Breaking News

Temuan Tim Pansus DPR Aceh

Proyek Otsus Kualitas Rendah di Bireuen

Proyek Otsus Kualitas Rendah di Bireuen
Zulhelmi/MODUSACEH.CO

Bireuen I Tim Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Daerah Pemilihan (Dapil) III menyorot sejumlah proyek fisik dan pengadaan yang dikerjakan dengan biaya Dana Otonomi Khusus (Otsus) dan APBA Tahun Anggaran 2016, berkualitas rendah.

Misal bangunan dibangun asal jadi, demikian juga pengadaan alat praktik siswa berkualitas nomor dua.

Tim Pansus yang diketuai Murdani Yusuf sejak siang hingga sore hari menuju sejumlah lokasi.

Lokasi pertama yang dikunjungi SMK 1 Bireuen. Di sekolah unggulan ini mereka menemukan alat-alat praktik siswa bukan kualitas nomor satu.

“Inikan sekolah unggulan, mengapa alat-alat praktik siswa bukan nomor satu, tapi nomor dua,” sebutnya.


Lalu tim  bergerak ke Desa Gampong Geulanggang Baro (jalan Putroe Bungsu) Kecamatan Kota juang. Mereka menemukan pekerjaan pembangunan saluran lingkungan senilai Rp 400 juta sepanjang 857 meter dikerjakan asal jadi.

Di Desa Beunyot, Kecamatan Juli, juga menemukan pekerjaan pembangunan rumah kopel untuk instrukstur Balai Latihan Kerja (BLK) kualitasnya sangat rendah dan bangunannya di sejumlah bagian dalam sudah rusak. Padahal bangunan baru diserahterimakan pada bulan Februari 2017 lalu.

“Ini bangunan sudah rusak, kenapa diterima. Seharusnya jangan di PHO-kan dulu pekerjaannya jika belum sesuai. Dan kayu yang digunakanpun kualitasnya sangat rendah,” ujar. 

Proyek fisik lainnya yang ditinjau anggota DPRA ini, rehab berat bangunan Dayah Entrepreneur SMK ASD Foundation di Beunyot. Nah, ini juga ditemukan sejumlah kejanggalan, tidak sesuai besarnya anggaran yang diplotkan dengan pekerjaan yang dilaksanakan.

Menurut Tim Pansus, tidak terlihat ada pekerjaan berat yang dilaksanakan pada bangunan dayah tersebut, selain pekerjaan pengecatan bangunan.

“Anggaran untuk pekerjaan rehab dayah ini mencapai Rp 800 juta, tetapi tidak tampak ada pekerjaan rehab berat di sini.

"Kalau rehab ringan iya, dan ini patut dipertanyakan karena tidak sesuai dengan pekerjaannya,” ungkap Saifuddin Muhammad, anggota DPRA yang ikut dalam tim itu.*** 

Komentar

Loading...