Sidang Lanjutan Politik Uang Pilkada Bireuen

Saksi Mengaku Terima Uang

Saksi Mengaku Terima Uang
Zulhemli/MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Bireuen I Pengadilan Negeri (PN) Bireuen kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan praktik money politik (politik uang) dengan terdakwa Rini Yanti, Rabu 29 Maret 2017.

Sidang hari ini beragendakan pemeriksaan saksi. Sebelumnya PN Bireuen telah menggelar sidang pertama, Senin, 27 Maret 2017 lalu. Sidang lanjutan itu dipimpin Ketua Majelis Hakim, Fauzi S.H,M.H dengan anggota Maulana Rifai SH,M.Hum dan Muchtar SH.MH.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Dede Mauladi SH, Eko Jarwanto SH dan Siara Nedy, SH, menghadirkan 4 saksi. Masing-masing, Zulfikar S.Sos.I, Ketua Divisi Hukum dan Penindakan Pelanggaran Panwaslih Bireuen, Linawati, Asnidar dan Asbarina.

Dihadapan Majelis Hakim Zulfikar memberikan kesaksian, pihaknya menerima 10 laporan dugaan money politik pada 18 Februari 2017, kemudian melakukan klarifikasi dengan memanggil terlapor dan saksi, yaitu Linawati dan Asnidar.

“Pada tahap ini kita tidak memeriksa terdakwa, setelah diplenokan, kasus itu bisa ditindaklanjuti ke tahap selanjutnya. Lalu kita serahkan ke penyidik kepolisian untuk diproses lebih lanjut,” ungkap Zulfikar.

Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi Linawati dan Asnidar, mereka menerima uang Rp 100 ribu untuk memilih Paslon Nomor Urut 6, Saifannur-Muzakkar. Linawati menerima uang dari Rini Yanti pada 14 Februari 2016 malam, sekira pukul 20.00 WIB. Sementara, Asnidar menerima uang Rp 100 ribu dari Maryam. “Kasus dengan tersangka Maryam ini juga telah dilimpahkan ke penyidik kepolisian,’ terang Zulfikar.

Dua saksi lainnya, Linawati, dan Asbarina mengaku, mencoblos pasangan nomor urut 6 Saifannur-Muzakkar karena saat diberikan uang terdakwa Rini Yati berpesan memilih Paslon nomor 6, bila tidak maka uang tersebut yang mereka terima dinyatakan haram.

Saksi Linawati juga mengatakan, dirinya terlebih dahulu menyerahkan foto copy KTP agar bisa mendapatkan uang yang dijanjikan Rp 100 ribu. Dia juga diminta tandatangan di sebuah kertas putih.

“Banyak kertas putih lainnya yang diperlihatkan kepada saya, cuma disuruh tanda tangan, sementara nama dan lainnya ditulis Rini. Kata Rini, kertas itu nantinya untuk membuat proposal pada Paslon nomor 6. Uang yang diberikan itu sudah saya serahkan ke Panwaslih Bireuen.

Menurut Linawati, terdakwa Rini Yanti datang ke rumah mereka pada 14 Februari 2017 malam, sekira pukul 20.00 WIB, memberikan uang Rp 100 ribu padanya dan anaknya Asbraina Rp 100 ribu juga. Uang tersebut diambil terdakwa dari kantong plastik hitam yang dibawanya.

“Saya tidak tahu apa dalam kantong itu isinya uang semuanya yang mulia, tapi yang pasti uang yang diberikan untuk kami diambil dari kantong itu. Saya juga tidak tahu dari mana uang yang diberikan terdakwa berasal,” sebut Linawati.

Linawati menyebutkan, saat memberikan uang terdakwa Rini Yanti berpesan nyan cok peng hana pilih, harem peng nyan (itu kalau ambil uang tak pilih, maka uang itu haram,” ungkap Linawati.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...