Iklan HUT 16 TAHUN MODUS ACEH

Sidang Lanjutan Dugaan Pelanggaran UU ITE

Saksi Ahli Bahasa: Komentar Terdakwa Memenuhi Unsur Pencemaran Nama Baik!  

Saksi Ahli Bahasa: Komentar Terdakwa Memenuhi Unsur Pencemaran Nama Baik!  
Azhari Usman/ MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Syarifah, petugas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Provinsi Aceh menjelaskan. Komentar  terdakwa Mawardi alias Mento, anggota Tim Utama Relawan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah pada Pilkada 2017 lalu, pada dinding facebook Hendro Saki telah memenuhi unsur pencemaran nama baik terhadap Pimpinan Redaksi (Pimred) Tabloid MODUS ACEH Aceh, H. Muhammad Saleh.

Penengasan itu disampaikan Syarifah saat menjadi saksi ahli bahasa dalam sidang lanjutan, perkara kasus dugaan pencemaran nama baik (penistaan) dan perbuatan tidak menyenangkan, melalui media sosial (elektronik) dengan terdakwa Mawardi alias Mento, digelar di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Keudah, Kota Banda Aceh, Rabu (6/6/2019).

Syarifah berpendapat. Ada tiga unsur dalam satu kalimat dikatakan telah mengandung pencemaran nama baik, yakni identitas, tuduhan dan diketahui oleh khalayak ramai. Dia menilai komentar Mento telah memenuhi ketiga unsur tersebut. Pertama, Mento menulis dengan kata “buat bom sendiri”. Sejauh yang dia pahami, komentar bermakna objek atau orang tunggal. Objek yang dimaksud adalah Bang Saleh (Muhammad Saleh), karena telah disebutkan dalam komentar Hendro Saki.

“Kalimat yang ditulis terdakwa (Mento) merujuk pada kalimat sebelumnya (status facebook Hendro Saki). Kan, status awalnya, “turut berduka atas musibah yang dialami Bang Saleh. Kantornya dini hari tadi sekitar pukul 4.00 WIB dilempar bom”. Tanpa disebutkan namanya, sudah pasti kata-kata “buat bom sendiri, ngebom sendiri” ditujukan pada Bang Saleh,” ungkap Syarifah menjawab pertanyaan Majelis Hakim PN Banda Aceh, Tati Astuti, SH,. MH (ketua) Sadri, SH., MH dan Supriadi SH,.MH (anggota) serta Muarilsyah, SH,. MH (Panitra Pengganti).

Syarifah juga mengaku telah beberapa kali dimintai menjadi saksi ahli bahasa pada beberapa kasus dugaan pencemaran nama baik (penistaan) dan perbuatan tidak menyenangkan, melalui media sosial (elektronik) atau UU ITE di beberapa Polres di Aceh. Bahkan, dia mengaku menjadi saksi ahli bahasa kasus Timphan dengan pelapor Darwati A Gani, istri Gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf.

20190206-ba8457bd-9f3c-4b90-83ab-d88c8d9bc2ac-1

Sementara itu, terdakwa Mento mengakui jika komentar tersebut ditulis secara sadar dan saat itu sedang berada di Cafe Quantum, Kawasan Lampineung, Kota Banda Aceh. Katanya, komentar tersebut tidak bermaksud menuduh Muhammad Saleh sebagai perakit bom dan meledakkan sindiri bom tersebut.

“Susah kami memahami, jika saudara (Mento) mengaku tidak bermaksud menuduh Bang Saleh. Karena kata-katanya sangat jelas menyudutkan. Tapi, itu hak saudara membela diri. Namun, kami tegaskan bahwa kejujuran saudara mengakui perbuatan ini sebagai bagian pertimbangkan hukuman,”ujar Tati Astuti, SH,. MH mengomentari jawaban Mento.

Memang, dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Banda Aceh,  Maulijar, S.HI,. S.H menghadirkan saksi ahli bahasa, Syarifah untuk memberi pendapat dalam kasus tersebut.

Pada sidang sebelumnya, Rabu (23/1/2019), Maulijar telah menghadirkan dosen MIPA Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Muslim, SSI., M. Impotek, sebagai saksi ahli ITE. Dalam kesaksiannya, Muslim mengatakan. Ucapan terdakwa, Mawardi alias Mento dalam dinding facebook milik Hendro Saki seakan-akan menuduh H. Muhammad Saleh, Pimred Taboid MODUS ACEH telah merakit bom sendiri dan meledakkan sendiri, seperti yang sudah-sudah. Selanjutnya, sidang ditunda dan dilaksankan kembali, Rabu (13/2/2019) dengan agenda tuntutan.

Dalam kasus ini, JPU Kejari Banda Aceh, Maulijar, S.HI,. S.H telah menghadirkan empat saksi yaitu, Pimpinan Redaksi MODUS ACEH, H. Muhammad Saleh (saksi pelapor), Azhari Usman, Hendro S. Koto (pemilik akun facebook) dan Antoni Sanjaya (saksi) serta terdawa tunggal Mawardi alias Mento, pada sidang perdana, Rabu bulan lalu.

Sekedar mengulang, Pimpinan Redaksi (Pimred) Tabloid MODUS ACEH, H. Muhammad Saleh, SE melaporkan pemilik akun facebook Mento atau bernama asli Mawardi pada Petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Banda Aceh, Senin (2/7/18) sore. Laporan itu terkait komentar Mento yang juga anggota Tim Utama Relawan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah pada Pilkada 2017 lalu.  Kecuali itu, Mento juga staf Darwati A.Gani saat masih menjadi anggota DPR Aceh. Dan, laporan itu diterima Bripka Kausar Nasution.

Berawal dari akun facebook Hendro Saky, seorang wartawan di Banda Aceh yang diunggah, 30 Juni 2018. Dalam unggahannya, Hendro Saky mengucapkan turut berduka atas musibah yang dialami Bang Saleh (Pimred MODUS ACEH), karena Kantor Redaksi MODUS ACEH telah dilempar bom oleh orang tak dikenal (OTK), Sabtu pagi, sekira pukul 4.00 WIB, Sabtu.

Lantas, Mento berkomentar dengan kata-kata: “buat bom sendiri, negbom sendiri. Kayak dulu2 jua...Kwkwkwkwkw,” tulis Mento dalam komentarnya. Lalu, sempat dibalas Hendro dengan meminta agar Mento bersabar dan menunggu hasil kerja polisi (Inafis) dan tidak menghakimi dengan menjunjung azas praduga tak bersalah. Tapi bukannya berhenti, Mento masih saja membalas kalimat Hendro.

20190206-20190116-6151142a-4e01-4041-8ee3-22db7f9c37a0_1

Itu sebabnya, melalui surat bukti lapor Nomor LPB/409/VII/YAN25/2018/SKPT dan berdasarkan laporan polisi nomor; LPB/409/VII/YAN25/2018/SKPT, tanggal 2 Juli 2018, Muhammad Saleh melaporkan Mento dengan perkara penistaan dan pencemaran nama baik melalui media sosial facebook. "Ini sudah bisa dikenakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, tentang Informasi Transaksi Elektronik (UU ITE)," kata seorang petugas polisi di Poltabes Banda Aceh, usai mendengar laporan Muhammad Saleh.

Menurut dia, pernyataan Mento di facebook itu tidak perlu terjadi, karena sangat tidak mendasar dan menganggu serta menghakimi kerja polisi. Sebab, belum sampai satu kali 24 jam kejadian peletakkan bom di Kantor Redaksi Tabloid MODUS ACEH, dia sudah berkomentar seperti itu. "Harusnya dia berkaca pada peristiwa bom gereja Surabaya. Ada sejumlah warga yang terpaksa berurusan dengan polisi dari mengunggah sejumlah komentar di media sosial sehingga diproses hukum," ujarnya. Selanjutnya, sidang ditundan dan dilanjutkan Rabu dua pekan mendatang, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli bahasa.***

Komentar

Loading...