Realita Putri, Dalih Pejabat Provinsi Diantara Kepedulian Bupati Rocky dan Mentan RI

Realita Putri, Dalih Pejabat Provinsi Diantara Kepedulian Bupati Rocky dan Mentan RI
Salah satu reaksi di media sosial facebook, terkait pengakuan Putri (Foto: Dok.MODUSACEH.CO)
Rubrik

Kepedulian ditunjukkan Menteri Pertanian RI dan Bupati Aceh Kabupaten Aceh Timur. Sayang, aparatur di bawahnya justeru terkesan ingin membalikkan kenyataan. Sikap “buang badan” juga diperlihatkan Kepala Dinas Sosial Aceh dan Kepala Dinas Pangan Aceh.

RAUT polos, terpancar dari wajah Putri, Mariani dan Suparno, saat diterima Menteri Pertanian RI, Dr. Andi Amran Sulaiman, Selasa (13/8/2019) di Jakarta. Bisa jadi, siswi SMPN 4 di Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh ini, tak membayangkan bisa naik pesawat terbang gratis bersama kedua orang tuanya dan bertemu pejabat tinggi negara tersebut.

Maklum, tidak semua anak di negeri ini yang beruntung seperti Putri, diundang seorang menteri. Sebab, untuk bertemu seorang Camat, Bupati atau bahkan Gubernur Aceh, meski ada sebab. Apalagi Putri berasal dari ujung barat Indonesia. Kecuali, jika ada prestasi yang luar biasa.

Begitupun, ketika Allah SWT berkehendak, yang tak mungkin dan mustahil, bisa menjadi kenyataan dan datangnya tak terduga. Kini, kesempatan langka itu menjadi catatan sejarah dalam hidup Putri dan kedua orang tuanya.

Tentu, nasib baik ini tak lepas dari kesabaran, ketabahan dan kejujuran Putri. Meski tabu bagi sebagian pejabat jika ada rakyat Aceh yang mengaku; lapar dan tak ada beras di rumah! Tapi Putri tak kuasa menekan suara batinnya. “Saya bukan tak makan Bu, tapi tak ada beras di rumah,” ujar Putri lirih kepada gurunya.

Jeritan batin ini kemudian terdengar Mahyuddin, wartawan media ini. Saat itu juga dia melakukan penelusuran. Hasilnya memang miris, Putri bersama enam adiknya tinggal di rumah sangat-sangat sederhana, beratap daun rumbia.

Beranjak ke dapur, hanya sisa kayu bakar tanpa periok nasi. Maklum, Suparno, ayah Putri tidak mempunyai pekerjaan tetap atau sebagai pekerja serabutan di Banda Aceh.  Dia baru pulang ke rumah, Dusun Tualang Masjid, Desa Tualang, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur, bila memperoleh rezeki seadanya, menghidupkan kembali asap dapur untuk keluarganya.

Pengakuan polos Putri menyentak gurunya dan banyak pihak. Termasuk wartawan sejumlah media nasional. Salah satunya, Suara.com—jaringan MODUSACEH.CO di Jakarta.  “Bang, bisa bantu alamat Putri, kawan-kawan di Jakarta bermaksud membantu beban dia,” kata Reza Gunadha, Asisten Redaktur Pelaksana Suara.com Jakarta pada pimpinan redaksi media ini, melalui telpon seluler,” sehari kemudian.

Bahkan, wartawan senior dan mantan pimpinan Redaksi Harian Republika serta mantan Pemimpin Umum LKBN ANTARA Asro Kamal Rokan, menulis opini bertajuk: Nasib Pilu Putri Dewi dan Korupsi!

Memang,     tak sampai satu kali 24 jam, nestapa Putri dan keluarganya sampai juga ke telingga Bupati Aceh Timur, H. Hasballah M.Thaib atau akrab disapa Rocky. Di langsung bereaksi, mengirim staf Dinas Sosial Aceh Timur, untuk melihat kondisi Putri.

Tak lama berselang, atas perintah Bupati melalui tim yang dikoordinir Dinas Sosial setempat, langsung mengirimkan bantuan sembako ke rumah Putri. Kepala Dinas Sosial Aceh Timur, Elfiandi melalui salah satu kepala bagiannya, Saharani menyampaikan prihatin dan berterimakasih atas informasi tersebut.

Menurutnya keluarga Putri salah satu yang turut mendapatkan bantuan PKH di Aceh Timur. Rencananya rumah Putri akan mendapatkan bantuan rehap dalam tahun ini. "Benar, kami diperintahkan Bapak Bupati untuk melihat langsung ke lokasi, dan tadi langsung diantarkan bantuan, dan keluarganya juga peserta yang mendapatkan bantuan PKH," ujar Saharani.

Sebatas ini memang tak soal. Ironisnya, staf Dinsos Aceh Timur itu merekam proses penyerahan bantuan tadi dan memviralkan melalui media sosial (medsos). Isinya wawancara (tanya jawab) bersama Putri.

Nah, disela beberapa pertanyaan, terdengar suara seorang perempuan yang mengulang kata-kata Putri bahwa dia lapar di sekolah bukan karena tidak ada beras. Tapi, memang malas sarapan pagi. “Jadi, bukan tidak ada beras kan, tapi kamu ndak mau sarapan pagi ya,” terdengar suara yang bernada mengiring jawaban Putri. Lalu, dijawab Putri; ya, sambil mengangguk.

Akibatnya berbagai tanggapan muncul. “Nyan peukaten dinas. Mita-mita salah. Ureung Aceh meunyo peukara dijak tanyong, dijak kamera-kamera akan hana dijak peugah hana breuh di rumoh. Karena nyan martabat alam bawah sadar manusia bermartabat (Itu perilaku dinas. Mencari-cari kesalahan. Rakyat Aceh jika ditanya dan direkam melalui kamera tidak mau bicara tak ada beras di rumah. Karena itu martabat alam bawah sadar manusia bermartabat),” tulis Muhammad MTA, salah seorang Tim Asistensi Pemerintah Aceh di akun facebooknya.

Gayung bersambung, media online Portal Berita Dialeksis.com menurunkan laporan dengan satu pertanyaan mendasar. Mengapa Putri tak makan. Apakah selama ini dia dan keluarganya tidak mendapat bantuan? Media ini pun menghubungi Kadis Sosial Aceh, Alhudri, Senin (12/8/2019) malam sebagai narasumber.

Alhudri membenarkan dari info yang didapatnya, Suparno ayah Putri diundang Menteri Pertanian RI Dr. Andi Amran Sulaiman untuk menerima bantuan. Lalu, muncul pertanyaan "klarifikasi" susulan dari Dialeksis.com. Apakah Dinas Sosial selama ini tidak memperhatikan keadaan mereka?

“Saya juga semula terkejut dengan berita ini. Saya cek kebenaranya, saya minta data dari Dinas Sosial Aceh Timur dan data lainya,” sebut Alhudri. Dari data yang didapat kata Alhudri, ternyata Putri dan keluarga Suparno sudah pernah mendapatkan bantuan.

Bahkan pada anggaran gampong tahun ini, rumahnya dibedah. Bantuan lainya juga pernah diberikan pemerintah. Dia dan keluarga sudah pernah mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). Orang tuanya sebagai  KPM PKH, termasuk dapat bantuan Kartu Indonesia Sehat dan KIP, sejak tahun 2012, tulis Dialeksis.com, melampirkan foto daftar penerima bantuan yang menyebut nama Suparno sebagai penerima bantuan.

Begitu juga dengan Beras Sejahtera (Rastra).   Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Rastra dari Kemensos RI, juga didapat. “Bantuan listrik gratis juga dapat. Kalau Anda tanya mengapa  tidak kami perhatikan, saya semula terkejut. Namun setelah data yang diberikan kepada saya, lalu saya chek, inilah keadaanya,” sebut Alhudri.

Masih kata Alhudri, untuk tahun 2019, Rencana Anggaran Biaya (RAB), Pemerintah Gampong Tualang, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur, nama Suparno masuk dalam daftar bedah rumah. Nilai proyek yang dianggarkan mencapai Rp 120 juta.

Segendang sepenarian, pengakuan juga datang dari Kepala Dinas Pangan Aceh, DR. Ir. Ilyas MP. Kepada Dialeksis.com, Senin (12/8/2019) malam, Ilyas menjelaskan. Persoalan itu sudah diklarifikasi pihaknya. Bahkan dia juga dihubungi BKP Mentan RI, meminta penjelasan terkait kasus Putri.

20190813-kadis

Ilyas mengaku sudah memberikan penjelasan, bahwa keadaan yang sebenarnya tidaklah seperti yang diberitakan. “Saya juga sudah konfirmasi ke Kadis Ketahanan Pangan dan Penyuluhan di  Aceh Timur. Berita yang berkembang itu tidaklah seperti keadaan lapangan yang  sebenarnya.  Kecamatan Peureulak bukanlah daerah yang rawan pangan,” jelas Ilyas.

Daerah yang rawan pangan di Aceh Timur itu, menurut Ilyas, Rantau Selamat. Serba Jadi dan Simpang Jernih,  itu berdasarkan peta  FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas) tahun 2019. Kecamatan Puereulak sebut dia, tidak termasuk daerah rawan pangan.

Tak cukup disini, karena dinilai marak pembahasan yang simpang siur tentang kasus Putri, Direktur Jaringan Survei Inisiatif,  Ratnalia Indrisari juga berbicara. Dia berharap kasus ini disikapi secara bijak dengan melihat persoalan secara jernih.

“Kasus putri jangan dipolitisir untuk kepentingan elit politik.  Bukan hanya sekedar dipolitisir, namun dijadikan sebagai  alat untuk menargetkan agenda tertentu,” duga Indri. Namun tak jelas, apa indikator dipolitisir dan siapa pelaku yang mematok target, dibalik dimaksud Indri tadi.

Kata dia, sudah seharusnya kasus Putri diurus Pemerintah Aceh. Sudah ada program untuk itu, pemerintah   menindaklanjutinya  melalui program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu menjadi tanggung jawab pemerintah Aceh, jelas Indri.

“Jangan karena persoalan yang dikemas ini dijadikan sebagai celah untuk menyudutkan seseorang dan ada pihak yang memanfaatkanya untuk sebuah kepentingan. Kita melihat persoalan dengan jernihlah, pelajari dan cek kebenaranya, tidak semua persoalan dipolitisir,” sebut Indri.

Sekilas, memang tak ada yang salah dari penjelasan Alhudri, Ilyas serta Indri seperti diwartakan Portal Dialeksis.com. Apalagi, didasari pada pengakuan adanya sejumlah bantuan yang sudah diterima dan akan diberikan kepada keluarga Putri.

Begitupun, kalau mau jeli, pengakuan keduanya, terkesan ingin mengelak dari realitas sosial yang ada, jika tak elok disebut: cuci tangan. Apalagi setelah muncul sikap peduli dan rendah hati dari Bupati Rocky dan Menteri Pertanian RI, Dr. Andi  Amran Sulaiman. Kenapa harus berdalih Pak Kadis? (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...