Perceraian, Poligami dan Perselingkuhan (bagian satu)

Secarik Catatan dari Dataran Tinggi Gayo

Secarik Catatan dari Dataran Tinggi Gayo
ilustrasi/google.com
Banda Aceh | Ide penggranatan mobil dinas Mansyur Ismail, anggota DPRK Bener Meriah, Sabtu sore, 19 September 2016, (17/9/2016) lalu, berasal dari SZ (35), istri mudanya. PNS ini mengaku, tak kuasa menahan teror bahkan kekerasan pisik dan intimidasi dari almarhum Aulia Tahar (23) putra Mansyur Ismail. Karena hilang kesabaran, SZ mengadu pada adiknya AF (26). Nah, karena cinta dan kasih sayang AF pada sang kakak itulah, akhirnya berbuah perbuatan kriminal. Kini, ayah dua anak ini pun terpaksa mengikuti jejak sang kakak, berurusan dengan aparat penegak hukum. Seperti apa kisahnya? Wartawan MODUSACEH.CO, Muhammad Shaleh menulisnya untuk laporan Fokus pekan ini.
***
ITU sebabnya, kasus pengranatan mobil tadi, tak semata-mata hanya dilihat dari aspek kriminal. Tapi, ada sisi lain  yang mungkin saja luput dari perhatian publik selama ini yaitu sosial, budaya dan ekonomi. Ternyata, dataran tinggi Gayo (Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah), tak hanya memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang subur, tapi juga menyimpang praktik perselingkuhan serta poligami yang berujung pada keretakan rumah tangga dan berakhir dengan perceraian.
 
Setidaknya, secara umum ada tiga penyebab terjadinya perselingkuhan, perceraian dan poligami. Pertama, karena himpitan ekonomi, termasuk kemiskinan, sehingga banyak wanita di sana khususnya atau Aceh dan Indonesia umumnya, rela untuk menjadi istri kedua. Sebaliknya, istri pertama pun ‘terpaksa harus rela’ suaminya menikah lagi, karena tak ada alternatif untuk keluar dari persoalan tadi. Selain itu, juga persoalan pelayanan biologis. Baik yang menjadi penyebab dari laki-laki maupun perempuan.
 
Kedua, munculnya perbuatan perselingkuhan, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan, juga tak lepas dari faktor ekonomi dan kemiskinan. Selain, mulai lunturnya pemahaman nilai-nilai agama dan budaya pada masyarakat setempat. Termasuk kurangnya tanggungjawab suami pada istri. Baik nafkah lahir maupun batin. Kenyataan ini, ikut didukung kondisi udara dingin yang membalut dataran tinggi Gayo. Walau tak sama persis, setidaknya persoalan ini memang memiliki benang merah dari kasus yang menimpa Masyur Ismail, anggota DPRK Bener Meriah. Maklum, saja, wakil rakyat itu memiliki dua istri. Nurma (istri pertama) dan SZ, istri kedua. Tak jelas, alasan apa sehingga Mansyur melakukan poligami.
 
Memang tak ada larangan dalam agama (Islam) dan negara, tapi perkawinan kedua itulah bisa disebut sebagai cikal bakal aksi nekat putranya, Aulia Tahar (23) untuk menteror, intimidasi serta melakukan kekerasan terhadap SZ, ibu tirinya. Dan, bisa jadi, almarhum Aulia Tahar tak rela jika cinta dan kasih sayang sang ayah Mansyur Ismail terhadap ibu kandungnya (Nurma) terbagi pada SZ. Dan, kenyataan itu pula yang membuat Aulia kerap menteror, bahkan melakukan kekerasan pisik terhadap SZ. Sebagai anak, dia tak setuju dengan pilihan serta keputusan sang ayah, hingga akhirnya nekat bertindak dan membela Nurma sebagai ibu kandungnya.
***
Data dari Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Aceh Tengah mengungkap, angka perceraian di daerah itu selama dua tahun terakhir, memang meningkat tajam. Ini sejalan dengan banyaknya kasus gugat cerai yang didaftarkan, terutama cerai gugat dari pihak istri yang menggugat cerai suami. Sepanjang tahun 2014 misalnya, terdapat 421 perkara perceraian dengan rincian 141 cerai talak dan 280 cerai gugat. Disusul 2015, angka perceraian meningkat beberapa persen. Jumlah perkara perceraian yang terdaftar di tahun 2015 ada 480 perkara. Rincinya, 173 cerai talak dan 307 cerai gugat. Intinya, pihak perempuan yang paling banyak menggugat cerai daripada laki-laki.
 
Penyebabnya? Ya itu tadi. Tahun 2014, terdapat 115 perkara peceraian lantaran tidak ada tanggung jawab dan 178 perkara disebabkan lantaran kurang harmonis dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Selain itu, faktor cacat biologis (3 perkara), cemburu (1 perkara), ekonomi (3 perkara), nikah di bawah umur (1 perkara), serta gangguan pihak ketiga ada (4 perkara). Begitu juga di tahun 2015, dari 480 perkara perceraian yang didaftarkan, faktor terbesar akibat kurang harmonisnya rumah tangga yang mencapai 306 perkara, sedangkan karena tidak bertanggung jawab ada 93 perkara. Krisis moral 1 perkara, penganiayaan berat 1 perkara, kekejaman mental 1 perkara, cemburu 1 perkara, kawin paksa 2 perkara, nikah di bawah umur 1 perkara, dan gangguan pihak ketiga ada 4 perkara.
 
Tingkat perceraian yang terjadi rata-rata pasangan yang umur pernikahannya belum berlangsung lama. Bahkan sebagian besar usia pernikahan antaran dua hingga lima tahun. Ironisnya, ada juga pasangan yang baru menikah beberapa bulan, lalu bercerai. Penyebab terbanyaknya karena kurang harmonis dan tidak bertanggung jawab. Hanya itu? Tunggu dulu. Banyak pasangan yang memilih berpisah karena faktor tidak adanya tanggung jawab, ini terkait dengan penelantaran anak maupun istri. Bahkan sebagian mengaku tidak diberikan nafkah lahir maupun batin sehingga berujung pada perceraian. Ada juga karena tidak harmonis. Salah satu penyebabnya adalah  perselingkuhan.***

Komentar

Loading...