Breaking News

Di Balik Tim RPJM Bentukan Irwandi-Nova

Rustam Effendi: Seperti Ada Bappeda Tandingan!

Rustam Effendi: Seperti Ada Bappeda Tandingan!
Rustam Effendi/MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

 Banda Aceh | “Mulai yang baik itu dengan hal-hal yang baik. Kesenangan (euforia) kemenangan boleh saja tetapi jangan berlebihan, jalan masih panjang," kata Rustam Effendi merespon pembentukan tim penyusun draft  Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2018-2022 Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih, Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah, Jumat (09/06/2017). Menurut Rustam Effendi, membentuk tim penyusun draft RPJM itu, sesuatu yang aneh. Karena Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004  jelas menyebutkan bahwa itu tugas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). “Setahu saya, nama tim penyusun ini adalah sesuatu yang aneh,” ujar Rustam Effendi, Jumat.

Rustam juga mengaku, dari 60 anggota tim RPJM bentukan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah, diperkirakan hanya 10 persen yang punya kapasitas dan kompetensi. “Yang lainnya pelengkap saja. Mungkin bagus juga supaya ada pekerjaan,” kata Rustam.

Adanya tim penyusun draft RPJM, menurut Rustam Effendi seperti ada Bappeda tandingan di Aceh atau mengawali pemerintahan Irwandi-Nova. Sebab, jika ada kekhawatiran dalam RPJM tidak terakomodir visi-misi dan sejumlah program unggulan, tentu ada wadahnya. "Untuk pembahasan RPJM, ada Musrembang, jadi masih banyak langkah. Seakan-akan muncul Bappeda tandingan,” tegas Rustam Effendi. Kata Rustam, seharusnya menanamkan niat baik dan percaya dulu, agar tidak mengganggu ke depan. “Jangan seperti lima tahun yang lalu lah,” kata Rustam Effendi, menyarankan.

Soal enam bidang tim RPJM, menurut Rustam Effendi ada yang keliru. Salah satunya, membuat bidang pertumbuhan ekonomi. Bahkan kata Rustam, terkesan tim kurang paham masalah. “Bukankah pertumbuhan ekonomi itu bagian dari bidang ekonomi. Mengapa harus ditempatkan sebagai bidang pertumbuhan ekonomi. Benar-benar absurd (menggelikan),” ujar Rustam. Seharusnya sebut Rustam Effendi, itu dibagi sebagai bidang ekonomi, mencakup banyak hal lain yang sedang menjadi isu krusial/kritis yang harus ditangani secara taktis. Seperti persoalan investasi,  lapangan kerja, ekspor-impor,  nilai tukar petani/nelayan, pengendalian inflasi, termasuk pengelolaan keuangan daerah, kinerja badan usaha milik daerah, dan lainnya, yang memang sedang bermasalah dan jadi tantangan berat Aceh ke depan. “Pertumbuhan ekonomi itu adalah bagian dari masalah besar yang ada,” katanya. 

Itu sebabnya kata Rustam, mungkin tim tidak dimengerti dengan baik. “Kelemahan dalam membaca kondisi kekinian ekonomi daerah, ini merupakan sesuatu yang kontras sekali jika dibanding dengan jumlah personil dalam tim dan tingginya euforia mereka yang terbaca oleh publik sekarang ini,” kritik Rustam Effendi. 

Lain lagi ketiadaan bidang agama, juga sesuatu yang kurang sesuai dalam konteks Aceh, sebagai daerah yang memiliki hak khusus di negara ini, dalam mengimplementasi syariat Islam. Seharusnya jelas Rustam, agama tetap jadi fokus perhatian, tidak bisa dibiarkan tanpa sentuhan khusus. Alasan yang dibuat tim bahwa agama masuk ke dalam bidang sosial budaya, menurut Rustam kurang tepat, terkesan menutupi kecolongan. “Sebaiknya harus ditempatkn bidang agama secara khusus, tidak boleh sekadarnya. Tidak salah jika dibuat bidang agama dan sosial budaya. Dengan fokus bidang agama begini, maka strategi dan arah kebijakan jadi lebih terarah,” katanya (ulasan lengkap baca MODUS ACEH edisi, Senin, 12 Juni 2017).***              

 

"Pileg dan Pilpres 2019" - vote sekarang juga -

Komentar

Loading...