Samade Minta Pemerintah Aceh Tegas Soal Harga Sawit

Samade Minta Pemerintah Aceh Tegas Soal Harga Sawit
Foto: Ilustrasi (SINDOnews)

Meulaboh | Asosiasi Sawitku Masa Depanku (Samade) meminta Pemerintah Provinsi Aceh berlaku tegas terhadap penentuan harga beli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Sebab, hingga saat ini spekulasi harga di tingkat petani semakin masif dan merugikan.

Saat dihubungi dari Meulaboh, Wakil Ketua Asosiasi Samade Aceh, Nurdin mengatakan. Harga jual TBS kelapa sawit di tingkat petani Aceh secara umum, paling tinggi Rp900 per kilogram, sementara harga beli di perusahaan pabrik kelapa sawit Rp1.120 per kilogram.

"Standar harga beli buah sawit, saya pikir sudah ada dan ditetapkan, tetapi di lapangan kita melihat belum berjalan. Artinya, pengawasan terhadap indikasi permainan harga jual beli TBS itu masih sangat masif di beberapa kabupaten," katanya, Senin (1/4/2019).

Nurdin menuturkan, pengaruh pasar global terhadap kebutuhan sawit sebagai bahan baku mentah, juga menjadi salah satu faktor secara nasional, namun sejatinya tidak begitu besar berdampak kepada produsen yang paling rendah. 

Pihak pertama yang diduga melakukan permainan harga tersebut menurut dia adalah agen penampung lokal, yakni mitra perusahaan yang menyediakan pasokan bahan baku untuk olahan minyak mentah crude palm oil (CPO) di berbagai perusahaan.

Dia berharap, semua pihak tidak menginginkan masyarakat dan perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit sebab akan terus merugi. Karena itu mereka membutuhkan solusi kongkrit untuk memutuskan mata rantai penjualan di seluruh Aceh.

"Tidak semua mitra kerja perusahaan sawit di Aceh itu berlaku jujur saat membeli sawit petani, mulai dari harga sampai kepada timbangan yang digunakan sering kita temui tidak sesuai, ini merugikan masyarakat sebagai produsen paling bawah," tegasnya.

Ia melihat infrastruktur untuk bisnis sektor perkebunan sawit di Aceh masih terbatas. Salah satunya perusahaan masih dominan menggunakan jalur darat untuk pengangkutan material sehingga berdampak terhadap pelanggaran lalu lintas angkutan.

"Akses transportasi dari kebun masyarakat ke perusahaan juga berdampak, kalau medan jalan sulit dan jauh, tentu harga beli sawit petani jauh lebih rendah. Hal seperti ini masih sering terjadi di beberapa daerah," ungkap dia.***

Komentar

Loading...