Breaking News

Diduga Verifikasi Beasiswa Bidik Misi tak Sesuai Aturan

Ratusan Mahasiswa Unsam Demo Rektorat

Ratusan Mahasiswa Unsam Demo Rektorat
Demo mahasiswa Unsam (Foto: Mahyuddin/MODUSACEH.CO)

Langsa | Ratusan mahasiswa Universitas Samudra (Unsam) Langsa menggelar aksi demo di depan Gedung Rektorat kampus tersebut di Desa Meurandeh, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Selasa (19/2/2019).

Dalam aksinya itu para mahasiswa dari berbagai fakultas  menuntut pihak rektorat agar transparan dalam melakukan verifikasi bagi mahasiswa penerima beasiswa bidik misi, dan verifikasi harus benar-benar dilakukan, sesuai aturan dan syarat penerima beasiswa bidik misi, sehingga tidak mal administrasi seperti yang diduga selama ini beasiswa juga sering terlambat.

"Kalau tim bidik misi ikuti aturan, pasti ada verifikasi dan survei tempat tinggal serta verifikasi ekonomi secara merata terhadap mahasiswa pemegang sertifikat bidik misi secara merata, namun itu tidak dilakukan," ungkap Ramadhan, koordinator aksi demo.

Dalam aksinya sempat terjadi aksi dorong mendorong dengan sejumlah petugas yang menjaga jalannya aksi tersebut. Bahkan pintu keluar kampus sempat diblokade mahasiswa dan bertahan  lebih dari dua jam karena menunggu rektor hadir dihadapan mereka, untuk memberikan tanggapan atas tuntutan  sejumlah mahasiswa itu.

Setelah sekian lama menunggu akhirnya rektor Dr. Bachtiar Akob, didampingi Wakil Rektor 1 Saiman hadir, memberikan jawaban serta tanggapannya terkait tuntutan mahasiswa.

Saiman mengatakan, semua telah dilakukan sesuai dengan aturan, bahkan menurutnya tahun ini ada penambahan kuota dari 200 menjadi 482 orang penerima beasiswa bidik misi dilingkungan Kampus Unsam Langsa, dan prosesnya dilakukan sesuai aturan yang telah ditentukan, kata Saiman dihadapan mahasiswa.

Sementara itu saat dihubungi terpisah oleh MODUSACEH.CO, Selasa (19/2/2019) sore, Rektor Unsam Langsa Dr. Bachtiar Akob M.Pd mengatakan. Kuota beasiswa bidik misi dari kementerian untuk Unsam sejumlah 482, sementara yang memegang sertifikat sejumlah 700, sehingga tidak semua bisa terakomodir, karena kata rektor, yang disediakan pemerintah hanya sebatas jumlah tersebut.

"Jatahnya dari pemerintah hanya sejumlah itu, dan beasiswanya langsung dikirim ke rekening yang bersangkutan, tidak ada  campur tangan pihak rektorat tentang itu, karena jatahnya hanya 482 maka oleh pihak dosen masing-masing fakultas turun kelapangan untuk memverifikasi dari 700 itu, mana yang lebih layak untuk diprioritaskan,” jelasnya.

Bahkan, sampai keluar Aceh pun dosen tetap turun untuk mensurvei ke rumah-rumah mahasiswa, apakah layak atau tidak mendapatkan bidik misi," kata Bachtiar Akob.

Ia juga menambahkan, terkait sisanya dari 700 pemegang sertifikat bidik misi tersebut, pihaknya ikut prihatin dan mengambil kebijakan agar dapat membantu dari sisa yang belum memperoleh jatah kuota bidik misi dengan cara meringankan biaya kuliah.

"Sisa mahasiswa pemegang sertifikat yang tidak mendapatkan kuota kami ringankan untuk membayar biaya kuliah hanya Rp 500 ribu saja per semester. Kebijakan ini kami ambil sesuai kemampuan kampus dalam membantu mahasiswa yang belum mendapatkan kuotanya," jelas Bachtiar Akob.***

Komentar

Loading...