Breaking News

Semula Diajak, Belakangan Mulai Tak Dilibatkan

Rustam Effendi Tolak Honor Staf Ahli Bappeda Aceh

Rustam Effendi Tolak Honor Staf Ahli Bappeda Aceh
Rustam Effendi/Foto Dok
Penulis
Rubrik

 Banda Aceh | Tenaga ahli Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi  Aceh Rustam Effendi menolak biaya honor staf ahli. Penolakan itu disampaikan ketika Bagian Keuangan Bappeda Aceh menghubunginya melalui telpon, Kamis (04/01/2018). “Tolong beritahukan bahwa saya tidak mengambil honor sebagai Staf Ahli Bappeda untuk beberapa bulan yang tersisa, karena saya tidak pernah lagi dilibatkan untuk bekerja sesuai tugas sebagai Staf Ahli seperti yang diamanahkan dalam SK pengangkatan,” kata pengamat  ekonomi dari Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB)  Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), melalui telpon, Sabtu (06/01/2018).

Saat dikonfirmasi media ini, Rustam Effendi membenarkan keputusannya itu. Katanya, dia mulai tidak ikut dilibatkan sekitar September 2017 lalu. Sebelumnya Rustam Effendi aktif diajak Bappeda Aceh sesuai SK yang diterima sebagai Staf Ahli Bappeda Aceh. “Mulai September 2017 mulai tidak dilibatkan. Jadi awal saya aktif, penyusunan  draft RPJM dari Bab 1 sampai 4, itu saya yang pimpin,” katanya.

Ketika Rustam Effendi tidak diajak, ia berupaya bertanya dan mendatangi pimpinan Bappeda Aceh. “Memang saya datang dan menanyakan apa yang bisa saya kerjakan, saya tidak tahu mengapa mereka mulai tidak mau melibatkan saya. Saya tidak tahu penyebabnya. Saya bertanya apa yang bisa saya buat,” ujarnya.

Lanjut Rustam Effendi. “Saya hubungi Kepala Bappeda tidak diangkat, Sekretaris Bappeda ada juga saya tanya, tapi tidak bisa memberi jawaban. Kepala Bidang Program Farid Wajdi  juga saya tanya, jawabanya agak mengambang, seperti ada sesuatu, seperti ada yang disembunyikan. Bukan tidak ada saya tanya, saya tanya,” sebut akademisi itu.

Itu sebabnya, tatkala melihat sinyal kurang bersahabat, setelah beberapa kali bertanya sesuai SK yang dipercayakan padanya, Rustam Effendi mulai tidak datang lagi. “Pagi Kamis dihubungi saya oleh Bagian Keuangan Bappeda untuk ambil uang honor. Tapi saya bilang tidak usah diberikan. Dia tanya kenapa? Saya jawab merasa tidak berhak, bukan saya tidak aktif, tetapi tidak mau diminta pandangan lagi. Tidak diminta pendapat, tugas juga tidak diberikan,” jelas Rustam Effendi yang dihubungi media ini, Sabtu sore.

Ia mencoba bertanya kepada beberapa orang penting di Bappeda, karena Rustam Effendi mendapat SK. “Saya bertanya apa tugas saya, termasuk penyusunan RPJM. Bahkan waktu uji publik di Hotel Hermes, saya juga tidak diundang. Saya berapa kali bertanya tidak ada jawaban, mereka seperti kompak. Tetapi tidak mau terbuka, tapi saya mengerti,” tegas Rustam Effendi.

Padahal, sebagai Staf Ahli di Bappeda memang bidangnya. “Sebenarnya itu memang bidang saya, Bappenas ajak saya, begitu juga orang luar yang diminta pendapat untuk beri materi. Saya melihat seperti nuasa politik, seperti takut pada saya karena bukan tim mereka dulunya,” kata Rustam Effendi, membaca gelagat itu ia mulai tidak diajak lagi sebagai akademisi yang menerima SK Staf Ahli di Bappeda.

Rustam Effendi mengaku, yang ajak ia sebagai tenaga ahli itu Kepala Bappeda Azhari Hasan sendiri yang  menghubunginya. “Waktu dihubungi, saya tanya pada dia, apa yakin sama saya, apa nyaman sama saya. Semula saya agak berat waktu itu, kurang yakin. Karena saya memang meluruskan jika dalam pembahasan,” katanya.

Misal dalam penyusunan draft RPJM mulai Bab 1 sampai 4, dalam SK ada sekitar 70 orang, tapi yang hadir kata Rustam Effendi sekitar 30 orang, ia memberi tahu tidak boleh seperti itu berkerja. “Ngak boleh seperti itu, memang ngak nyaman kalau ada saya,” duga Rustam Effendi.

Lanjutnya lagi, membaca seperti menjaga citra, seakan-akan ada yang ditakuti. Karena ia bukan tim sukses atau pemenangan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh saat ini. Mungkin kalau ada Rustam Effendi, mereka tidak nyaman. “Saya profesional saja bekerja. Bahkan saya kasih tahu jangan takut, kalau ada yang tidak paham ada saya. Sepertinya Kepala Bappeda Aceh takut pada timses, mungkin ada yang dia takuti, itu bahaya,” ujarnya.

Sebut Rustam Effendi, besaran honor sebagai Staf Ahli Rp 3.5 juta setelah dipotong pajak. “Saya tidak ambil karena saya tidak ada kontribusi lagi. Merasa tidak berhak lagi karena saya tidak dilibatkan, bukan saya tidak mau, saya mau bekerja tapi terkesan saya tidak mau dilibatkan. Kesanya seperti itu saya lihat. Kita perlu makan-minum, kita bukan malaikat. Tapi kalau pola-pola begitu tidak bekerja, saya tidak mau ambil honor,” kata Rustam Effendi.

Rustam Effendi dilibatkan sebagai tenaga ahli di Bappeda sejak Maret 2017 lalu. Dan mulai menjadi tenaga ahlisejak tahun 1992. “Kalau tenaga ahli saya mulai tahun 1992, waktu itu masih S1,” ujarnya. Memang Rustam Effendi, termasuk akademisi kritis memberi pandangan berbagai kebijakan Pemerintahan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Termasuk pernah berpendapat bahwa tim penyusunan draft RPJM Aceh Hebat, ikut dikritik yang mengatakan seperti Bappeda tandingan.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - yuk ikutan polling-nya! -

Komentar

Loading...