Breaking News

Setidaknya 15 Wanita dan Anak-anak Terbunuh dalam Pembantaian Suku di Papua Nugini

Setidaknya 15 Wanita dan Anak-anak Terbunuh dalam Pembantaian Suku di Papua Nugini
Wanita hamil di antara korban pembunuhan di desa kecil Karida. Foto: theguardian.com
Penulis
Rubrik
Sumber
theguardian.com

Papua Nugini | Setidaknya 15 wanita dan anak-anak terbunuh dalam pembantaian di Provinsi Hela, Papua Nugini, dalam salah satu wabah kekerasan suku terparah di negara itu selama bertahun-tahun.

Pembunuhan terjadi Senin pagi dini hari, 8/7/2019, saat penyerangan di Karida, sebuah desa dengan sekitar 800 penduduk di pedalaman negara itu.

Philip Pimua, petugas yang bertanggung jawab di pusat kesehatan Karida, yang berada di desa saat serangan itu terjadi. Dia mengatakan kepada the Guardian  bahwa ada 16 korban - delapan anak berusia dari satu hingga 15 tahun dan delapan perempuan, dua di antaranya sedang hamil.

RNZ melaporkan ada 15 korban, 10 perempuan dan lima anak-anak, mengutip juru bicara kepolisian Tari, Thomas Levongo yang memeriksa tempat kejadian di Karida. Levongo tidak dapat dihubungi untuk dimintai keterangan.

Pimua mengatakan serangan itu terjadi sekitar pukul 6, Senin pagi, dan melihat orang-orang terbunuh setelah membuka pintu yang diketuk para penyerang.

"Saya bangun di pagi hari, dan membuat api di dapur, saat yang sama saya mendengar suara senjata, kemudian melihat beberapa rumah yang mereka bakar, jadi saya tahu bahwa musuh sudah ada di dalam desa,"  kata Pimua.

"Saya lari dan bersembunyi di semak-semak, kemudian, sekitar pukul sembilan atau sepuluh, saya kembali dan melihat banyak tubuh dipotong-potong dan rumah-rumah dibakar."

Selain senjata, parang juga digunakan dalam serangan itu.

Pimua mengatakan, dia mengenal semua korban - “mereka adalah rakyatku, aku tahu mereka” - tetapi ada yang terlalu terpotong-potong sehingga dia dan penduduk desa lainnya berjuang untuk mengidentifikasi jenazah.

"Mereka dipotong-potong. Beberapa memiliki bagian tubuh yang tidak bisa kita kenali satu sama lain, hanya wajah yang bisa kita kenali, tetapi kaki, tangan..."

Pimua mengatakan dia dan penduduk desa lainnya akhirnya membungkus mayat-mayat itu dengan kelambu, dan kemudian melarikan diri dari desa, takut para penyerang masih bersembunyi di semak-semak dan mungkin akan menyerang lagi.  Dia para penduduk berharap untuk kembali mengubur mayat-mayat pada hari ini, Rabu, tetapi mereka menunggu polisi untuk datang dan mengawal.

Pimua mengatakan serangan itu dari "musuh" dan mungkin berhubungan dengan kekerasan kesukuan, dengan mengatakan "mereka telah berperang lama di sana."

Provinsi Hela dan daerah lain di dataran tinggi Papua Nugini dilanda kekerasan suku dalam beberapa tahun terakhir.  Mulai laporan pembunuhan, pembalasan dan kekerasan seksual, semuanya diperburuk dengan meningkatnya ketersediaan senjata api.

"Ini adalah yang terburuk, yang terburuk, dalam sejarah negara ini juga," kata Pimua seperti dilansir di laman The Guardian.

Serangan ini terjadi semasa pemilihan perdana menteri baru Papua Nugini, James Marape, yang menggambarkan hari itu sebagai "salah satu hari yang paling menyedihkan" dalam hidupnya.

Dalam sebuah postingan Facebook, Marape mengatakan serangan itu dipimpin oleh orang-orang bersenjata dari suku Haguai, Okiru dan Liwi, dia akan mencari dan menghukum para pelaku, menggunakan langkah-langkah hukum terkuat.

"Mengenang orang yang tidak bersalah yang terus mati di tangan penjahat bersenjata, waktu anda sudah habis. Sekarang orang-orang belum melapor, namun pasti nantinya akan ada orang yang melapor pada saya tentang orang tak bersalah yang anda bunuh," tulisnya.

"Kepada semua orang yang memiliki senjata dan membunuh serta bersembunyi di balik topeng komunitas, belajarlah dari apa yang akan kulakukan untuk para penjahat yang membunuh orang-orang tak bersalah ... aku datang untuk mu".

Marape juga menyalahkan kurangnya sumber daya polisi di wilayah tersebut, dia meminta lebih banyak polisi permanen untuk ditempatkan di daerah itu sejak 2012, tetapi belum mendapat dukungan.

"Bagaimana sebuah provinsi dengan 400.000 orang dibidang hukum dan ketertiban, namun memiliki polisi bawah 60 orang?" Marape menulis.

Pimua ragu tentang kemungkinan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas serangan itu akan ditangkap. "Jika perdana menteri menggunakan pasukan khusus dari beberapa negara lain untuk datang dan menemukan orang-orang ini maka dia dapat melakukannya. Ok, tetapi untuk pasukan keamanan kita, saya tidak yakin," katanya.***

 

 

Komentar

Loading...