Breaking News

Setelah Indonesia Barokah Muncul Tabloid 'Pembawa Pesan' di Jagakarsa

Setelah Indonesia Barokah Muncul Tabloid 'Pembawa Pesan' di Jagakarsa
Tabloid 'Pembawa Pesan' yang disebar di Jagakarsa, Jaksel. (Foto: Dok. Bawaslu DKI)
Rubrik

Banda Aceh  | Media pers, baik cetak maupun elektronik ( TV, radio dan online), seperti masih cukup ampuh dan “seksi” untuk dimainkan sebagai alat propaganda di tahun politik 2019, khususnya pemilihan presiden.

Lihatlah, setelah heboh Tabloid Indonesia Barokah yang dinilai menyudutkan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno. Kini muncul Tabloid 'Pembawa Pesan' di Jagakarsa.

Menariknya, media cetak ini justeru berisi (konten) membaguskan pasangan calon dan  lebih banyak kepada arah kampanye. Khususnya paslon 01 yaitu, Joko Widodo-Ma;ruf Amin. "Tabloid ini tidak ada konten yang menjelek-jelekkan pasangan calon, namun banyak membaguskan pasangan calon, lebih banyak ke arah kampanye. Konten lebih banyak ke kampanye paslon 01," ujar Puadi, anggota Bawaslu DKI Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Seperti diwartakan detikcom, Rabu kemarin. Bawaslu kata Puadi akan menelusuri penyebaran tabloid 'Pembawa Pesan', yang disebarkan di Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tabloid yang disebar lewat kurir ke rumah warga ini diduga melanggar ketentuan karena berkampanye di luar jadwal.

20190131-indonesia-barokah

Puadi menjelaskan tabloid 'Pembawa Pesan' disebar kurir bermotor ke rumah warga pada Minggu (27/1). Warga langsung melaporkan tabloid ini ke pengawas tingkat kelurahan karena diduga ada keterkaitan dengan tabloid 'Indonesia Barokah'.

Saat ini, tim dari Bawaslu Jaksel menelusuri redaksi pembuat tabloid 'Pembawa Pesan' yang tertulis berada di kawasan Warung Buncit, Jaksel.  "Redaksi sedang ditelusuri keberadaannya, siapa yang menyebar ini, diperintahkan kepada siapa. Walaupun memang tabloid ini tidak ada konten yang menjelek-jelekkan pasangan calon," sambung Puadi.

Berdasarkan aturan, peserta pemilu harus mematuhi ketentuan dari metode kampanye, termasuk kampanye lewat iklan di media massa yang sudah diatur jadwalnya.

Ada juga aturan PKPU 23 Tahun 2018 soal bahan kampanye, yakni semua benda/bentuk lain yang memuat visi/misi program dan/atau informasi lainnya dari peserta pemilu, simbol/tanda gambar peserta pemilu yang dipasang untuk keperluan kampanye. "Sepanjang tidak ada pemberitahuan, maka ini kategori kampanye di luar jadwal,” ungkap Puada.

Sementara itu, penyebaran tabloid 'Indonesia Barokah' semakin masif meski dalam sorotan. Setelah masuk ke Jakarta, tabloid 'Indonesia Barokah' 'menjelajah' ke wilayah Sumatera, termasuk Aceh.

Urusan tabloid 'Indonesia Barokah', yang isinya dinilai menyudutkan paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, kini masuk ke ranah Polri. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut laporan yang diterima di Bareskrim sedang dipelajari.

Polri dipastikan Tito juga akan tetap berkoordinasi dengan Dewan Pers dan ahli untuk melakukan analisis terhadap tabloid 'Indonesia Barokah' yang dilaporkan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. "Sedang dipelajari oleh dari jajaran Polri yang terkait, baik yang hukum," ujar Tito kepada wartawan, Selasa (29/1/2019).

Peredaran tabloid ini ditangkis sejumlah pihak. Selain BPN Prabowo-Sandiaga, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin juga menyatakan tak setuju dengan penerbitan 'Indonesia Barokah' yang disebar ke masjid-masjid.

"Janganlah memecah-belah umat dengan mengirim ke masjid atau tempat ibadah, jangan," kata Ketua Dewan Pengarah TKN Jokowi-Amin yang juga Ketum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla (JK).

Di Bekasi, Wali Kota Rahmat Effendi, menyarankan agar warga tidak membaca tabloid yang sudah masuk ke wilayahnya. Apalagi alamat tabloid, yang tertulis di Pondok Melati, ternyata fiktif. Sedangkan di Cengkareng, Jakbar, anggota Banser ikut mengamankan tabloid tersebut agar tak tersebar. Sedangkan Risan, pengurus DKM Masjid Jami Al-Munawwaroh, Cengkareng, mengaku akan membakar tabloid yang ditemukan bila Panwaslu tidak mengamankannya. "Kalau Panwas nanti minta ya saya serahkan, kalau nggak ya saya bakar aja," kata Risan.

Bawaslu sebenarnya sudah mengkaji konten tabloid 'Indonesia Barokah'. Anggota Bawaslu, Fritz Edward Siregar, menyebut isi tabloid tidak mengandung penghinaan atau ujaran kebencian sebagaimana diatur sebagai larangan dalam kampanye sesuai dengan Pasal 280 UU Nomor 7/2017 tentang Pemilu.

Tapi Bawaslu tetap melakukan pencegahan penyebaran tabloid tersebut. Tujuannya agar masyarakat tak resah. "Meski Indonesia Barokah dalam kajian belum masuk kategori kampanye menurut Gakkumdu, kita perlu melakukan pencegahan atas potensi keresahan publik, juga bagi media lainnya," ujar anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin.***         

Komentar

Loading...