Breaking News

Pandangan Rektor UIN Terkait Hukuman Cambuk Tertutup

Pandangan Rektor UIN Terkait Hukuman Cambuk Tertutup
Rektor UIN Ar-Raniy Prof Farid Wajdi Ibrahim. Foto: Viva

Banda Aceh | Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Farid Wajdi Ibrahim MA, turut menanggapi terkait rencana Pemerintah Aceh yang akan memberlakukan uqubat (hukuman) cambuk secara tertutup. Menurut Rektor UIN Ar-Raniry, tatacara pelaksanaan hukuman cambuk bagi pelanggar syariat Islam, sebenarnya sudah diatur dalam Qanun Aceh.

"Pelaksanaan hukuman cambuk sudah diatur di Qanun Aceh, bagaimana prosesnya pasti sudah dijelaskan di dalam Qanun. Pelaksanaan hukuman cambuk itu dilakukan secara terbuka di depan banyak orang, hanya saja kan disitu diatur siapa saja yang boleh melihat dan yang tidak boleh melihat," ujar Farid Wajdi saat dimintai tanggapanya oleh MODUSACEH.CO pada Jum'at (13/4/2018).

Farid Wajdi menjelaskan, dalam qanun tentang prosesi hukuman cambuk sudah disebutkan tidak boleh dihadiri oleh anak-anak. "Di dalam Qanun dijelaskan bahwa yang tidak boleh dilihat adalah oleh anak-anak, karena anak-anak memang belum pantas melihat hal-hal seperti ini, karena dapat berpengaruh pada psikologi anak," jelasnya.

"Sedangkan masyarakat umum lainnya yang sudah mencapai usia dewasa, tidak masalah kalau mau melihat bagaimana proses pelaksanaan hukuman cambuk itu dilakukan," tambahnya. 

Terkait pelaksanaannya yang ingin dilakukan Pemerintah Aceh di tempat tertutup, Rektor UIN Ar-Raniry menyebut boleh-boleh saja.

"Bisa jadi yang tertutup itu adalah tempatnya yang dibuat khusus untuk tempat cambuk bagi orang-orang yang melanggar syariat Islam, atau tertutup untuk anak-anak dan kamera. Saya rasa itu boleh boleh saja," ungkap Farid Wajdi.

Putra Aceh Besar ini turut menyinggung, alasan tidak boleh membawa kamera pada saat uqubat cambuk berlangsung, karena hal itu membawa dampak negatif bagi masa depan pelaku pelanggar syariat Islam dan keluarganya di masa depan.

"Kalau hukuman cambuk dilakukan tertutup untuk anak-anak dan kamera, saya rasa itu tidak ada masalah, karena memang dalam Qanun disebutkan begitu. Hukuman cambuk tidak boleh dihadiri oleh anak-anak. Kemudian kenapa tidak boleh bawa kamera, karena ini juga berpengaruh bagi masa depan pelaku dan keluarganya," beber Farid Wajdi.

*Selengkapnya baca di edisi cetak

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...