Sidang Pledoi Korupsi Ternak Lhokseumawe

Sambil Menangis, Rizal Tuding Wali Kota Zalimi Dirinya

Sambil Menangis, Rizal Tuding Wali Kota Zalimi Dirinya
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Sambil mengusap air mata, Rizal (57), terdakwa korupsi pengadaan ternak melalui APBK Lhokseumawe 2014, Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian (DKPP) Lhokseumawe, Rp 14,5 miliar menuding bahwa, Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya telah menzalimi dirinya hingga terlibat dalam kasus tersebut.

"Semua menzalimi saya. Mulai dari Wali Kota (Suadi Yahya), anggota DPRK (periode 2009-2014), bahkan anak buahnya yang membuat kontrak dengan rekanan tanpa sepengatahuan saya," ucap Rizal dengan isak tangis saat membacakan pledoi pribadi, di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Banda Aceh, Jumat (7/12/18).

Kata Rizal, sebenarnya dia adalah pria tegar dan tak pernah menetes air mata sepahit apapun masalah yang ia hadapi. Namun, tiba-tiba saja dirinya merasa sedih setelah melihat Dahlina (47), Pejabat Pengadaan dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) di DKPP yang juga terdakwa dalam kasus itu, menangis saat membacakan pledoi pribadi.

"Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Bu Dahlina dan anak-anaknya. Karena, Bu Dahlina seorang janda yang harus menghidupi dua anaknya. Saya juga memikirkan keluarga saya, yang hingga kini masih tinggal di rumah mertua, mulai dari anak, istri dan menantu masih tinggal dalam satu rumah," ungkap Rizal dihadapan Majelis Hakim Tipikor Banda Aceh, Elly Yurita,SH., MH (ketua) bersama Dr. Edward dan Nani, SH. (anggota).

Sebelumnya, Dahlina juga mengaku tak menyangka ditetapkan sebagai terdakwa dalam kasus tersebut. Sebab, dirinya merasa tidak pernah melakukan pekerjaan diluar yang seharusnya dilakukan.

"Saya shok mendengar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Lhokseumawe. Karena, langsung terpikir dengan nasib dua anak saya yang masih sekolah. Dan, sekarang saja, ibu saya yang membiayai kebutuhan mereka. Mohon, diringankan hukuman saya majelis hakim," harap Dahlina.

Tersangka lain, Ismunazar (43) Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), mengaku tidak menyangka terlibat dalam kasus tersebut. Setahunya, dia berkerja sesuai dengan perintah atasan dan mempunyai Surat Keputusan (SK) dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.

"Namun, apalah daya. Saya juga ditetapkan sebagai terdakwa dalam kasus ini, padahal saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Saya meminta majelis hakim memberikan hukuman seringan-ringannya. Karena, saya mempunyai tanggungjawab sebagai seorang ayah bagi dua anak saya dan istri," harap Ismunazar dengan nada terisak-isak.

Memang, sidang ini, JPU Kejari Lhokseumawe, Fery Ichsan menghadirkan tiga terdakwa dengan agenda pembacaan pledoi. Sebelumnya pledoi tertulis dibacakan kuasa hukum masing-masing. Ketiga terdakwa, juga diberikan waktu untuk membacakan pledoi pribadi. Selanjutnya, sidang ditunda dan dilanjutkan Jumat pekan depan dengan agenda putusan.

Sebelumnya, Pemko Lhokseumawe melalui DKPP mengalokasikan dana Rp 14,5 miliar dalam APBK tahun 2014 untuk pengadaan ternak berupa lembu. Selanjutnya, lembu tersebut dibagikan pada puluhan kelompok masyarakat di Kota Lhokseumawe.

Namun, akhir tahun 2015, pihak kepolisian menemukan adanya indikasi korupsi, sehingga mulai melakukan penyelidikan dan ditemukan data, adanya dugaan pengadaan sejumlah lembu adalah fiktif.

Pada pertengahan Juni 2017 lalu, penyidik meningkatkan status kasus ini dari penyelidikan ke tahap penyidikan. Lalu, menetapkan tiga tersangka, yakni Dahliana (47) sebagai Pejabat Pengadaan dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Ismunazar (43) sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), dan Rizal (57) manta Kepala DKPP Lhokseumawe.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...