Pilkada Aceh dan Liputan 'Siap Saji’

Pilkada Aceh dan Liputan 'Siap Saji’
dok. MODUSACEH.CO

WALAU bukan wartawan Majalah TEMPO, setidaknya saya sempat beberapa bulan bersama sang guru wartawan Indonesia; Budiman S Hartoyo (BSH) di Majalah GAMMA Jakarta (1999). Kami di redaksi memanggil sosok humoris tapi berdisiplin tinggi ini dengan sebutan; Pak De! Sementara, kawan-kawan di TEMPO memanggilnya Om Bud atau BSH.

Dari mantan wartawan senior TEMPO inilah, termasuk Bersihar Lubis (Bang Ber), Aries Margono (Mas Aries) serta Taufik Alwie, saya mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan tentang cara ‘menjahit’ (menulis) liputan. Dan, satu pesan yang sampai kini masih saya pegang adalah; jangan sekali-kali menerima berita dan informasi siap saji. Wartawan itu di lapangan, bukan di balik meja. Kamu harus mampu mengali lapis kedua dari peristiwa, fakta dan data! Begitu pesan Pak De.

***

MALAM itu, jarum jam sudah bergerak ke pukul 04.00 WIB pagi. Ruang redaksi Majalah GAMMA di lantai 5, Gedung Twink, Jalan Kapten P Tandean 82, Jakarta, sudah sepi dari aktivitas. Kalau pun ada, hanya beberapa wartawan yang tertidur pulas di lantai, bawah meja kerja yang terbungkus karpet tebal, usai menjalani kerja tenggat waktu atau deadline.

Di salah satu sudut ruangan, Pak De masih tampak asyik di depan komputer. Sesekali, dia mengigit roti bakar yang selalu dia dibawa dari rumah dan tak jarang dia bagikan untuk kami.

“Belum pulang Pak De,” tanya saya. “Nunggu salat subuh dulu,  nanti baru saya pulang. Kamu kok belum pulang Leh,” balas dia bertanya. “Istirahat dulu Pak De, ntar pagi saya pulang ke kosan,” jawab saya, sambil minta izin duduk di sampingnya. “Oh, ndak apa-apa, duduk saja,” katanya mempersilahkan.

Tak saya duga, di usianya yang tidak muda lagi, ternyata dia masih produktif menulis. Itu terlihat dari monitor komputer di depannya. Dia membuka blog pribadinya dan menulis berbagai tulisan sastra serta liputan jurnalistik, dengan sejumlah teori dan segudang pengalamannya.

***

“Pak De mau sarapan apa, biar saya beli sekalian yang enak,” tawar saya, sambil bercanda. “Ndak usah, terima kasih Leh, saya cukup roti buatan Bu De mu di rumah saja,” jawabnya tersenyum. Lho, kenapa? kejar saya. “Seenak apa pun makanannya, seindah apapun bungkusannya, apakah kamu pernah tahu bagaimana makanan itu diproduksi? Kalau buatan Bu De di rumah jelas saya tahu, wong sama-sama bikinnya. Ini sama dengan liputan dan berita yang ditulis banyak wartawan Shaleh,” kata Pak De buka kartu. Rupanya, dia juga memiliki hobi memasak.

“Maaf Pak De, saya tidak mengerti. Apa hubungannya makanan siap saji dengan liputan berita,” tanya saya penasaran.  

Pak De diam sejenak. Dia tatap wajah saya. “Anak Aceh satu ini suka sekali mancing orang tua. Tapi saya suka kamu masih mau belajar,” ujarnya sambil memegang bahu saya.

“Benar, serius Pak De,” kejar saya. Pak De pun memberi petuah, sekaligus ilmu kepada saya. Dia kembali mengurai tentang filosofi makanan siap saji versus yang kita masak sendiri, dengan resep terukur.

Katanya, seorang jurnalis tak boleh hanya mendengar atau mendapatkan fakta dan data sepihak (sumber tunggal), apalagi yang datang dari temu pers atau siaran pers, dengan kepentingan serta klaim kebenaran dari satu sumber. Tak peduli apakah itu dari pejabat negara atau tukang becak sekalipun.

Sebaliknya, data dan fakta tadi harus divalidasi, lihat akurasinya dan cari data pembanding. Baru kemudian menulis (menjahitnya—istilah Pak De).

“Saya tanya pada kamu Leh, saat konflik dulu, apakah semua liputan wartawan di Aceh dan Jakarta itu sudah memenuhi unsur keseimbangan? Soal kontak tembak dan jatuh korban misalnya, apakah informasi dari GAM, atau sebaliknya dari TNI dan Polri sudah pasti valid dan akurat? Saya yakin tidak seluruhnya. Namun, untuk kondisi tertentu, secara kode etik dan etika pers, masih bisa ditelorir. Tapi, tak sedikit yang tidak bisa ‘dimaafkan’ gugat dia.

Sambil meneguk air putih hangat, Pak De kembali menularkan ilmunya pada saya. Kata Pak De, dari hasil pendalaman liputan (indept) itulah, kamu akan mendapatkan informasi, data dan pengetahuan pembanding.

“Ibarat roti siap saji yang dijual bebas di mal atau super market. Apakah kamu tahu bagaimana proses pembuatannya. Jika kamu paham, mungkin tak akan memakan atau menelannya mentah-mentah. Selain kebersihan juga soal halal atau tidak dan sarat dengan obat pengawet sehingga kelihatannya tetap segar,” ungkap Pak De lebih dalam.

Begitu juga soal berita atau liputan sebut Pak De, hampir sebagian besar jurnalis di daerah dan Indonesia ‘gemar dengan hidangan siap saji’ tanpa ada data dan fakta pembanding yang dia gali sendiri dari berbagai sumber (bukan satu sumber). Padahal, jika mau lebih jeli ,semua itu bisa dilakukan. Wartawan malas! Sebutnya serius.

“Jangan marah dan emosi Pak De,” kata saya menenangkan. “Saya tidak marah, hanya kesal saja dengan wartawan muda sekarang,” sebut dia.

***

Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB pagi. Matahari mulai tinggi, menyapa gedung-gedung tinggi (pencakar langit), menusuk jantung Ibukota Jakarta.

Saya dan Pak De, sama-sama bergegas untuk pulang ke rumah. Dalam lift, Pak De berkali-kali mengatakan kepada saya. Ingat, kamu jangan pernah sekali-kali jadi wartawan siap saji. Kecewa saya! Kata Pak De.

Selanjutnya, hari demi hari saya selalu merapat ke meja Pak De. Berdiskusi banyak hal tentang Aceh, termasuk bertanya dan belajar bagaimana cara menulis (menjahit) berita secara mendalam, mengigit serta berwarna. Pak De benar-benar sosok yang tidak pelit dengan ilmu. “Wah, itu ibadah bagi saya,” katanya sekali waktu, saat saya meminta ilmu pada dirinya. Saat itu, Pak De juga masih menjadi dosen luar biasa di fakultas komunikasi (jurnalistik) pada beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Itu sebabnya, saya bisa berjam-jam duduk di samping meja Pak De, hanya melihat dan mempelajari bagaimana dengan menjahit laporan atau berita yang kami buat. Bahkan, dia memberi kesempatan kepada saya untuk menulis sendiri hasil liputan, kemudian menyerahkan pada dia. “Nih, coba perhatikan beritamu dan lihat setelah saya edit dan nulis. Pelajari itu,” kata Pak De.

Namun, kesempatan itu tak berlangsung lama, sebab saya hijrah ke Majalah Forum Keadilan, masih di Jakarta hingga akhirnya kembali ke Banda Aceh (2003). Begitupun, kami sering bertemu dan berdiskusi tentang persoalan dunia wartawan.

Saat saya ke Jakarta dan menghubunginya, kami sering duduk sambil menikmati makanan di salah satu warung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta. Pak De memang lebih suka menerima dan diajak bertemu di sana. Kepada Pak De, saya bercerita tentang media pers cetak lokal yang saya lahirkan di Aceh. "Saya dukung doa dan moral saja. Sekali lagi ingat, jangan jadikan wartawan kamu sebagai jurnalis siap saji ya! tegas Pak De.

Nah, persis Kamis, 11 Maret 2010. Anak seorang guru Madrasah Mamba'ul 'Ulum Surakarta (Solo), yang menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1956 dan SMU Muhammadiyah tahun 1961 di Solo itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.

***

Kini, setelah tujuh tahun BSH pergi untuk selama-lamanya. Pesan senior sekaligus  sang guru itu pun kembali mengusik  pikiran dan ingatan saya, terutama soal wartawan siap saji. Ini terkait pesta demokrasi lima tahunan atau Pilkada Aceh 2017 yang sedang berproses. Bayangkan, hampir tak ada menit, jam atau hari, publik di Aceh atau negeri ini disajikan dengan berbagai liputan (berita) terutama di laman online yang baru mekar pada musim Pilkada ini, dengan format informasi siap saji dari hasil (temu pers atau siaran pers).  

Sebaliknya, tak berusaha untuk mengali lebih dalam tentang berbagai informasi dari sejumlah sumber utama. Termasuk mencari dan mempublikasi informasi sebanding dari sumber atau laman online nasional lainnya, seperti detikcom. Ironisnya, mereka pun seolah-olah bertindak untuk dan atas nama ‘juru bicara’ salah satu kandidat.

Nah, dalam konteks ini, apakah tim pemenangan kandidat lebih lihai memainkan media pers sehingga muncul keseragaman pemberitaan tentang dirinya, atau si wartawan yang malas melakukan liputan mendalam dengan mencari sumber informasi bandingan atau alternatif? Tentu, mereka lah yang tahu.

Gejala ini begitu terbuka, usai hari pencoblosan, 15 Februari 2017 lalu. Pemberitaan yang muncul misalnya, tak jauh beda dengan laporan-laporan yang terpapar di media sosial (medsos), dengan nara sumber utama dari tim sukses atau tim pemenangan bersama barisan pendukungnya. Sementara, jika ada pemberitaan yang berbeda, atas perintah sang tuan, mereka pun ‘menyerangnya’ dengan berbagai dalih. Termasuk menyebut: HOAX! Begitu cerdas dan pintarkah. Atau, sekali lagi karena ketidaktahuan dan atas order sang tuan?

Padahal, karya jurnalistik dari seorang wartawan, jelas berbeda dengan jurnalisme warga semacam medsos. Ironisnya, sang wartawan atau media yang patut diduga telah mendapat news by order itu, saling membenarkan dan ‘menghardik’ jika ada pemberitaan yang sudah tak sejalan dengan order sang tuan atau tim pemenangannya.

Nah, akibatnya muncul saling ‘menghukum dan klaim’ kebenaran dari para pihak dengan menghilangkan logika jamak (validasi, akurasi dan data pembanding) dari sumber berbeda. Misal, menunggu perhitungan hasil akhir dari KIP Aceh dan mendorong para pihak untuk menghargai aturan main yang ada. Situasi ini, di satu sisi sungguh memprihatinkan tapi di sisi lain boleh jadi wajar. Sebab, mereka butuh pengakuan dari sang tuan.

Sebaliknya, bagi saya tidak! Apa pun itu, kami tetap berdiri tegak, menjadi media pembanding dan penyeimbang dari proses Pilkada Aceh 2017 yang akan segera berakhir. Soal tudingan, hujatan (bahkan) mengarah ke soal pribadi atau bahkan tidak populer di mata salah satu kandidat, tim sukses atau bahkan keluarganya. Bagi saya itu biasa dan resiko dari sebuah sikap untuk tidak melakukan serta menyajikan informasi (berita) siap saji, sesuai selera pihak tertentu. Karena, kami sadar tak mungkin dapat membuat semua pihak puas.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - yuk ikutan polling-nya! -

Komentar

Loading...