Breaking News

Kondisi di Taman Ratu Safiatuddin

PKA Bercita Rasa PKL

PKA Bercita Rasa PKL
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Walau menghabiskan dana Rp 70 miliar lebih. Tak menjamin perlehatan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII terlaksana dengan baik. Lihat saja, kondisi di dalam Taman Ratu Safiatuddin atau di sekitar anjungan Kabupaten dan Kota begitu kumuh dan kotor. Sampah berserakan dimana- mana, ditambah lagi pembukaan lapak pedagang yang membuat kesan tak tertata dengan baik.

Jika tak elok disebut PKA berasa Pedagang Kaki Lima (PKL), pada media ini seorang warga asal Bireun, Ifdal Ambia mengaku arena PKA kali tak ubah seperti pasar malam saja. Dia tak menyangka, perhekatan PKA begitu amburadul dan belum pernah terjadi pada PKA sebelumnya.

20180808-66d3c142-8a0c-4fdb-a69f-add209f3a302

Menurutnya, pedagang tak harus berjualan di dalam perkarangan anjungan. Padagang cukup berjualan di luar arena tersebut, sehingga para pengunjung terasa nyaman mengungjungi setiap stand atau anjungan.

“Kami ke sini, bukan untuk pasar malam. Kami ingin memperlihatkan dan memperkenalkan budaya tiap-tiap Kabupaten dan Kota pada anak-anak kami. Kalau tahu seperti ini, tak mungkin saya datang,” ungkap Ifdal bernada kecewa pada media ini, Selasa (7/8/18) sore.

Kekecewaan Ifdal cukup beralasan. Pantauan media ini, para pedagang hampir di setiap sudut anjungan membuka lapak. Pedangan juga tak segan memanggil pengunjung, hingga turut memasuki anjungan untuk menawarkan dagangan mereka.

20180808-6530897c-bdfe-4fdb-b995-7cd22deb616a

Kondisi ini jelas sangat menganggu kenyamanan pengunjung. Belum lagi, para pengemis silih berganti meminta sumbangan. Mereka juga tak segan meminta secara langsung dan belum akan pergi sebelum diberikan.

Dari segi fasilitas. Pengunjung juga tak mendapat layanan toilet secara gratis. Itu dibuktikan, ada beberapa toilet bergerak yang diduga milik Dinas Sosial Aceh, di tempatkan di beberapa sudut di dalam perkarangan PKA. Apa lacur, pengguna toilet tersebut dikenakan biaya mulai Rp 2000 hingga Rp 5000 rupiah.

“Saya rasa, panitia belum siap melaksanakan PKA ini. Jika saya urutkan satu persatu, tak cukup tinta untuk Anda tulis,” ungkap Ismed, warga Sieumelue pada media ini.

Dia menilai, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh tak serius menyelenggarakan PKA kali ini. Beberapa sudut tembok pagar telah roboh dan hingga kini dibiarkan lowong begitu saja. Belum lagi, bangunan sementara pekerja juga dibiarkan berdiri dan menambah kesan kumuh.

“Saya sebenarnya berharap lebih. Tidak sekedar belanja di pasar malam. Jelas, tak ada pentas kebudayaan yang bisa saya saksikan,” ujarnya.

20180808-bc275053-f714-4506-8d9a-b4247dddce3d

Sementara itu, Plt Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceh, Amiruddin mengaku pihaknya akan terus memperbaiki semua kekurangan. ”Mohon, semua pihak mendukung acara ini. khusus untuk parkir yang di rasa memberatkan pengunjung, kita akan cek dan konsultasi dengan semua pihak,” janji Amiruddin pada awak media pers, di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Selasa (7/8/18). Kita tunggu saja janji Amiruddin. Semoga amanah.***  

"Pileg dan Pilpres 2019" - vote sekarang juga -

Komentar

Loading...