Tuanku Mirza Keumala, Bukan Sahabat Biasa (bagian dua)

Pelobi Ulung dan Sosok Komunikator Santun

Pelobi Ulung dan Sosok Komunikator Santun
Foto: Dok. Pribadi (Facebook Tuanku MIrza Keumala)
Rubrik

Ibunda saya Cut Aliran bersama ayahanda Tuanku Abdul Jalil. Saya tidak terlalu sukses mewarisi kesabaran seperti almarhum ayah. Namun ibunda Cut Aliran serba sedikit sukses mengajari saya diplomasi, terimakasih ibunda, saya memahami faedah nya hari ini... Selamat Hari Ibu (Facebook Tuanku Mirza Keumala, 22 Desember 2016).

MODUSACEH.CO | ENTAH itu sebabnya, Tuanku Mirza Keumala memiliki teman dan sahabat lintas profesi, generasi bahkan agama. Selain itu, dialah satu-satunya putra Aceh yang mampu mengisi dua eposide politik di negeri ini. Orde Baru dan Reformasi.

Bayangkan, saat Orde Baru memimpin negeri ini, Tuanku Mirza berhasil masuk dalam lingkaran Keluarga Presiden Soeharto (Cendana). Dia menjadi staf khusus Mbak Tutut, putri Pak Harto. Dia juga dipercaya bersama almarhum Rinto Harahap, mengelola PT. Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) Jakarta. Salah satu cikap bakal dan pioner lahirnya tevelisi swasta di Indonesia.

Nah, dari sanalah dia membangun relasi dan lobi. Semua itu didukung kemampuan komunikasi yang santun dan mumpuni. Dan jarang atau hampir tak pernah terjadi, komunikasinya menyinggung perasaaan orang lain. Kalau pun dia mengkritik, mengunakan kata pilihan dan sambil bercanda, sehingga orang yang disasar pun tak tersinggung atau marah.

20190227-almarhum-tuanku-mirza-keumala3

Sebaliknya, dia pun bukan tipe egois. Jika merasa bersalah kepada teman, dengan lugas dan jiwa besar untuk meminta maaf. “Sory boss, saya salah tadi. Saya minta maaf,” kata dia sekali waktu kepada saya. Padahal, saat itu saya pura-pura marah dan tersinggung. Sekedar ingin menguji karakter dan integritasnya dalam bersahabat.

Saya pertama kali mengenalnya, saat Tuanku Mirza Keumala menjadi staf Humas di PT. Pupuk Iskandar Muda (PT. PIM), akhir tahun 80-an. Ketika itu, dia juga mendirikan dan mengelola Radio PT. PIM dan saya menjadi penyiar di Radio Istiqamah BDI PT. Arun. Walau tak terlalu akrab, tapi diantara kami mulai ada komunikasi. Sesekali, saya ke Komplek PT. PIM di Krueng Geukuh dan bertemu dengannya.

Dia banyak bercerita tentang pengalamannya saat pertama kali menjadi wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Begitupun, hubungan dan komunikasi kami sempat terputus beberapa saat, ketika almarhum sudah pindah kerja, menjadi staf khusus Mbak Tutut di Jakarta.

“Wah, sudah jadi politisi sekarang,” tegur dia, saat mendampinggi Mbat Tutut datang ke Lhokseumawe. Ketika itu, saya menjadi Pengurus DPD II AMPI Aceh Utara.

Nah, kehadiran Mbak Tutut ke Lhokseumawe, digunakan Bupati Aceh Utara, Ramli Ridwan saat itu, untuk meminta pendirian PT. Aromatic yang dikelola Tomi Mandala Putra (Tomi Soeharto) adik Mbak Tutut. Dan, saya dipercaya untuk menyampaikan itu dalam Forum Temu Kader Golkar di Gedung Pertemuan Exxon Mobil Oil, Uteunkot, Cunda, Kota Lhokseumawe.

Sejujurnya, mendapat sapaan itu, saya sangat tersanjung. Betapa tidak, dari seorang staf khusus anak Presiden Soeharto. “Ini nomor telpon kantor saya. Kalau ke Jakarta jangan lupa hubungi saya,” kata Tuanku Mirza yang saat itu sudah menjadi Pengurus DPP Partai Golkar.

Antara percaya dan tidak. Lagi-lagi saya dibuat kagum dengan sikapnya yang ramah dan santun. “Siap Tuanku,” jawab saya. “Panggil Mirza aja,” katanya singkat. Hasilnya, tak lama kemudian, Pabrik Aromatic berdiri di Rancong, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Walau akhirnya tutup, seiring dengan meningkatnya eskalasi konflik bersenjata membalut Aceh ketika itu.***

Komentar

Loading...