Ponselnya Diretas, Teman Jamal Khashoggi Gugat Perusahaan Israel

Ponselnya Diretas, Teman Jamal Khashoggi Gugat Perusahaan Israel
Aktivis Arab Saudi dan teman Jamal Khashoggi, Omar Abdulaziz. (YouTube/Times of Israel)
Penulis
Rubrik
Sumber
Tempo.co

Jakarta | Seorang warga Arab Saudi pengkritik penguasa Arab Saudi menggugat perusahaan spyware Israel karena meretas ponselnya dan memantau komunikasinya dengan Jamal Khashoggi sebelum dibunuh.

Omar Abdulaziz telah mengajukan gugatan terhadap NSO Group di Israel, dilaporkan New York Times, 4 Desember 2018. Abdulaziz menuduh bahwa perangkat lunak Israel digunakan untuk meretas ponselnya.

Gugatan menambah tekanan baru pada perusahaan NSO Group dan pemerintah Israel, yang melisensikan penjualan spyware perusahaan kepada pemerintah asing, yang dikenal sebagai Pegasus. Gugatan juga mengundang perhatian baru pada kedekatan Israel dengan Arab Saudi dan kerajaan Teluk Arab lainnya.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak pernah mengakui negara Yahudi tetapi telah diam-diam semakin dekat karena punya musuh bersama, yakni Iran. Sejak peristiwa Arab Spring, Israel dan kerajaan Arab juga memiliki kepentingan bersama untuk menjaga tatanan Arab yang stabil.

Gugatan diajukan di Israel oleh warga Saudi yang tinggal di Montreal, Omar Abdulaziz, menyusul tuntutan wartawan, aktivis, dan lainnya yang menuduh NSO Group telah membantu pemerintah Meksiko dan Uni Emirat Arab memata-matai ponsel pintar mereka meskipun orang-orang bebas catatan kriminal dan tidak menimbulkan ancaman kekerasan.

Kelompok hak asasi manusia Amnesty International juga baru-baru ini menuduh NSO Group membantu Arab Saudi memata-matai seorang anggota staf organisasi. Amnesty International mengatakan pihaknya sedang mempertimbangkan tindakan hukum setelah kementerian pertahanan Israel menolak permintaan untuk mencabut lisensi NSO Group untuk mengekspor spyware-nya.

"Dengan terus menyetujui NSO Group, Departemen Pertahanan secara praktis mengakui bekerja sama dengan NSO Group karena perangkat lunak mereka digunakan untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia," kata Molly Malekar, direktur program kantor Amnesty International Israel.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - yuk ikutan polling-nya! -

Komentar

Loading...