Dibalik Kisruh Soal Dugaan Pembagian Proyek

Relawan Irwandi Juga Manusia!

Relawan Irwandi Juga Manusia!
TIm Relawan
Rubrik
Sumber
sumber foto; serambi indonesia dan lintas atjeh

Banda Aceh | Harapan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf kepada tim relawan pemenangannya untuk bekerja sukarela, tanpa pamrih dan menuntut balas budi individual, setelah berhasil memenangkan kontestasi Pilkada Aceh 2017 lalu, sepertinya belum sesuai harapan.

Bayangkan, belum genap setahun kepemimpinan keduanya sebagai orang nomor satu Aceh dalam menahkodai Bumi Serambi Mekah bersama Nova Iriansyah (Wagub Aceh). Pergesekan antar tim relawan justeru terjadi. Dalam akun media sosial (facebook) yang diunggah 24 Maret 2018, pukul 22:50 WIB. Irwandi menulis; RELAWAN LON. Nyoe khusus keu relawan lon. yang laen bek jak komen disinoe. Lon blokir.

Selanjutnya, Irwandi menuturkan catatannya. Relawan terbentuk oleh kesamaan cita-cita, yaitu cita-cita untuk merubah keadaan Aceh ke arah yang lebih baik dengan meninggalkan stagnansi pembangunan dan kesejahteraan rakyat serta diskriminasi dimana-mana. Para relawan ketika itu, tulis Irwandi, berikrar sanggup bekerja sukarela tanpa pamrih dan tanpa menuntut balas budi individual jika kita menang. Kita berikrar bahwa kita bekerja untuk Aceh yang lebih baik. Kita bekerja untuk bikin sejahtera rakyat Aceh. Kita bekerja untuk bikin lurus yang bengkok-bengkok. KITA TELAH SEPAKAT UNTUK ITU.

Lanjut Irwandi kemudian; Alhamdulillah kita menang. Lalu kita mengusung Program Aceh Hebat untuk 5 tahun ke depan. Tapi kita semua tau bahwa pelantikan saya baru terjadi tanggal 5 Juli 2017. Saat itu program pemerintahan lama sedang berlangsung sampai akhir tahun 2017. Saya hanya mampu mengawal saja karena demikianlah aturannya. Program Aceh Hebat baru dapat dijalankan dgn APBA 2018. Ini pun baru pada bulan April ini dapat dimulai. Kita sudah kehilangan waktu hampir setahun. Lalu apakah para Relawan akan meningkat kesejahteraannya begitu program dimulai? TIDAK! Relawan akan lebih sejahtera apabila rakyat secara keseluruhan telah sejahtera. Saya tidak menjanjikan proyek untuk relawan. Tapi saya bikin aturan agar semua orang mendapat akses yang sama terhadap proyek-proyek sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tidak ada pengecualian, walaupun rumor dan hoax muncul bermacam-macam. “Program Aceh Hebat itu untuk 5 tahun, atau 4.5 tahun lagi. Semoga di akhir periode 5 tahun nanti, berkat pengertian para relawan, kesabaran, pengorbanan, dan kerja keras seluruh relawan bersama rakyat, Aceh ini benar lebih sejahtera dan hebat. Amin,” tutup Irwandi.

20180421-tim-relawan-irwandi-di-aceh-selatan

Luar biasa, tulisan ini di like sekira 3,5 ribu warganet. Termasuk berbagai komentar lainnya. Sebut saja akun Hayatullah Khumaini. Dia menulis; Pokok jieh save relawan. Semoga tdk ada gejolak karena membangun Aceh butuh dukungan semua komponen nyoe lagee nyan Pak Irwandi Yusuf. Lalu, ada pula komentar akun Ahmad Kevin AL Fairuz; Jrohhh dan Semoga Allah nebi kekuata ke pemimpin kamoe Irwandi Nova be jet nejalankan amanah rakyat dan Semoga rakyat aman damai sejahtra ...amin.

Faktanya? Inilah yang jadi soal. Setidaknya, dua kejadian pekan lalu menjadi bukti bahwa harapan Irwandi kepada relawannya, tak seindah yang dia inginkan. Lihat saja, media sosial seperti facebook dan online lainnya, tak berpaling dari dua peristiwa yang terjadi. Pertama, sempat beredar kabar adanya pergesekan dan kericuhan antara Abar Muda versus Sofyan Daud. Itu terjadi di Pendopo Gubernur Aceh, Banda Aceh, Jumat malam dua pekan lalu. Pokok persoalan, tentu saja belum bergeser dari masalah pembagian jatah proyek. Namun, perbedaan pendapat itu akhirnya dapat redam dan berakhir damai, setelah dilerai Irwandi Yusuf. Meski kemudian Abrar Muda kepada media ini mengaku bahwa berita dan kejadian itu hoax alias tidak benar.

Hanya itu? Tunggu dulu. Hanya sempat reda sepekan. Tim relawan Irwandi Yusuf kembali dikabarkan bersitegang. Diduga, pangkal persoalan masih belum bergeser dari masalah proyek. “Bang, ada kejadian lagi tuh,” kata seorang anggota tim relawan Irwandi pada media ini melalui pesan WhatApp, Jumat malam dini hari. Karena sudah larut malam, media ini pun tak langsung mewartakannya. Begitupun, untuk memastikan kejadian tersebut, reporter MODUSACEH.CO, meluncur ke Pasar Induk Lamdom, Desa Lamdom, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh. Dari kejauhan, masih terlihat sejumlah orang di lokasi. Patut diduga, mereka adalah tim relawan Irwandi dari berbagai kabupaten dan kota.

Nah, untuk memastikan adanya kejadian tadi, media ini kembali menghubungi sumber tersebut. Hasilnya, sumber itu mengirim rekaman video, terkait kasak kusuk kejadian tadi. Selain itu, sumber di jajaran satuan intelijen membenarkan adanya peristiwa itu. “Benarkan, saat itu ada Tim Unit IV Opsnal Intelkam Polresta Banda Aceh yang melakukan monitoring  di Pasar Induk Lamdom. Terjadi keributan antara tim relawan Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh) dengan Tim Relawan Pusat Irwandi,” kata sumber yang tak mau ditulis namanya ini. Masih kata sumber tadi, saat itu ada sekitar 60 orang yang hadir di tempat kejadian perkara (TKP). Diantaranya, Izil Azhar (Ayah Merin), Sofyan Daud, Din Kopassus, Abi Alek, Nek Tu (calon Bupati Aceh Timur/ mantan anggota DPRA dari Partai Aceh) serta Tim Relawan Daerah Irwandi.

Diduga, sebagai pemicu masalah paket proyek yang sudah diarahkan ke setiap kabupaten dan kota yang sudah “setujui” Irwandi. Namun dari Tim Pusat Relawan Irwandi, tidak menandatangani SK Paket yang di permasalahkan itu. Itu sebabnya, tim relawan daerah menunggu kejelasan dari Tim Relawan Pusat Irwandi, tentang siapa yang mengelola paket tersebut. Kabarnya, proyek tadi dikelola S dan SB. Namun, untuk proses penyelesaian masalah ini, S dan SB tidak hadir, sehingga tim relawan daerah tetap bersikeras dan menunggu kehadiran dua tokoh Partai Nanggroe Aceh (PNA) tersebut.

Untuk meredam lebih jauh, sekira pukul 03.00 WIB (Jumat dini hari),  Sofyan Daud, Abi Alek, Ayah Merin dan Nek Tu mengambil inisiatif. Kepada para tim relawan dari daerah, mereka mengatakan dan menjamin serta akan membawa masalah tersebut langsung kepada Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh). Namun, Irwandi Yusuf tak ada di Banda Aceh. Kabarnya, dia sedang melawat ke Amerika Serikat (USA). Sementara, dua pimpinan PNA seperti Samsul Bahri alias Tiong dan Sayuti tidak datang. Bahkan telpon selulernya tidak aktif, sehingga permasalahan tidak selesai. “Lalu Adun (Sofyan Daud) mengambil inisiatif dengan membuat kesepakatan tertulis yang dipegang kedua belah pihak,” ungkap sumber itu. Pertemuan berakhir dengan doa bersama dan saling berjabat tangan.

20180421-tim-relawan-irwandi-di-pidie

Terkait masalah ini, tak satu pun dari tokoh dan pimpinan PNA, termasuk para relawan yang bisa dihubungi untuk konfirmasi. “Bek ngon lon, langsung bak pimpinan mantong (jangan melalui saya, langsung pada pimpinan saja),” kata seorang anggota tim relawan, menyarankan.

Lantas, kenapa semua ini bisa terjadi? Seorang relawan dari Aceh Utara kepada media ini mengaku. Sah-sah saja Irwandi menyebut bahwa relawan bekerja tanpa pamrih dan menuntut jasa. “Tapi, apakah saat memenangkan dia dulu, kami ada dibantu dana? Karena kami percaya dan yakin kepada dia, maka kami sukarela mengeluarkan dana pribadi. Namun, setelah menang, apakah kami tak pantas serta berhak mendapatkan sedikit manfaat. Kami relawan juga manusia, sama seperti elit dan keluarga dia juga,” kata salah seorang pimpinan tim relawan Irwandi-Nova asal Lhokseumawe pada media ini, Jumat malam kemarin. Selengkapnya, baca edisi cetak. Beredar mulai, Senin, 23 April 2018.***

Komentar

Loading...