Breaking News

Diduga Kuasai Tanpa Hak

Reskrim Polres Aceh Timur Tangkap 'Pencuri' Sawit PT. Makmur Inti Bersaudara

Reskrim Polres Aceh Timur Tangkap 'Pencuri' Sawit PT. Makmur Inti Bersaudara
Barang Bukti Pencurian Sawit. Foto; Ist

IDI | Tim Reskrim Polres Aceh Timur, Minggu malam (22/4/2018) menangkap dua pekerja yang juga warga Desa Seunebok Bayu, Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur. Penangkapan itu terkait dugaan adanya pencurian dua pengangkut atau setara tujuh ton tandan buah segar (TBS) sawit, milik PT. Makmur Inti Bersaudara, di lokasi tersebut.

Kabarnya, aksi tak patut ini telah berlangsung sejak tujuh tahun lalu dan menurut taksiran ahli perkebunan sawit, hasil kebun yang ”bocor” alias dikuasai secara tidak sah ini mencapai Rp 17 miliar. Dan, dana sejumlah itu pula, negara melalui Bank BNI merugi, Rp 17 miliar. Yang jadi soal, kemana dana segar itu mengalir dan siapa yang menikmatinya?

20180424-hasanuddin

Hasanuddin

Sumber media ini di Polsek Indra Makmur dan Polres Aceh Timur membenarkan penangkapan dua pengangkut sawit tersebut. “Benar, kami telah menangkapnya dan barang bukti telah kita amankan,” kata sumber media ini dijajaran kepolisian setempat. Namun, dia tak bersedia memberi keterangan lebih rinci. Begitupun, pihaknya telah meminta keterangan sejumlah saksi. Termasuk dua pengangkut sawit tadi.

Nah, untuk sementara muncul dugaan, aksi sepihak dan tanpa izin itu, disutradarai seorang mantan manager lapangan yaitu Hasanuddin. Sebab, sejak perkebunan sawit itu disita oleh negara, melalui kurator Bank Negara Indonesia (BNI), mantan pemiliknya yakni Razali Rohimun masih berhubungan dengan manager lapangan dan sejumlah pekerja.

Sekedar mengulang, perkebunan sawit itu awalnya berada di bawah bendera PT. Dwi Kencana  Semesta milik Razali Rohimun yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Untuk mengarap kebun seluas 6.775 hektar lebih ini. Razali mengambil kredit pada BNI. Namun, sejak tujuh lalu, Razali tak mampu melunaskan utangnya pada bank milik negara (BUMN) ini. Akibatnya, kebun tersebut disita untuk negara atau BNI. Selanjutnya, BNI melakukan pelelangan dan dimenangkan PT. Makmur Inti Bersaudara.  Ini sesuai dengan Surat Penetapan Pengadilan Negeri Kelas 1-A Medan No.06/Pdt.Sus-Pailit/PN Niaga Medan, tanggal 21 Maret 2018.

Itu sebabnya, sejak pengalihan kepemilikan, seluruh aset dan tata kelola kebun, sepenuhnya menjadi hak dan milik PT. Makmur Inti Bersaudara. "Sejak menerima surat penetapan Pengadilan Negeri Kelas 1-A Medan, 21 Maret 2018, perusahaan perkebunan Sawit PT. Dwi Kencana Semesta sudah beralih kepemilikan kepada PT. Makmur Inti Bersaudara," tegas Alexander Leonardo Siagian, perwakilan PT. Makmur Inti Bersaudara pada media ini, Kamis, 12 April 2018 lalu di ruang kerjanya.

Menurut Alex, adapun aset PT. Dwi Kencana Semesta yang telah menjadi kepemilikan PT. Makmur Inti Bersaudara berupa tiga bidang tanah/kebun sawit dalam satu hamparan/satu kesatuan, berikut bangunan beserta sarana dan prasarana lainnya/segala sesuatu yang berada di atasnya. Selain itu, Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) Nomor: 98/Desa Alue Minyeuk/Alue Muedang dan SHGU No 100/Desa Jambo Reuhat dan Seunebok Bayu yang dijaminkan kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, serta SHGU No 144/Desa Seunebok Bayu yang berlokasi di Aceh Timur, dengan total luas 6.775,99 Ha, sudah terjual kepada PT Makmur Inti Bersaudara sejak 21 Maret 2018. “PT Makmur Inti Bersaudara, merupakan pembeli dan penawar dengan harga terbaik yang terpilih," terang Alex. Karena itu, segala wewenang penjagaan, pengelolaan dan pemeliharaan atas nama aset PT. Dwi Kencana Semesta, beralih kepada PT. Makmur Inti Bersaudara sebagai pemilik baru yang sah, "tegas Alex.

Begitupun, saat penataan manajemen baru oleh PT Makmur Inti Bersaudara, terkesan ada usaha untuk menghalang-halangi dari Hasanuddin, manager lapangan PT. Dwi Kencana Semesta. Misal, mengelola hasil kebun secara sepihak dan pengelolaan keuangan yang tidak jelas. Padahal, seluruh pertanggungjawaban atas keuangan dari hasil penjualan sebelum peralihan, tanggal 21 Maret 2018, tentu saja menjadi tanggungan jawab Hasanuddin selaku pihak yg memperjualbelikan tandan buah segar (TBS) milik PT Dwi Kencana Semesta.

“Begitu juga dengan pertanggung jawaban atas uang-uang dari hasil penjualan, ditransfer kemana saja? Itu juga menjadi tanggung jawab saudara Hasanuddin,” kejar Alex. Alasannya, kemana saja dana atau pemasukan yang bertahun-tahun dan mencapai miliaran rupiah hingga 21 Maret 2018. Semua itu menjadi tanggung jawab saudara Hasanuddin,” tegas Alex. Alasan Alex memang sangat masuk akal. Sebab, luas tanaman perusahaan DKS mencapai 1.750 hektar yang sudah berbuah atau panen. Secara hitungan pasar atau menurut para pemilik kebun sawit, maka pendapatan per bulannya dari kebun seluas 1.750, bisa mencapai  ratusan juta. “Tinggal dikali tujuh tahun kredit DKS yang macet di Bank BNI,” ulas Alex.

Sekali lagi, yang jadi tanda tanya adalah, kemana semua uang hasil kebun tersebut? Apakah Bank BNI turut menikmati hasil kebun PT.DKS selama kredit macet? Atau hanya dinikmati keluarga Hasanudin dan eks pemilik, yang menerima hasil bersihnya setelah dipotong biaya operasional dan gaji karyawan? Termasuk, apakah selama tujuh tahun beroperasi, PT Dwi Kencana Semesta ada membayar pajak pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di IDI, Aceh Timur. Bahkan, disinyalir, ada aliran dana kepada pemilik lama melalui nomor rekening pribadi Hasanuddin.

20180424-lahan-sawit

Areal Perkebunan Sawit

Ironisnya, meski kebun itu sudah beralih kepemilikan, namun aktivitas “pencurian” sawit terus terjadi dan sudah berlangsung sejak tujuh tahun lalu, tanpa diketahui Bank BNI. Diduga, diam-diam, pemilik lama masih mengelola seluruh hasil panen kebun dimaksud. Atas berbagai tanda tanya besar tadi, mantan manager lapangan PT Dwi Kencana Semesta Hasanuddin yang dihubungi MODUSACEH.CO tak memberi penjelasan banyak. Dia mengakui jika perkebunan PT DKS telah beralih pada PT Makmur Inti Bersaudara.

“Memang betul Pak, tapi kami tak bisa menjelaskan melalui handphone. Kalau bapak mau tahu lebih banyak, datang saja ke IDI atau saya akan beri keterangan dua hari lagi,” kata Hasanuddin. Sayangnya,  setelah sepekan ditunggu, Hasanuddin tak bisa dihubungi lagi. Ada apa? Agaknya aparat penegak hukum setempat perlu segera mengusutnya.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...