istirahat sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan perjuangan spiritual dan kehidupannya yang lurus dan bersih. Istirahat sebentar itu adalah hari raya, yang di dalamnya diperbolehkan bergembira ria dengan berbagai hiburan yang mubah (dibolehkan).

Itu sebabnya, dalam bahasa Arab disebut dengan 'id'. Artinya senantiasa kembali dengan membawa kebahagiaan, kegembiraan, dan kelapangan.  Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, dalam perspektif Islam harus diisi dengan berbagai nasihat, syiar, dan ibadah yang mengandung nilai-nilai sosial, di samping kesempatan untuk membahagiakan  setiap insan di muka bumi. Allah SWT telah mengaitkan Idul Adha ini dengan nilai sosial yang abadi dalam bentuk pengorbanan.

Artinya, menyerahkan sesuatu yang dimilikinya kepada orang yang membutuhkan. Pada hari raya ini dan hari-hari tasyrik, Allah mensyariatkan bagi yang mampu untuk menyembelih hewan kurban yang dibagikan kepada fakir miskin, karib kerabat, dan sebagian untuk keluarganya sebagai upaya menebar kebahagiaan di muka bumi.

Kilasan esensi ini diungkap Allah dalam surah al-Hajj ayat 37, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik".

Jadi, jelas beda antara Hari Raya Nyepi dan shalat Idul Fitri serta Idul Adha Pak Bupati!***

Komentar

Loading...