Perilaku Berbohong

Perilaku Berbohong
Tempo.co

Hingga kini, seorang wartawan pemula di MODUS ACEH, diwajibkan membaca buku atau menonton Film The All President Man (1976). Maklum, film ini bercerita tentang kisah nyata kasus ‘Watergate’ yang menjerat Presiden AS Richard Nixon, karena dituduh melakukan peyadapan di markas Partai Demokrat, Kompleks Watergate, Washington, Amerika Serikat.

Nixon berasal dari Partai Republik, tentu membantah kasus tersebut. Bahkan menuduh balik ada upaya untuk menjatuhkan dirinya dan Partai Republik. Senat AS, kemudian mengadakan penyelidikan atas kasus ini dan terbukti bahwa penyadapan itu dilakukan dengan sepengetahuan Gedung Putih.

Akhirnya, 30 Juli 1974, atas paksaan Pengadilan Tinggi AS, Richard Nixon menyerahkan kaset rekaman skandal Watergate dan mengakui bahwa benar mereka telah melakukan penyadapan dan berbohong atas berbagai peryataan sebelumnya.

Tentu, bukan hanya Presiden Nixon yang terkenal karena skandal dan kebohongan yang dibuatnya. Reputasi jelek itu juga melanda Bill Clinton yang akhirnya jatuh juga karena seorang perempuan dan berbohong.

Skandal tersebut bermula pada tahun 1995 ketika Clinton memulai hubungan asmara dengan seorang gadis cantik bernama Monica Lewinsky, lulusan dari Lewis & Clark College yang dipekerjakan untuk bekerja sebagai magang di Gedung Putih pada masa jabatan pertama Clinton.

Hubungan itu terus berlanjut sampai Lewinsky pindah bekerja di Pentagon. Awalnya sama seperti Nixon yang membantah perselingkuhanya, Clinton juga membantah dirinya terlibat hubungan asmara. Namun pada akhirnya karena berbagai bukti yang terus disebar. Kasus ini terbongkar karena curhat Monica pada teman kerjanya di Pentagon, Linda Tripp, yang diam-diam merekam percakapan telpon mereka.

Tripp menyerahkan bukti kaset rekaman itu pada Kenneth Starr, Independent Counsel yang sedang menyelidiki sejumlah kasus yang melibatkan Clinton, termasuk skandal Whitewater, Filegate, dan Travelgate. Clinton tak bisa lagi berkelit selain mengakui bahwa ia memang menjalin hubungan asmara dengan Monica.

***

Entah kebetulan atau memang sudah menjadi tabiat. Bisa jadi mahluk yang paling banyak berbohong adalah politisi. Mengapa? karena pada dasarnya kegiatan politik adalah sebuah kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan berbohong.

Dalam banyak literasi sejarah politik mencatat, politik dan kebohongan adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Termasuk para politisi di negara kiblat demokrasi seperti Amerika Serikat.

Prilaku berbohong dan aktivitas politik adalah sebuah necessary evil ( kejahatan yang diperlukan), yang dipahami semua politisi bahwa tindakan tersebut adalah buruk, tapi mesti dilakukan. Namun, harus diakui pula banyak faktor yang membuat politisi tidak bisa keluar dari kondisi ini.

Pertama, menyangkut sistim yang berlaku pada era politik pencitran yang begitu dominan dalam dunia politik. Sebuah citra lebih penting dari pada kebenaran itu sendiri. Ini disebabkan beberapa faktor, salah satunya adalah menjaga dan memproteksi kekuasaan.

Sebagai contoh apa yang dilakukan Nixon dan Clinton, mereka berusaha sekedar mempertahankan kekuasaannya untuk sementara, sambil menunggu apakah peradilan bisa membuktikan apa yang disebut sebagai kebenaran faktual. Kedua, berhubungan dengan pekerjaan seorang politisi itu sendiri.

Yang paling dominan dari seorang politisi adalah kemampuan ‘rhetor’ atau disebut retorika. Seorang politisi harus bisa berbicara, merayu dan mempengaruhi. Karena politisi dipilih untuk berbicara yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan.

Itu sebabnya jangan heran, untuk menyenangkan publik atau pemilihnya, seorang politisi rela berbicara bohong agar apa yang dibicarakannya tetap dipercaya pemilih dan konstituenya. Karena itu, standar ganda moralitas dalam politik kebohongan, jika dibenturkan dengan moralitas adalah hal yang sangat sulit dipadukan dalam dunia politik.

Karena dalam prosesnya seorang yang ingin menjadi ‘politisi’ utamanya di negeri ini, tak kecuali Aceh mesti mampu memberikan bujuk rayu secara persuasi kepada pemilih dengan jalan membentuk propaganda atas dirinya, partainya, dengan serangkaian cara agar tampak ideal dan agung.

Bahkan mungkin manusia setengah dewa. Itulah politik, sebagai sebuah seni yang penuh dengan lakon, citra dan yang pasti cara memaparkan kebohongan dengan sistimatis. Sehingga sangat sulit menggunakan standar moralitas bagi politisi, setidaknya yang bisa menjadi catatan kita adalah dampak dari kebohongan yang dilakukan.

Jika kebohongan itu berhubungan dengan prilaku korup bahkan mencuri uang negara, maka sanksi yang mesti diberikan adalah standar hukum bukan standarisasi moralitas. Karena moralitas akan hilang ketika berhadapan dengan tujuan politik itu sendiri, merebut dan mempertahankan kekuasaan!

***

Secara psikologis, berbohong itu dapat disebut sebagai penyakit. Para ahli menyebutnya mythomania atau penyakit suka berbohong demi pengakuan. Istilah mythomania pertama kali diperkenalkan  seorang psikiater bernama Ferdinand Dupré tahun 1905.

Menurutnya, mythomania adalah kebohongan yang dilakukan seseorang bukan dengan tujuan menipu orang lain. Tapi, membuat dirinya sendiri percaya bahwa kebohongan yang dia buat adalah nyata. Yang membedakan mythomania dengan kebohongan biasa adalah,  penderita mythomania sering tidak sadar bahwa dia sebenarnya sedang berbohong dan menceritakan khayalan yang ada dalam kepalanya.

Kebohongan demi kebohongan yang dilakukan, cenderung di luar kesadaran. Artinya, dia tidak tahu atau tak sadar bahwa orang lain akan merasa terganggu dengan kebohongannya. Sebab, yang terpenting bagi dirinya adalah mendapat pengakuan dari orang-orang di sekelilingnya. Dan, pengakuan terhadap ‘kenyataan’ yang ingin ia wujudkan demi melarikan dirinya dari kenyataan, ia terima dan lakukan dengan tanpa rasa menderita ataupun perasaan bersalah.

Salah satu penyebab mythomania adalah kegagalan-kegagalan dalam kehidupannya. Bisa jadi kegagalan dalam studi, masa kecil, masalah keluarga, kisah-kisah sentimentil, bahkan dalam pekerjaan (namun jangan keliru, pada saat ia mendapati orang lain mulai meragukan apa yang ia percaya dan ia menjadi sadar telah berbohong).

Singkatnya, ia ingin melarikan diri dari semua image (citra) tentang dirinya sendiri. Jadi, semakin orang lain mempercayai kebohongannya, semakin ia terbantu untuk lepas dari image nyata tentang dirinya yang sulit ia terima.

Menurut Wikipedia, pembohong patologis atau mythomaniac adalah orang yang memiliki perilaku yang terbiasa atau selalu terdorong untuk berbohong. Pathological lying is falsification entirely disproportionate to any discernible end in view, may be extensive and very complicated, and may manifest over a period of years or even a lifetime. (kebohongan patologis adalah pemalsuan yang sama sekali tidak proporsional dengan sudut pandang yang dapat dilihat, mungkin luas dan sangat rumit, dan dapat terwujud dalam periode bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup).

Karena itu, kebohongan patologis merupakan suatu kebohongan yang dapat melebar dan menjadi sangat rumit untuk waktu yang sangat lama bahkan bisa sepanjang hidup si pembohong!

Berbeda dengan kebohongan biasa yang membuat seseorang tampak kaku dan salah tingkah saat berbohong. Penderita mythomania justeru sangat lihai dalam meyakinkan orang-orang ketika ia bercerita. Seolah-olah memang itulah hidupnya. Seorang mythomania akan mengesankan kalau dirinya adalah pribadi positif dan sempurna pada orang lain.

***

Walau tak sama persis dengan berbagai realitas tadi, perilaku yang kini menimpa Ketua DPD I Partai Golkar Aceh TM. Nurlif sepertinya tak jauh beda. Itu terkait soal kasak kusuk aliran dana Rp 500 juta dari Tarmizi A. Karim-T.Maksalmina Ali, pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada kontestasi Pilkada, 15 Februari 2017.

Syahdan, Ketua Harian dan Sekretaris DPD I Partai Golkar Aceh HM Yusuf Ishaq dan T.Maksalmina Ali yang mengungkapkan fakta tersebut, saat rapat terbatas Pengurus DPD I Partai Golkar Aceh bersama Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah I, Sumatera Utara dan Aceh Andi Sinulingga serta Kordinator dan Sekretaris Wilayah (Korwil) Aceh DPP Partai Golkar, H. Firmandez dan Kaharuddinsyah di Kantor Golkar Aceh, 28 April 2017 di Banda Aceh. Nah, dari sanalah kabar tak sedap itu terkuak.

Kotak pandora tadi semakin terbuka ketika Nurlif mengaku tak menerima langsung dana Rp 500 juta dari Tarmizi A. Karim. Termasuk telah membuat laporan pertanggungjawaban kepada Ketua Tim Pemenangan Tarmizi Karim-T. Maksalmina Ali yaitu Sofyan Dawood.

Namun, walau telah mengundurkan diri dua pekan sebelum hari H dan kembali mendukung paslon Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Pendiri Partai Nasional Aceh (PNA) ini mengaku, dana Rp 500 juta tadi, diterima langsung TM.  Nurlif dari bendahara tim yakni, Dedi dalam bentuk check. Berbohongkah Nurlif?

Setidaknya, dari fakta yang ada dan berdasarkan pengakuan Sofyan Dawood, jelas sudah mantan koruptor kasus travel check pemilihan Gubernur Bank Indonesia Miranda Gultom Rp 500 juta ini, menerima sendiri dana tersebut, bukan melalui orang kepercayaan, seperti disampaikan dalam wawancara khusus dengan media ini. Lantas, seperti kisah kebohongan tersebut? Ikuti kupasan lengkap dan mendalam pada edisi cetak Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH,  terbit Senin, 15 Mei 2017.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...