Seminar Peningkatan Kompetensi Wartawan dan Humas Pemerintah tentang Industri Kelapa Sawit Indonesia

Permintaan Ekspor Kelapa Sawit Menurun

Permintaan Ekspor Kelapa Sawit Menurun
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Direktur Eksetutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Ir. Nukti Sardjono, M.Sc, diwakili Spokesperson of IPOA, Taufan Mahdi menyampaikan. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia, serta penyumbang devisa terbesar untuk Negara.

Itu disampaikan saat memberi materi dalam acara seminar Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi, di suatu hotel, di Banda Aceh. Rabu, 17 Juli 2019.

Katanya, Indonesia merupakan produsen kelapa sawit di dunia, dengan luas lahan 14,03 juta hektar dan 47 juta ton produksi per tahun. Disusul Malasyia yang menghasilkan 20 juta ton pertahun.

“Sebab itu, Negara Indonesia mengusai produksi minyak sawit di dunia. Padahal tanaman kelapa sawit, bukan tanaman Indonesia. Namun dapat tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia dan Malasyia,” jelasnya.

Menurutnya, dengan adanya kebun kelapa sawit di Indonesia, termasuk Aceh sekarang ini, dapat menyerap 5,5 juta tenaga kerja dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung.

“Ada pun, lahan kelapa sawit milik rakyat sebanyak 59 persen dan perkebunan besar milik pemerintah, dan swasta sebanyak 41 persen,” ungkapnya pada saat memberikan materi kepada anggota seminar.

Selain itu dirinya mengatakan, manfaat kelapa sawit bukan hanya untuk minyak nabati. Tapi bisa juga digunakan untuk bahan utama kosmetik.

“Tak hanya ini, perusahaan besar Negara Eropa menggunakan sawit menjadi bahan baku energi,” ungkap Taufik.

Sekarang ini, minyak nabati dari kelapa sawit sedang bersaing dengan minyak Amerika dan Eropa. Amerika punya minyak nabati yang terbuat dari soya (kacang kedelai), sedangkan Eropa punya minyak Sun Flower (bunga matahari) dan lainnya.

“Pasar internasional 20 tahun lalu, dikuasai minyak kedelai. Tapi sekarang yang menguasai pasar minyak nabati yaitu minyak kelapa sawit,” kata laki-laki yang diketahui mantan wartawan itu.

Kata Taufik, menanam kelapa sawit lebih efisien, dibandingkan tanaman bunga matahari dan kedelai. Namun banyaknya isu yang beredar, mengatakan kelapa sawit tidak menguntungkan untuk ditanam.

“Pada April 2019 ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan 18 persen dibandingkan total ekspor pada Maret lalu. Dari 2,96 juta menurun menjadi 2,44 juta ton. Sementara itu, total ekspor khusus CPO (Crude Palm Oil) dan turunannya pada April 2019 mencatat penurunan 27 persen atau dari 2,76 juta ton di Maret menurun menjadi 2,01 ton di April. Sementara pada bulan Mei total ekspior 2,40 juta ton meningkat 18 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” kata Taufik.

Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Aceh, Sabri Basyah menyampaikan, permintaan kelapa sawit di Aceh menurun. Sedangkan stok kelapa sawit meningkat, lima ribu ton.

“Sedangkan harga kelapa sawit juga turun. Itulah yang menyebabkan harga pada level petani di Aceh rendah. Tapi sebenarnya kita sedang mencari terobosan bagaimana caranya harga yang di Pengusaha Kelapa Sawit (PKS) atau prabrik kelapa sawit sama dengan harga para petani,” ungkapnya.

Kata Sabri, upaya tersebut hanya bisa dilakukan, kalau bersama sama. Dalam hal ini, kepala dinas, pemerintah provinsi, sama-sama mencari jalan keluar supaya perbedaan harga tidak terlalu besar.

“Sehingga harga yang terjadi di pabrik dengan harga yang diterima petani itu tidak terlalu jauh berbeda. Sekarang angkanya luar biasa, harga sesungguhnya itu di atas seribu, namun petani cuma menerima Rp 600 ribu saja. Inilah masalah yang selayaknya menjadi tugas bersama,” jelasnya.

Selain itu, GAPKI harus ikut membina anggotanya supaya mereka bergerak dalam aturan koridor pemerintah dengan mematuhi aturan yang sebenarnya.

“Proses perolehan izin sampai menanam itu cukup panjang. Melalui banyak dinas dan ada aturan-aturan. Peraturan yang harus dipatuhi lebih banyak ke tata ruang, jika ikut tidak ada masalah. Namun akhir-akhir ini ada peraturan yang sedikit memberatkan untuk para pengusaha kelapa sawit, seperti masalah gambut. Di Malasyia tidak ada dimasalahkan hal itu,” ungkap Ketua GAPKI Aceh itu.***

Komentar

Loading...