Terkait Kelanjutan Dugaan Korupsi Dermaga Sabang

Setelah Periksa 30 Saksi, Penyidik KPK Bawa Satu Koper

Setelah Periksa 30 Saksi, Penyidik KPK Bawa Satu Koper
Azhari Usman/ MODUSACEH.CO

Banda Aceh | Sekira pukul 16.30 WIB, Kamis, 5 Maret 2018. Tujuh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelesaikan tugas mereka melakukan pemeriksaan terhadap 30 saksi, terkait kasus korupsi dermaga Sabang, tahun 2004-2010.

Pemeriksaan dilaksanakan selama dua, Rabu dan Kamis, atau 4-5 Maret 2018, di Ruang Dirkrimsus Mapolda Aceh, Lingke, Banda Aceh.

Saat keluar gedung, mereka membawa satu koper warna merah, yang diduga merupakan berkas sebagai barang bukti pemeriksaan. Diluar gedung, dua mobil Inova telah menunggu mereka. ”Maaf Mas tolong jangan di foto. Kami tidak bisa memberikan keterangan apapun. Langsung saja, konfirmasi dengan Juru Bicara KPK Febri Diansyah,” tegas seorang penyidik pada media ini.

“Tolong mas, sedikit saja. Apa betul telah memeriksa lebih dari 30 saksi?,” desak media ini. Mereka kompak diam, dan meminta maaf tidak bisa menyebutkan apapun terkait hal tersebut. ”Maaf Mas ya. Kami harus pergi, karena buru-buru,” pamit pria berbaju putih ini, sambil menutup pintu mobil dan pergi.

Dirkrimsus Polda Aceh Kombes Pol. Erwin Zadma membenarkan, pemeriksaan yang dilakukan oleh Penyidik KPK telah selesai sementara. Terkait materi pemeriksaan dan siapa saja yang diperiksa, dia menganjurkan media ini untuk melakukan konfirmasi langsung dengan KPK. ”Kita hanya menyediakan tempat. Terkait siapa saja yang diperiksa, itu tolong ditanyakan KPK,” tegas Erwin Zadma.    

Menurut seorang saksi yang telah dimintai keterangan terkait kasus tersebut. Dia membenarkan sekitar 30 orang saksi telah dimintai keterangan oleh penyidik KPK. ”Saya lihat listnya, ada sekitar 30 orang dipanggil,” beber saksi tadi.

Dia tidak ingat siapa-siapa saja nama yang diperisa sebagai saksi. ”Setahu saya, beberapa staf dan direktur PT. Tuah Sejati dan PT Nindya Karya, serta staf konsultan perencana. Kalau nama-namanya saya tidak ingat,” ujar pria paruh baya ini. Dia juga menolak memberikan keterangan, tentang pertanyaan penyidik. ”Sudah ya. Saya mau pulang,” ujarnya pada media ini dan langsung menuju mobil, meninggalkan Gedung Dirkrimsus Mapolda Aceh.

Media ini telah mencoba menghubungi Jubir KPK Febri Diansyah, mempertanyakan ihwal pemeriksaan tersebut. Sayangnya, dihubungi melalui saluran telpon, dia tidak pernah mengangkat telpon selulernya. Begitupun, dikirimkan pasan WhatsApp, tidak dibalas hingga berita ini diturunkan.

Sekedar mengingatkan. Dugaan korupsi pada pembangunan Dermaga CT-3 Sabang milik Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) terjadi tahun 2011 silam. Sehingga, Ruslan Abdul Gani, mantan Kepala BPKS didakwa dan divonis bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Dia dijerat telah merugikan keuangan negara sekitar Rp 100 miliar lebih, dan telah dipenjara terkait proyek tersebut.

Menariknya, dalam surat dakwaan Bupati Bener Meriah, Aceh, Ruslan Abdul Gani yang diterima Antara di Jakarta, Kamis (4/8/2016) disebutkan. Aliran uang haram itu mengalir pada sejumlah pejabat di Aceh

Proyek pembangunan dermaga itu sendiri dikerjakan kontraktor yang sama yaitu Nindya Sejati JO (joint operation), hasil kerja sama operasi PT Nindya Karya dan PT Tuah Sejati karena ditunjuk langsung oleh BPKS. Sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan Dermaga Bongkar Sabang adalah Ramadhani Ismy dan tetap menunjuk Nindya Sejati JO sebagai kontraktor dengan cara penunjukkan langsung.***

Komentar

Loading...